Joel Pase Luncurkan "Aceh Pusaka" di Travelog Aceh ke Istanbul


“Aceh tanoh lonsayang peunulang raja-raja
Aceh beutapeutimang beugot jipandang le donya
bek le karu tamtum su beude
bek le pake ngon syedara
amanah po beumurah hate kuta ngon gle meuseunia

Aceh ngon Turki na seujarah
kalon kisah sicupak lada
Ukeue Aceh tapeuwoe marwah
ban seujarah sultan diraja”
-Joel Pase

Dari Kiri: Joel Pase, Baiquni Hasbi, Ariful Azmi Usman dalam acara Travelog Aceh ke Istanbul yang dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki) bekerja sama dengan YTB (T.C. Başbakanlik) Yurtdişi Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanliği di Sultan II Selim ACC (Aceh Community Center), Banda Aceh, Kamis malam 25 Desember 2014. Foto: Rezy Maulana/Khalis Sury.
Saya minta izin, meluncurkan lagu Aceh Pusaka ini di acara Travelog Aceh ke Istanbul malam ini,” kata Joel Pase seraya siap-siap bernyanyi.

Joel Pase adalah bintang lagu Aceh teratas sekarang. Lelaki ini punya kecakapan dalam beberapa bidang selain menyanyi. Dia seorang guru yang mencintai sejarah. Dan yang paling penting, dia seorang pemandu acara yang handal. Dengan percaya dirinya, dia pun menguasai panggung.


Keahliannya memandu acara dibuktikan pada bincang kebudayaan Travelog Aceh ke Istanbul: Sebuah Perjalanan Ariful Azmi Usman, di Sultan II Selim ACC (Aceh Community Center), Banda Aceh, Kamis malam 25 Desember 2014.
Acara tersebut dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki) berkerja sama dengan YTB (T.C. Başbakanlik) Yurtdişi Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanliği. Sejak 2013, pengurus Sultan II Selim ACC memberikan hak pakai tempat secara cuma-cuma untuk acara yang dibuat oleh PuKAT.

Joel Pase tampil memandu acara dan bernyanyi dengan pakaian khas Aceh, baju hitam berkancing kuning, celana hitam, dan sungket berdasarkan merah kuning.

Lagu berjudul “Saleuem Mulia” membuka acara tersebut. Yang terkesan dari penampilannya malam itu ialah, Joel Pase memandu acara Aceh dan Turki sebagai orang Aceh.

Bahasa Turki yang disebutkannya di acara hanyalah “Nasilsil” dan “Iyiyim” dan “Tesekkur Erderim” yang dipelajarinya beberapa menit sebelum acara pada pembicara Baiquni Hasbi yang mengambil S2 bidang sejarah di Ankara University, Turki.

Selain Joel Pase yang sudah menjadi bintang sebelum malam itu, ada dua orang lagi yang menjadi bintang acara, mereka adalah sejarawan muda Baiquni Hasbi dan jurnalis muda Ariful Azmi Usman. Ternyata, Joel Pase telah mengenal keduanya jauh tahun sebelum acara ini.

“Sejak dulu saya ingin ke Istanbul, akan tetapi kedua kawan saya yang impiannya ke pusat dunia tersebut tidak sebesar sayalah yang telah berkunjung ke sana,” kata Joel Pase di tengah acara yang disambut sorak-sorai hadirin yang berjumlah dua ratus orang lebih.

Baiquni Hasbi yang baru saja menerbitkan bukunya yang berjudul “Relasi Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Utsmani” berbicara tentang Aceh di mata penduduk dunia di masa silam. Aceh adalah bangsa besar yang paling kaya dan kuat, begitulah yang dikenal oleh dunia.

Penuturan sejarawan muda Baiquni anak daripada prof Hasbi Amiruddin ini telah membuat hadirin lebih mengenal Aceh dan hubungannya di dalam sejarah dengan Turki Usmani.

Mejelang Baiquni Hasbi menuturkan sejarah, Joel Pase menyanyikan lagu “Aceh Pusaka”. Itu adalah kali pertama ia nyanyikan lagu tersebut dengan diiringi musik di panggung di hadapan banyak pengunjung.

“Saya minta izin, meluncurkan lagu Aceh Pusaka ini di acara Travelog Aceh ke Istanbul malam ini,” kata Joel Pase seraya siap-siap bernyanyi.

Ariful Azmi Usman yang tengah menyelesaikan buku tentang perjalanannya ke Istanbul, menceritakan apa saja pengalaman itu selayang pandang, selama sebulan ia di kota dua benua dalam mengikuti program Harman Intership yang ditugaskan di kantor televisi negara Turki TRT Turk di Istanbul.

Sebelum bukunya diterbitkan, Ariful akan menceritakan pengalamannya empat kali, di Sultan II Selim malam itu adalah yang pertama, yang ke dua di Auditorium FKIP Unsyiah pada 8 Januari 2015, yang ketiga di SMAN 1 Peukan Bada, yang keempat di Aula FSIP Unimal Lhokseumawe.

Keberhasilan acara malam itu merupakan andil daripada semua panitia, direktur dan anggota Sultan II Selim ACC, pembicara, dan seluruh hadirin, serta media-media yang telah bersedia menyiarkan acara tersebut, baik sebelum mahupun sesudahnya.

Eungkhui adalah makanan khas yang dibuat oleh ahli tata boga Zahraini yang disediakan pada malam itu menjadi hidangan khusus. Diperkirakan itu pertama kali orang-orang di Banda Aceh mengenal eungkhui dengan curak tersebut.

Dan Joel Pase menutup acara ini dengan lagu “Puga Nanggroe” yang punya lirik, di antaranya:

“Jak tajak woe hai adoe jak tajak woe
Jak tapuwoe nanggroe nyoe beu lagee nyang ka. …”

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki)
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki