50 Pelajar SMAN 5 Lokseumawe Kunjungi 4 Situs Samudera Pasai

Sebanyak 50 orang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 situs Kesultanan Samudera Pasai: Makam Sultan Malik Ash-Shalih, Jrat Puet Ploh Puet (Makam 44), Makam Putroe Nahrisyah, Makam Batee Balee, Ahad 11 Januari 2015. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage). Foto: Almuzalir.

Sebanyak 50 orang pelajar SMA (Sekolah Menengah Atas) Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 kumpulan makam yang menjadi situs Kesultanan Samudera Pasai. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage) dengan seragam khas hitamnya.

Pemimpin kunjungan pelajar tersebut, Almuzalir, mengatakan bahwa itu adalah kunjungan wisata sejarah kedua yang dilakukan oleh pelajar SMAN 5 setelah meuseuraya pada 21 Desember 2014 di makam Tgk Bak Leumbee, gampong Ulee Kareueng, Indra Puri, Aceh Besar, yang dipawangi oleh perkumpulan Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh).

Sebanyak 50 orang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 situs Kesultanan Samudera Pasai: Makam Sultan Malik Ash-Shalih, Jrat Puet Ploh Puet (Makam 44), Makam Putroe Nahrisyah, Makam Batee Balee, Ahad 11 Januari 2015. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage). Foto: Almuzalir.
"Sepulang kembali ke tanah Samudera Pasai, rasa ingin tahu terhadap sejarah daripada sekalian pelajar SMAN 5 Lhokseumawe pun semakin besar. Semangat mereka yang menggebu-gebu tidak bisa dibendung lagi, serta-merta mereka pun mengajak untuk didampingi ke situs Kesultanan Samud
ra Pasai," kata Almuzalir, guru SMAN 5 Lhokseumawe yang menjadi pelopor wisata sejarah.

Dalam penziarahan yang dilakukan pada Ahad 11 Januari 2015 ini, murid-murid didampingi oleh Al Muzalir, Tuti Meutia, Asmaulhusna, dan Zulfadli. Dengan penuh semangat, mereka mengunjungi komplek makam Sultan Malik As-Shalih, kemudian ke Makam 44, kumpulan Makam Putroe Nahrisyah, dan yang terakhir ke situs Makam Batee Balee.

"Untuk mengangkat lagi sejarah Aceh, kita mesti mengenalkannya pada orang muda yang masih berada di bangku sekolah," tegas Almuzalir.

Kepala Sekolah SMAN 5 Lhokseumawe, Nuraini, M. Pd, mendukung penuh pelaksanaan pelestarian sejarah Aceh. Dia telah menyusun program rutin sekolah ke depan dengan memasukkan wisata sejarah menjadi bagian ekstra kurikuler di sekolah SMA Negeri 5 Lhokseumawe.

"Ini adalah hal yang sangat positif agar generasi Aceh ke depan tahu bagaimana kejayaan Kesultanan  Samudra Pasai dan kegemilangan Kesultanan Aceh Darussalam, dan bagaimana hebatnya leluhur kita orang Aceh. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi," kata Nuraini.

Kepala sekolah ini mengharapkan supaya setiap sekolah yang ada di Kota Lhokseumawe dan wilayah Aceh lainnya bisa menggalakkan pelajar-pelajarnya untuk terlibat juga dalam pelestarian sejarah. Nuraini ingin dunia pendidikan bertindak sesegera mungkin dalam memperkenalkan sejarah, adat dan budaya kita Aceh kepada generasi.

Sebanyak 50 orang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 situs Kesultanan Samudera Pasai: Makam Sultan Malik Ash-Shalih, Jrat Puet Ploh Puet (Makam 44), Makam Putroe Nahrisyah, Makam Batee Balee, Ahad 11 Januari 2015. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage). Foto: Almuzalir.
"Kami harapkan kepada pemerintah agar lebih, lebih, dan lebih berperan lagi dalam hal pelestarian sejarah, tidak ada gunanya status otonomi khusus serta predikat daerah istimewa apabila kita tidak melestarikan sejarah,” kata kepala sekolah.

Ramlan Yunus, anggota lembaga CISAH yang ikut memandu perjalanan tersebut menjelaskan kepada sekalian pelajar di kompleks makam periode pertama Samudra Pasai (Makam Malikussaleh). Ia menceritakan tentang asal penamaan negeri Sumatra (Samudra Pasai).

"Negeri ini telah dikenal oleh tokoh-tokoh penjelajah dunia sekira permulaan abad 13 Masehi, bahwa kawasan tersebut sudah dihuni oleh kaum muslimin. Kemudian hal tersebut sesuai dengan temuan beberapa makam yang bertarikh lebih awal dari nisan makam Malik Ash-Shalih (pendiri kesultanan Samudra Pasai)," kata Yunus.

Menurut Yunus, satu di antara tokoh itu Ibnu Mahmud yang makamnya di Lubok Tuwe Meurah Mulia. Di epitaf nisan makamnya wafat pada tahun 622H/1226M. Ini menjelaskan bahwa Ibnu Mahmud tersebut mangkat 74 tahun lebih awal dari Malik Ash-Shalih; 1297 M.

Sebanyak 50 orang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 situs Kesultanan Samudera Pasai: Makam Sultan Malik Ash-Shalih, Jrat Puet Ploh Puet (Makam 44), Makam Putroe Nahrisyah, Makam Batee Balee, Ahad 11 Januari 2015. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage). Foto: Almuzalir.
Anggota CISAH yang juga juru kunci kompleks makam Nahrasyiyah tersebut menguraikan tentang kepribadian serta asal usul Malik Ash-Shalih sesuai kajian Abu Taqiyuddin Muhammad yang termaktub dalam buku "Daulah Shalihiyyah di Sumatera".

Selesai di kompleks periode pertama di Beuringen, pelajar beserta rombongan berkunjung ke kumpulan makam "Jrat Peut Ploh Peut" (Makam 44) yang berjarak sekitar 200 meter dari sana dan berada di tengah tambak warga, disitu juga diperkenalkan dengan tokoh Samudra Pasai.

"Di antara puluhan nisan tampak dua yang istimewa, yaitu makam Raja Assuar dan Liy Afeng. Dari penaman tersebut diperkirakan keduanya adalah tokoh dari luar yang telah menyatu dengan negeri Pasai dan diberikan jabatan tertentu dalam pemerintahan," kata anggota CISAH, Khairul Syuhada di dalam kerumunan pelajar.

Setelah memasuki gampong Kuta Krueng, rombongan memasuki pemakaman periode II yang dikenal dengan makam Nahrisyah yang menurut penamaan orang setempat disebut Jrat Teungku Kuta Karang. Selanjutnya menuju kumpulan makam periode akhir (Batee Balee, di Gampong Meucat Blang Me, Kec Samudera.

Sebanyak 50 orang pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Lhokseumawe menziarahi 4 situs Kesultanan Samudera Pasai: Makam Sultan Malik Ash-Shalih, Jrat Puet Ploh Puet (Makam 44), Makam Putroe Nahrisyah, Makam Batee Balee, Ahad 11 Januari 2015. Kunjungan sejarah tersebut didampingi oleh 8 orang anggota lembaga CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage). Foto: Almuzalir.
Dalam pemanduannnya, delapan orang suka relawan kebudayaan anggota CISAH berbaur dalam semangat tinggi pelajar serta beberapa orang guru SMAN 5 Lhokseumawe yang menapaki beberapa kumpulan makam pembesar Kesultanan Samudera Pasai.

"Di sini kita menemukan sebuah kecintaan tinggi akan marwah yang diwarisi leluhur kita terdahulu, tidak semua bangsa memiliki kemulian ini, oleh karena itu mari kita menjadi pewaris  yang baik bagi pendahulu kita," ungkap Sukarna Putra, wakil ketua CISAH saat menutup kunjungan "Wisata Sejarah" setengah hari di kumpulan makam Batee Balee.

Oleh Thayeb Loh Angen, Pusat Kebudayaan Aceh - Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki