Cerita dari Daruddunya

Oleh Lodins

Perihal Kebutuhan Hidup

Suatu hari Kamis pagi, ketika tengah berjalan-jalan di hadapan istana baginda sulthanku yang mulia, para wazir memanggilku dan membawaku ke ruang yang gerbangnya tertutup tirai sutera berwarna ungu pudar. Di sana ada seorang guru yang sedang mengajari rakyat- rakyat bagaimana cara membuat perhiasan emas yang cantik.

“Belajarlah cara bagaimana cara berdagang dengan luar negeri, juallah sendiri sumber daya alam yang kita punyai setelah kita jadikan menjadi suatubuatan terlebih dahulu,” kata sang Wazir padaku. Ia terus bercerita seraya kami keluar dari balai furdhah istana.

Sang baginda Wazir Laksamana berkata demikian karena ketika perang, semua yang menjadi kekuatan negeri, itulah yang pertama-tama akan dilenyapkan oleh musuh guna untuk menjadikan kita mengemis pada mereka. Maka perbendaharaan benda dan kecerdasan dalam berpikir adalah penting! Di sana lihatlah!

Kepulan asap hitam sesaat ketika melihat Kohler mati di hadapan mesjid Baiturahman. Ia dan pasukannya, karena keserakahan, rela meninggalkan tanah kelahiran, demi harta benda yang ada di tangan kita dan kekuasaan bagi mereka. Sedangkan kita tidak mendatangi  negeri mereka untuk menyerang. Di sini kita hanyalah cuba untuk mempertahankan diri, bangsa, dan peradaban.



Lukisan Sayed Dahlan Al-Habsy. Foto: Lodins.
Perihal Seni dan Ketrampilan

Lalu kami berjalan-jalan ke taman istana yang berada disebelah timur dan bertemulah sahaya dengan seorang ummi. Ia seorang perempuan tua yang tengah menenun (teupeun) sutera. Kebanyakan kain sutera yang dipakai dalam istana adalah hasil karya para gadis-gadis di bawah arahan perempuan ini.

Sang perempuan tua itu lama menatapku.

“Yang ini untuk perempuan! Adik perempuanmu, sudahkah diajari bagaimana cara membuat kain sutera yang cantik. Karna permaisuri paduka telah mewajibkan pada semua dara-dara untuk belajar mengajar cara menenun, melukis bunga-bunga pada kain pakaian dan sebagainya. Hiduplah dengan seni.

Perihal Ilmu Tauhid dan Umum

Untuk membangun jiwa negeri kita yang tentram maka carilah Guru.Sesorang guru akan membantumu mengenalkan dunia padamu. Ingatlah, kedua orang tua kita adalah guru pertama kita dalam hidup, dan betapa berharganya mereka. Kemudian carilah lagi guru- guru dalam bidang pelajaran tertentu.

“Bergurulah pada para ulama besar dan kitapun akan jadi alim ulama. Belajarlah pada seorang tabib (dokter) supaya kita tahu cara menjaga kesehatan tubuh. Belajarlah ilmu logika, falsafat, sejarah, falak, politik, hukum, pertanian, pertambangan, bahasa, tata negara, strategi perang, pertanian, dan lain- lain. Untuk memperlengkap warna-warna negeri.

Lukisan Sayed Dahlan Al-Habsy. Foto: Lodins.
“Hiduplah di gurun pasir bila engkau ingin jadi sebatang pohon kurma. Dan jadilah engkau lada bila hidupmu di samudra. Tidak akan kau temui bintang kejora bila waktumu hanya kauhabiskan untuk terus menatap bumi tanpa sesekali kau menengadah ke langit. Dan engkau tidak akan pernah bertemu dengan sang khaliq bila dirimu terus menatap langit tanpa tubuh kauruku’ dan sujud dengan perlahan membenamkan segala keangkuhan diri ke bumi. Dengan ilmu, semua  yang telah dihadiahi oleh Tuhan pada kita akan bisa kita pergunakan dengan sebaik-baiknya.”

“Ternyata hanya tangan kita sendirilah yang membuang harga diri dengan menyia-nyiakan waktu, usia, dan samua kesempatan. Maka kita harus ‘Bersihkan cermin dari debu kegelapan dan lihat kembali bagaimana wajah kita yang sebenarnya hari ini.”

Begitulah sabda seorang anak dari Wazir Laksamana. 
Titah Baginda Paduka Sulthan

“Bagaimana kita akan membangun sebuah peradaban yang agung sedangkan rakyatku tidak belajar pada guru yang benar. Mulialah rakyatku yang menjadikan para ulama sebagai guru, teman terbaik, dan sebagai teman terdekat.

“Hanya tubuh yang lemah saja yang bisa dirubuhkan, hanya otak yang bodoh yang tersesat dari tujuan dan bisa ditipu oleh lawan, dan dengan keserakahan seorang raja saja cukup untuk membuat seluruh rakyatnya menjadi sengsara.”

Lukisan Sayed Dahlan Al-Habsy. Foto: Lodins.
“Aku adalah raja yang agung dengan hidup untuk melayani rakyat. Raja yang agung tidak mengurung diri di istana dan sibuk mereguk segala kenikmatan yang dikelilingi oleh ratusan para penjilat dengan membawa berita-berita palsu di atas hak-hak rakyatku yang terpijak.

“Mari dengan dipenuhi oleh semangat bersama kita punyai kembali senyum ‘peradaban terindah. menjadi bangsa yang cerdas, bangsa yang kuat, bangsa yang punya harga diri, bangsa yang kembali menjadi pusat di Asia Tenggara bertamaddun dan dengan penuh tanggung jawab. Yang tidak akan pernah lekang lagi di abad ini hingga akhir usia dunia”.

Demikian titah Baginda Raja kemarin dalam acara mengenang kisah silam haru kelam perang Aceh-Belanda tepatnya pada 26 Maret 2014.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki