27 Feb 2015, P Ramlee ‘Pulang ke Aceh’

P Ramlee. Foto: murai.com.my
Tidak akan kuceritakan tentang riwayat hidup P Ramlee di sini karena itu telah banyak ditulis oleh pendahuluku yang jauh lebih paham tentangnya. P Ramlee adalah seniman berdarah Aceh yang berasal dari Paloh Pineung yang muncul setelah perang dunia II.

Yang terpenting daripada sekalian hal adalah, ada seorang anak Aceh yang mampu mengangkat dirinya menjadi bintang di tengah padamnya dunia seni di Aceh dan Asia Tenggara karena pengaruh perang. Ia lahir di masa Sumatera dalam penjajahan Belanda dan Semenanjung (Malaysia) serta pulau Tumasik (Singapura) dalam kekuasaan Britania Raya. Dengan kata lain, ketika P Ramlee lahir, negara Indonesia, Malaysia, dan Singapura belum pun ada.

Apabila ingin dibanding-bandingkan karya P Ramlee dengan karya seniman di Indonesia yang sezaman, dengan siapakah yang sesuai? Apakah dengan WR Supratman, Kusbini, Ibu Sud, yang semuanya menciptakan lagu-lagu nasional Indonesia di kemudian hari?

Pengaruh karya-karya P Ramlee diterima dan disukai oleh penduduk di lintas negara di Asia Tenggara tanpa bantuan kekuatan politik, bahkan kekuatan politik pernah mengucilkannya, akan tetapi gagal. Sementara nama lain, ada kemungkinan dikenal karena bantuan kekuatan politik.

Lalu, hikmah apakah yang bisa diambil oleh orang Aceh dari perjalanan hidup dan berkaryanya P Ramlee?

Semangatnya.

Ya, semangat P Ramlee dalam berkarya yang bermutu tinggi dan banyak, serta keaslian daripada sekalian karyanya itu adalah hal utama yang semestinya dipelajari dan diambil. Adakah orang Aceh kini telah melakukannya? P Ramlee yang si anak nelayan dari Paloh Pineung, Lhokseumawe, itu mampu membuat hal sedemikian besarnya, mengapakah orang Aceh yang merasa dirinya hebat sekarang tidak atau belum bisa melakukannya?

Setelah P Ramlee meninggal dunia, Malaysia telah mengambil keuntungan daripada P Ramlee dengan mengangkatnya menjadi penanda (ikon) negara itu, akan tetapi di masa hidupnya, P Ramlee menghadapi rintangan tanpa dukungan negara Malaysia.

Berangkat dari keberanian Malaysia mengambil keuntungan dari nama dan karya P Ramlee, maka bersediakah Aceh melakukan hal serupa? Kita ingin, orang Aceh berani menyebutkan lagi bahwa P Ramlee adalah seniman Aceh yang telah membesarkan seni musik dan film di Asia Tenggara, penduduk dunia yang sebahagian besar mengerti bahasa Jawi (Melayu).

Di Aceh, sebagai penghormatan untuk P Ramlee, setelah melaksanakan acara bincang kebudayaan bertajuk Kenang Rindu P Ramlee pada Sabtu 22 Nopember 2014, kini pada 27 Februari 2015, akan diadakan Malam P Ramlee Show. Itu setelah 41 tahun P Ramlee meninggal dunia.

Acara ini dimeriahi oleh pertunjukan musik menyanyikan lagu-lagu P Ramlee yang diiringi oleh Sekolah Musik Moritza, berlangsung di ACC Sultan II Selim gedung Turki. Berlangsungnya acara ini atas kerja sama PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki), pengurus ACC Sultan II Selim gedung Turki, Sekolah Musik Moritza, dan dukungan daripada wartawan senior H Sjamsul Kahar, sosiolog Turki Mehmet Ozay, dan pakar musik jazz Moritza Thaher. 

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki