Inilah Eungkhui

Engkhui, makanan khas Aceh yang berkembang di pantai utara, buatan Zahraini ZA. Resep dasar: Indatu, diceritakan kembali oleh Cut Zubaidah binti Teuku Juhan. Resep terbarukan: Zahraini ZA. Foto: Zahraini ZA.
Eungkhui adalah makanan khas masyarakat Aceh pesisir utara yang mulai lahir sejak manusia menghuni hujung utara pulau Sumatera ini. Munculnya eungkhui diperkirakan sejak jauh masa sebelum Islam datang.

Dari namanya saja, yang khas Aceh, tidak ada pengaruh apapun dari luar semisal India, Arab, Turki, apalagi Eropa, apalagi Amerika. Makanan jenis ini berkembang di pantai utara Aceh, yang merupakan bekas wilayah Kesultanan Samudera Pasai.

Bahan utama daripada kue lezat ini merupakan hasil tumbuhan khas Sumatera, yakni: sagu rumbia, kelapa, dan pisang –yang setelah diramu kembali dengan pola modern bisa ditambahkan susu, coklat, gula, dan hiasan buah-buahan seperti nangka, strawberi, anggur dan semacamnya di atasnya--. Di masa kini eungkhui masih berkembang di seputaran Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen, Aceh Timur, dan Langsa.

Orang di seputaran Aceh Besar dan Banda Aceh menyebut eungkhui untuk sebuah jenis kue lain yang penduduk di bekas Kesultanan Samudera Pasai disebut jeuleupak, yakni hayakan kasar daripada tepung ketan yang ditumbuk dengan jingki.

Eungkhui termasuk salah satu jenis makanan yang laur biasa. Bahan utamanya, sagu, diambil dari saripati pohon rumbia, sebuah pohon berjenis besar dan tinggi yang tumbuh di rawa-rawa. Pohon ini membutuhkan tempat yang khusus. Namun, pohon rumbia adalah jenis tumbuhan yang subur. Ianya tumbuh beranak-pinak di rawa, yang apabila tidak diganggu akan semakin banyak dan memenuhi rawa-rawa dan daratan.

Kita tahu bahwa engkhui makanan yang luar biasa. Begitu luar biasanya, dalam irisan-irisan eungkhui yang kita makan, berarti ada sebatang pohon rumbia yang telah ditumbangkan untuk beberapa keperluan, termasuk mengambil sagunya yang kemudian dijadikan engkhui. Semakin banyak pohon rumbia yang tumbuh, semakin banyak eungkhui yang bisa kita makan.

Kita tidak akan menceritakan tentang isi kelapa dan pohonnya, tentang pisang dan pohonnya, serta cara menanam mereka karena sudah umum diketahui oleh orang. Akan tetapi rumbia, sagu, adalah hal yang menarik untuk dikenalkan lagi, apalagi dengan banyaknya rawa-rawa yang dikeringkan, mungkin rumbia akan menjadi pohon yang langka. Dan engkhui itu makanan yang luar biasa.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki