Mizuar Duta Nisan Aceh

Perjalanan mengikuti meuseuraya yang dibuat oleh Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) atas ajakan Mizuar Mahdi, di Makam Meurah Ji-ee, Lam Blang Trieng, Lamreueng, Darul Imarah, Aceh Besar, Ahad 14 Desember 2014

Mizuar Mahdi tengah merekam gambar nisan Aceh di pemakaman Meurah Ji-ee, Lam Blang Trieng, Lamreueng, Darul Imarah, Aceh Besar, 14 Desember 2014. Foto: Lodins.
Ini adalah kali ketiga saya mengunjungi kegiatan pembersihan dan penelitian nisan-nisan Aceh yang tersebar di seluruh penjuru negeri yang dilakukan secara suka rela. Kali ini, meuseuraya dibuat di pemakaman Meurah Ji-ee, Lam Blang Trieng, Lamreueng, Darul Imarah, Aceh Besar.

Pagi menjelang siang, Ahad, 14 Desember 2014, saya menghubungi Mizuar untuk kepastian acara yang digerakkannya. Ia adalah sekretaris sebuah perkumpulan pencinta benda bersejarah yang bernama Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh), sebuah perkumpulan pencinta sejarah yang awalnya haya berada di dunia maya bernama facebook.com.

Kemudian beberapa orang daripda mereka pun bergerak di dunia nyata dengan pemusatan kegiatan pada pembersihan makam-makam berbatu nisan Aceh. Sebagian besar lagi adalah pendukung secara moril dan kadang materil, kebanyakan mereka memiliki organisasi sendiri yang berada di Aceh atau luar Aceh.

Sebagaimana biasanya, kegiatan meuseuraya hari ini dipawangi oleh Mizuar Mahdi dengan Mapesa-nya yang didukung oleh orang-orang dari beberapa organisasi kebudayaan, sebagai bentuk persaudaraan.

Saya dan Lodins pun berangkat melalui Pango lalu melintasi Batoh dan melalui Lampeuneurut, menuju Lam Blang Trieng. Jalan-jalan di Banda Aceh pada hari Ahad lebih luang daripada biasanya, hari libur. Sesampai di gampong Lam Blang Trieng, saya tidak langsung menghubungi Mizuar Mahdi. Sebagaimana Ahad lalu, saya pun tersesat di sana. Lalu saya pun menghubungi pemuda keturunan Turki Bitai tersebut.

Setelah beberapa kali bertanya pada orang-orang di sekitar sana dan tersesat beberapa kali, kami pun menemukan Makam Meurah Ji-ee. Yang terakhir, kami bertanya pada orang yang tengah menanam padi, lalu dia menunjuk bukit kecil yang ditumbuhi pehon rindang, sekitar lima puluh meter di hadapannya, terlihat langsung karena antara tempat kami berdiri dengan Makam Meurah Ji-ee adalah padi-padi yang baru ditanam.

Begitu melihat ke arah yang ditunjuk terlihat kerumunan orang dan suara Mizuar Mahdi memanggil. Ternyata, itu hanya beberapa ratus meter dari tempat saya menikung untuk pulang pada Ahad lalu.

Setelah meletakkan kendaraan di tepi jalan berbatu yang dipayungi oleh pohon rindang. Saya mencari jalan masuk ke pemakaman tersebut. Harus melalui sebuah jambo pandai besi yang merupakan milik penjaga pemakaman tersebut.

Bukit kecil tempat makam itu dikelilingi oleh kulam atau sungai kecil. Saya tidak tahu mengapa sungai itu digali. Mungkin supaya bukit makam tidak akan digerus air bah atau apa karena sudah ada aliran air di sekelilingnya, pikir saya.

Selain Mizuar Mahdi, di sana telah ada Duta Museum Aceh Mujiburrizal, Syahrial, Muammar dari SILA (Sejarah Indatu Lamuria Aceh), Edi dari Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh), Khairul dan seorang lagi dari anggota CISAH (Central Information for Samudera Pasai Heritage), Teuku Rizasyah Mahmudi dari FSKN (Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara) - orang ini datang di belakang saya lalu ia ikut tersesat karena mengikuti saya, akan tetapi kemudian dia lebih dahulu sampai karena saya salah jalan lagi.

handai taulan yang telah lebih dahulu berada di sana tenah sibuk menggali sebuah nisan besar yang rebah untuk kemudian ditegakkan kembali ke tempat asalnya. Tali, pacul, cangkul, dan parang adalah benda wajib disertakan di setiap meuseuraya ini.

“O, beginilah rupanya kerja bakti orang-orang ini, setelah semua diletakkan ke tempat asalnya, dibersihkan dan dibaca oleh peneliti sejarah dan Kebudayaan Islam yang filsuf Taqiyuddin Muhammad. Sebuah perjuangan secara suka rela yang butuh kerja sama kuat,” seru saya di dalam hati.

Saya pun mencari luang supaya bisa ikut menggali atau mengangkat nisan yang rebah. Mengotori tangan dengan tanah untuk menyelamatkan benda bukti sejarah adalah hal yang penting, pikir saya. Untung ada Mizuar dan rekan-rekan Mapesa-nya dan CISAH mengajak-ajak orang untuk acara begini. Kalau tidak, nisan-nisan itu akan terus rebah dan tertimbun semak belukar dan tanah.

Dari ketinggian pemakaman Meurah Ji-ee, terlihat pemandangan asli perkampungan Darul Imarah yang damai. Peneliti sejarah kebudayaan Islam yang filsuf tidak terlihat hari itu sebagaimana pada Ahad lalu. Mungkin tengah memeriksa hasil penelitiannya kemarin di pemakaman Meurah II, pikir saya.

Dua nisan berukuran besar pun telah berhasil diangkat dari keterbenamannya, lalu didirikan kembali dengan rapi. Untuk mengangkat sebuah nisan yang tertanam, perlu usaha keras dan kehati-hatian. Kadang, sebuah nisan besar rebah dan terbenam menindih nisan lainnya. Nisan yang tertimbun di sisi atau di bawah nisan yang rebah teratas biasanya terluka kena pacul atau cangkul.

Tatkala tengah hari tiba, sebagian orang sudah haus sementara minuman belum didatangkan. Maka Edi, seorang anggota Mapesa yang merupakan penduduk asoe lhok di sana meminta kelapa kepada penjaga makam itu dan dipersilakan untuk memanjat pohonnya sendiri untuk dipetik buah berair itu. Maka seorang pun memanjat kelapa tanpa seulingkreuet.

Dari atas jalan pematangan sawah terlihat Agam Usmani muncul. Ia datang seorang diri. Beberapa saat setelahnya muncul pula dua orang perempuan anggota Mapesa. Menjelang azan zuhur, Ipan dan seorang temannya datang membawa kue-kue dan minuman.

Kami menyelesaikan pekerjaan hari itu, mendirikan kedua nisan besar yang telah berhasil diangkat. Dua orang anggota CISAH mengambil air dari kulam dan membersihkan ukiran di nisan yang telah didirikan. Mereka menyikat ukiran-ukiran itu.

Pengalaman bertahun-tahun mengikuti penelitian Taqiyuddin Muhammad membuat mereka tahu apa yang harus dilakukan tanpa perintah, seru saya di dalam hati seraya melihat Mizuar ikut membantu dan merekam gambarnya.

Setelah semua dianggap selesai, kami pun keluar dari pemakaman tersebut. Mujiburrizal dan handai taulan lainnya menunaikan sembahyang zuhur di dayah dekat makam di seberang persawahan. Saya dan Lodins terus keluar dan menunaikan sembahyang zuhur di masjid utama Darul Imarah, dekat jalan raya.

Dengan kegigihan Mizuar megajak orang-orang untuk membersihkan nisan-nisan Aceh untuk diselamatkan dan kemudian diteliti dan kemudian lagi dijadikan tempat belajar sejarah, saya berpikir, pemuda keturunan Turki di Bitai itu patut diberikan penghargaan dengan lakab Duta Nisan Aceh atau Orang Kaya Nisan Aceh.

Nisan Aceh adalah batu nisan berukir tulisan data sejarah tentang siapa yang dimakamkan di bawahnya. Orang Malaysia menyebutnya 'batu Aceh', misalnya di Johor. Ada sebuah buku tebal berisi nisan-nisan Aceh dengan judul 'Batu Aceh Johor'.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT).

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki