Sang Raja Giok


Pada zaman pemerintahan sultan Meurah Pupok, hiduplah seorang pejabat kampung yang suka mengumpulkan batu giok dan membangga-banggakannya kepada siapapun yang ia jumpai. Sehari-harinya, ia mencari batu giok dan mengumpulkannya di dalam gudang yang besar.


Apabila ia berjalan, tangannya tergantung berat karena kesepuluh jemari tangannya terpasang cincin yang lingkaran dan batunya terbuat dari batu giok sebesar ibu jari kaki. Di lengan ia memakai gelang batu giok. Di lehernya ia punya kalung batu giok yang seberat buah mangga.


Apabila berbicara, ia selalu mengangkat tangannya, mengelus wajah, memengang telinga, supaya giok di tangannya terlihat. Dia terus mencari batu giok daripada seluruh negeri. Sampai suatu ketika, ia memerintahkan puluhan tukang batu dan bangunan untuk mengeluarkan semua batu giok yang berada di dalam gudangnya yang luas.

Maka berkumpullah sekalian tukang itu di sana. Mereka melakukan tugas masing-masing. Ada yang memecahkan batu giok menjadi tepung dijadikan semen. Ada yang memahatnya menjadi tiang, dinding, pintu, jendela, atap, dan sebagainya.


Ketika semen yang terbuat daripada batu giok siap, ia pun memulai memerintahkan membuat tapak (pondasi) rumah, semua bahannya daripada batu giok.

Sudah setahun, atap dari batu giok telah pun selesai dibangun, tinggal dinding dan lantainya. Memasuki tahun kedua selesailah sebuah rumah besar yang semua bahnnya terbuat daripada batu giok. Pemilik rumah itu pun disebut Raja Giok.


Tahun ketiga, kabar bahwa seorang pejabat kampung telah mendirikan sebuah rumah dari batu giok pun sampai ke telinga sultan, karena kehairanannya, maka sang sultan bersama pengawalnya pun mengunjungi rumah itu.

Setelah perjalanan tujuh hari tujuh malam, sampailah sang sultan dan pengawalnya ke rumah yang dituju. Namun, tiba-tiba angin puting beliung pun datang menyapu bersih seluruh kampung itu, termasuk rumah Raja Giok dan kafilah sang sultan.


Ada seorang anak lelaki kecil yang selamat karena saat disapu angin puting beliung ia dihempaskan ke atas tumpukan kapas yang membukit di kampung seberang sungai, yang berjarak sekira sepuluh batu dari kampung Raja Giok.

Dialah yang mencerikan kisah Raja Giok ini kepada sekalian orang, dan orang-orang itu pun menceritakannya kepada orang lain.


Masa pun berlalu, cerita itu terus diwariskan secara turun temurun, dan sampailah cerita itu kepadaku daripada bapakku daripada kakekku daripada buyutku. Karena ianya sampai kepadaku, makanya kini sampailah cerita ini kepadamu. Bahwa di masa dahulu kala ada seseseorang yang telah membangun sebuah rumah besar atau istana yang semua bahannya terbuat daripada batu giok.

Namun anak kecil itu tidak tahun siapa nama asli si Raja Giok itu. Dan sebagaimana bapakku dan kakeku dan buyutku, aku pun tidak tahun siapa nama anak kecil itu.

Dan, tatkala bapakku menceritakan itu kepadaku kemarin, aku pun terkesima, bahwa seseorang yang di mas hidupnya pernah membangun sebuah istana dari batu giok saja tidak diketahui namanya bahkan pusaranya bahkan sisa buatannya, apalagi aku ini yang tidak memiliki sebutir giok pun.

Cerpen: Oleh Thayeb Loh Angen, penulis novel Teuntra Atom (CAJP, 2009) dan Novel Aceh 2025 - 1446 H (Yatsrib Baru, 2014)
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki