Almuzalir Pemula Tindak Pelajar Berwisata Sejarah

Menyaksikan kunjungan Almuzalir dan 23 orang pelajar dan 2  orang lulusan SMAN 5 Kota Lhokseumawe dalam acara meuseraya membersihan makam dan mengatur nisan-nisan di kumpulan makam Tgk. Bak Lembee di Gampong Ulee Kareung, Indra Puri, Kabupaten Aceh Besar, lalu ke kumpulan makam di Kandang XII Banda Aceh dan Meurah II di Mata Ie Aceh Besar, Minggu 21 Desember 2014 yang dipawangi oleh CISAH (Center for Information of Samudera Pasai Heritage) dan Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh).

 
Almuzalir (kanan), guru SMAN 5 Lhokseumawe
yang menggerakkan wisata sejarah untuk pelajar
tengah bebicara dengan Duta Museum Aceh Mujiburrizal,
di Kandang XII Banda Aceh,
Ahad 21 Desembber 2014. Foto: Lodins.

Sebagaimana telah beberapa kali, hari Ahad tanggal 21 Desember 2014 ini pun saya mengikuti acara meuseuraya yang dipawangi oleh Mapesa dan CISAH, membersihkan makam-makam Aceh yang di bawahnya disemayamkan orang-orang berpengaruh di masa Aceh Darussalam dan lainnya untuk kemudian dirapikan dan dibaca oleh peneliti kebudayaan Islam yang filsuf Taqiyuddin Muhammad.


Yang menarik hari ini adalah adanya 23 orang pelajar dan 2 orang lulusan SMAN 5 Lhokseumawe yang dibawa oleh guru mereka Almuzalir dan didampingi oleh Mutia Wardani seorang guru yang pembina OSIS.


Sebenarnya, saya sudah tahu acara ini sejak dua hari sebelumnya atas kabaran daripada Mizuar sang Duta Nisan Aceh pada malam tatkala saya dan Lodins ke rumahnya di Bitai. Namun saya telah terlebih dahulu berjanji dengan uztaz Ameer Hamzah untuk menyertainya di acara Aceh TV dari pukul 08:00 sampai pukul 10:00 pagi.

Karenanya menjelang siang barulah saya memiliki kesempatan untuk ke makam Indra Puri bersama Aldi Yukihiro, Lodins, dan Hidayatullah. Namun tatkala kami sampai di Samahani, Mizuar mengabarkan bahwa kafilah di Indra Puri telah berangkat kembali ke Banda Aceh dengan tujuan kandang XII. Mereka bersegera meninggalkan Indra Puri karena hujuan turun. Maka kami pun menjuju Kandang XII dan menunggu mereka di sana.

Thayeb Loh Angen
bersama Direktur Utama Aceh TV A Dahlan TH
setelah acara yang dipandu ustaz Ameer Hamzah,
Ahad 21-12-2014. Foto: Lodins.
Setelah menunggu beberapa saat di Kandang XII, tibalah mereka, sebuah bus sekolah kota Lhokseuamwe yang di hadapannya ditulis “Kota Budaya, Islami…” tulisan itu langsung mengingatkan bagaimana sejak beberapa tahun terakhir saya memasyhurkan kata “Kota Budaya” untuk Paloh Dayah. Saya mempersaksikan tulisan itu kepada Aldi Yukihiro, dan dia pun tertawa seraya mengangkat ibu jarinya. Dia tahu benar bagaimana saya mendakwahkan “Kota Budaya”.

Mengapa harus Paloh Dayah? Alasan yang mudah diterima, adalah bebas menamakan itu untuk tempat lahir saya sendiri sebagai penduduk yang telah turun temurun di sana daripada menabalkannya untuk tempat lain. Adalah membanggakan apabila Lhokseumawe atau kota lain memakainya.

Di Kandang XII sekalian pelajar takjub pada nisan-nisan dan dengan khidmad mendengar penjelasan
tentangnya oleh arkeolog Deddy Satria, Duta Meseum Aceh Mujiburrizal, dan Duta Nisan Aceh Mizuar Mahdi. Semuanya direkam oleh RA Karamullah dari Glamour Pro.

Hujan tipis mengerai Kandang XII. Sejuk. Kami tidak bisa berkeliaran di halaman makam. Dan pohon jeumpa keubiru di sisinya hanya memilliki beberapa kuntum bunga, lainnya telah pun gugur bersama angin dan hujan.

Setelah sekalian pelajar bertanya tentang apapun di sana, Mizuar Mahdi mengarahkan mereka ke Makam Meurah II. Saya, Aldi Yukihiro, Lodins, dan Hidayatullah berangkat lebih dahulu karena beda kenderaan dengan pengembara dari Lhokseumwe dan pemandu jalannya.

Setelah melewati stasiun TV di Mata Ie, kami berhenti di sebuah kedai nasi untuk membeli makan siang dan melahapnya di sekitar makam Meurah II. Saya sebagai pemandu jalan yang telah ke sana beberapa waktu lalu pun sempat salah menunjuki jalan, dan bus sekolah pengembara dari Lhokseumawe pun terlihat mendahului dari jalan yang baru saja kami tinggalkan untuk menikung ke arah yang salah.

Sesampai di Makam Meurah II, kami pun makan siang. Ternyata kaiflah di dalam bus sekolah tadi belum makan juga dan makanan yang telah mereka pesan segera menyusul. Di sanalah saya melihat, beberapa orang daripada pelajar itu mengurumuni Deddy Satria dan Mizuar Mahdi untuk menanyakan apa saja tentang makam itu.


Dari kanan: Afrizal Hidayat, Sukarna Putra, Hidayatullah,
Thayeb Loh Angen, Aldi Yukihiro, Masykur, dan 
Anzir di halaman Kandang XII Banda Aceh.
Terlihat bunga-bunga jeumpa keubiru berhamburan
diterbangkan angin dan hujan,
Ahad 21 Desember 2014. Foto: Amrizal.
 
 
 

 
Saya pun terpikir, bagaimana Almuzalir meyakinkan anak-anak itu untuk menyukai sejarah sehingga akhirnya mereka bersikeras untuk mendaki gunung Seulawah sejauh itu untuk ke sini, tentu saja itu bukan sekedar berlibur di akhir pekan. Tidak begitu, mereka berlumuran tanah saat kerja bakti (meuseuraya) di Indra Puri tadi.

“Mereka jauh-jauh daripada Lhokseumawe, menempuh perjalanan ratusan batu hanya untuk berlumuran tanah membersihkan makam-makan masa silam. Apakah generasi emas telah bangkit lagi di negeri ini. Mungkinkah ini menuju puncak dari permulaan itu karena biasanya sebuah gerakan akan segera mencapai puncaknya apabila orang Pasai (Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Timur) telah ikut serta?” pikirku dalam kemasygulan.

Setelah mereka mendengar banyak penjelasan dari beberapa orang ahli di sana, tibalah makan siang. Mereka pun makan di sebuah balai dekat makam. Setelahnya giliran RA Karamullah yang mewawancarai mereka.

Melihat seorang pelajar yang penuh semangat mewawancarai ahlinya, secara bercanda saya mengatakan mengapa saya tidak ikut diwawancarai. Akan tetapi guru dan ahli di sana menganggap itu benar-benar. Biarkan saja. Tatkala di rumah Mizuar dua hari lalu, ia meminta saya ikut memberikan beberapa penjelasan kepada sekalian pelajar ini, akan tetapi saya menolaknya karena itu bukan bidang saya dan PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki) tidak bergerak di bidang ini.

Setelah beberapa pertanyaan, terlihat si pelajar perempuan tadi mulai tidak memahami atau tidak menyukai pembicaraan dan dia mengarahkan kepada kawannya untuk bertanya. Tentu saja, apa yang saya katakan adalah tentang PuKAT dan sejarah Aceh dan Turki, yang mereka kira tidak ada hubungan dengan kunjungan mereka ke makam-makam hari itu.

Selang sehari setelahnya, tatkala bicara dengan Aldi Yukihiro dan Lodins, Aldi mengatakan bahwa pelajar itu memberikan kertas yang ditulis wawancara dengan saya kepada temannya. Mungkin tidak dipakai. Saya pun tertawa. Memang itu bukan wawancara sebenarnya.


Mutia Wardani, pembina OSIS SMAN 5 Lhokseumawe,
 tengah bicara dengan pelajar di kumpulan makam sultan Aceh Darussalam,
Kandang XII, Banda Aceh, Ahad 21 Desember 2014. Foto: Lodins.
Yang sebenarnya adalah -saya sudah mengatakan kepada Almuzalir di ketika berada di Kandang XII- juga kepada pelajar yang mewawancarai itu di Meurah II, bahwa pada 10 Februari 2015, PuKAT membuat acara Bincang Kebudayaan bertajuk “Travelog Aceh ke Istanbul: Sebuah Perjalanan Ariful Azmi Usman, di Aula FISIP Unimal, Bukit Indah, Lhokseumawe.

Saya mengundang sekalian pelajar itu, dan saya akan cari Almuzalir untuk menghantar surat undangan resminya supaya dia membawa ke-23 orang pelajar itu, juga siapa saja yang lainnya yang bersedia ikut ke acara tersebut.

Mungkin juga, sebagai penghargaan, pada acara 10 Februari 2015 tersebut saya akan mengajak kafilah PuKAT berkunjung ke sekolah SMAN 5 Lhokseumawe karena mereka telah mengharumkan perjuangan mengenalkan kembali sejarah Aceh.


Tabik hormat untuk Almuzalir, Mutia Wardani pembina dan M Al Furqan ketua OSIS SMAN 5 Lhokseumawe, dan sekalian pelajar yang ikut hari itu, serta kepada CISAH dan Mapesa yang memandu mereka. Dan, tentu saja, itu semua berkat kehendak Allah Ta’ala, dan tentulah itu bagian daripada hasil dakwah-dakwah sang filsuf Taqiyuddin Muhammad.

 
Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki