Isa Sulaiman yang Hilang Tidak Terganti

Dari kanan: Pembicara Halimatunsakdiah (isteri almarhum Muhammad Isa Sulaiman), Juanda Jamal (Sekjen ACSTF), Saiful Mahdi (Peneliti Aceh Institute), dan Thayeb Loh Angen (aktivis PuKAT) yang memandu acara. Foto: Lodins.

Ada sebuah rasa ketersanjungan bahwa hadirin dari akademisi, aktivis, mahasiswa, wartawan dan lainnya kagum pada tokoh sosiolog Aceh Profesor Muhammad Isa Sulaiman yang meninggal dunia pada bencana smong (tsunami) 24 Desember 2004.

Acara yang sempat tertunda selama satu jam lebih tersebut akhirnya berlangsung khidmat yang hadirin masih setia mengikutinya sampai menjelang magrib saat acara berakhir. Sekitar tiga puluhan orang ini memang datang khusus untuk mengikuti acara tersebut. Saya kagum dan bangga akan hal itu, bangga pada hadirin, pada pembicara handal di samping saya, dan almarhum.

Acara ini untuk mengenang Muhammad Isa Sulaiman yang dilaksanakan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki) yang tempatnya disediakan cuma-cuma oleh pengurus ACC (Aceh Community Center) Sultan II Selim Banda Aceh, pada 24 Desember 2014. Terlihatlah semua tentang almarhum.

Setelah mendengar penuturan dari peneliti Aceh Institute Saiful Mahdi, sekjen Achehnes Civil Society Task Force (ACSTF) Juanda Jamal, dan isteri Isa Sulaiman Halimatunsakdiah, saya tertegun, ternyata Isa Sulaiman berada di balik gerakan cendikiawan di Aceh yang mencetus perdamaian.

Saiful Mahdi dan Juanda Jamal mengisahkan pengalaman mereka bersama almarhum Isa Sulaiman dalam gerakan cendikiawan Aceh dalam perbaikan pola pikir terutama mendamaikan dua pihak yang berperang (RI dengan GAM).

Kedua tokoh Aceh ini berkesimpulan bahwa Isa Sulaiman adalah tokoh bijaksana yang berani bersikap dan sikapnya jelas serta mahu mengambil akibat dari sikap itu. Sang pejuang sejati yang langka ditemukan di dalam diri tokoh lain.

Dari sinilah saya menyadari bahwa Isa Sulaiman adalah salah seorang tokoh penting di balik perdamaian yang terjadi hari ini. Kiranya ia tidak sempat melihat hasil daripada perjuangannya. Akan tetapi jasanya telah pun ditarikhkan.

Isa Sulaiman adalah orang yang tepat waktu. Misalnya ada sebuah acara, akan tetapi tatkala waktu mulai tiba baru datang satu dua orang, Isa Sulaiman tetap memulainya. Pola ini yang sepertinya dipakai beberapa organisasi sekarang.

Dari melihat gaya dan mendengarkan penuturan Saiful Mahdi dan Juanda Jamal, saya pun menyadari bahwa saya tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan kedua orang aktivis senior ini, baik di dalam pengetahuan, pengalaman, sikap, mahupun di bidang lainnya.

Isteri almarhum, Halimatunsakdiah menuturkan bahwa Isa Sulaiman adalah seorang yang tidak pernah memarahinya dan anak-anak mereka. Dan, ke mana-mana dan di manapun Isa Sulaiman membawa buku di tangannya. Bahkan menjelang syahid dihempas smong, dia tengah membaca buku.

Hadirin ada yang mengusulkan supaya ditulis sebuah buku tentang riwayat hidup Muhammad Isa Sulaiman. Dan pembicara menerima usulan itu yang mungkin nantinya akan dilaksanakan oleh Aceh Institute, sebuah lembaga yang Isa Sulaman adalah pendirinya.

Hanya dari penuturan tokoh-tokoh inilah saya mengenal Isa Sulaiman. Saya tidak pernah berjumpa dengannya di kala hidup, belum pernah membaca karyanya. Baru sebulan lalu pada akhir Nopember 2014, seorang pendiri PuKAT, Mehmet Ozay berkata,

"Saudara Thayeb, bagaimana kalau pada hari sebelum 26 Desember ini kita buat acara mengingatkan Isa Sulaiman, kita peringati 10 tahun smong (tsunami) dengan itu?"

"Boleh, kita akan minta tempat acara kepada direktur ACC Sultan II Selim, semoga ia bersedia memberikan kita pakaikan tempat di sana secara cuma-cuma sebagaimana biasa. Siapa Isa Sulaiman?"

Maka Mehmet Ozay menceritakan sedikit tentang almarhum, akan tetapi saya tidak bisa menemukan foto dan riwayat hidupnya di waktu itu. Juga tidak tahu nama iserinya.

Esoknya, Mehmet Ozay pun mengajak saya menjumpai Juanda Jamal. Kami berjumpa di sebuah tempat di Simpang Lima, Banda Aceh yang Juanda Jamal tengah ada acara di sana. Dan di hari selanjutnya, Mehmet Ozay mengundang Saiful Mahdi untuk ikut acara.

Setelahnya, Tuan Saiful Mahdi meminta saya untuk mengunjungi rumah almarhum, menemui keluarganya. Maka saya pun menghubungi Juanda Jamal untuk itu. Dan selanjutnya, kami pun ke Kampung Mulia, ke rumah almarhum.

Di dalam acara tersebut saya sempat membaca penuturan Anthony Reid hasil wawancara Mehmet Ozay pada 20 Desember 2014 di dalam Bahasa Inggris, dan diterjemahkan oleh Nia Deliana. Juanda Jamal membagi-bagikan buku tulisan Muhammad Isa Sulaiman "Mosaik Konflik Aceh" di dalam acara tersebut, sebagai hadiah, kenduri daripada almarhum, katanya.

Begitulah, acara itu terjadi karena banyak hal, yakni: Saiful Mahdi, Juanda Jamal, Halimatunsakdiah yang dengan suka rela mengisi acara. Juga karena adanya hadirin mahu dating. Yang paling penting, Mehmet Ozay pengusul acara, dan pemberi tempat acara adalah direktur ACC Sultan II Selim Muhammad Fauzan Azim Syah dan anggotanya yang ikut membantu. Dan karena Nia Deliana, Zahraini, Aldi Yukihiro, Ariful Azmi Usman dan kawan-kawannya yang ikut membantu. Itu semua terjadi karena izin Allah Ta'ala.

Dan terima kasih kepada semua haandai taulan di media-media yang telah menyiarkan acara ini dan acara sebelumnya dan insyaallah acara sesudahnya. Kiranya hanyalah Allah Ta’ala jua yang bisa membalas kebaikan itu.
 
Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki)
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki