15 Ribu Buku Masa Silam di Pustaka Ali Hasjmy

Oleh Abdul Aziz

Mahasiswa di Banda Aceh


Pustaka dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh. Foto: muthia-deliana.blogspot.com
Seperti halnya museum lainnya, di museum Ali Hasjmy juga banyak menyimpan berbagai jenis koleksi. Museum terletak di kawasan Banda Aceh, tepatnya di daerah jendral Sudirman No 20. Pada awalnya museum ini kediamannya Prof Ali Hasjmy, beliau lahir pada tanggal 28 Maret 1914 di daerah Lampaseh, Banda Aceh.

Semasa hidupnya beliau pernah menjabat sebagai gubernur Aceh periode 1957-1964 dan juga pernah menjadi Rektor IAIN Jami’ah Ar-Raniry. Selain itu Prof Ali Hasjmy juga dikenal sebagai seorang ulama, seniman, budayawan dan juga seorang politikus di Aceh.

            Pada tahun 1989 Prof Ali Hasjmy mendirikan sebuah yayasan pendidikan Ali Hasjmy yang bisa menampung sekitar 15. 000 buku naskah masa silam yang ditulis dalam berbagai bahasa.
            Museum yang diresmikan oleh Menteri Kependudukan dan Lingkungan hidup pada tanggal 15 Januari 1991 ini terdapat enam lemari  yang berbariskan  buku-buku maupun benda-benda yang penuh akan nilai sejarah.

Selain itu ada juga empat ruangan, yaitu ruangan Khatukhanah Teungku Chik Di Kuta Karang yang berisikan kitab-kitab masa silam awal abad ke XX, yang kedua ruangan Warisan Budaya Nenek Puteh  yang menyimpan warisan budaya Aceh, yang ketiga ruangan Khazanah Ali Hasjmy di dalamnya terdapat dokumen-dokumen pribadi miliknya, dan yang terakhir ruangan teknologi tradisional Aceh, pada ruangan ini menyimpan hasil kerajinan dari masyarakat Aceh.

            Menurut seorang narasumber yang saya temui, dia menyebutkan bahwa pada saat gempa dan smong (tsunami) memporak-porandakan Aceh 2004 silam, museum ini tidak mengalami kerusakan yang begitu parah, mungkin karena letaknya  jauh dari laut. Hanya lantainya saja yang tergenang air laut dan buku-buku yang jatuh menjadi basah, namun hal tersebut sudah teratasi dengan dijemur dan dikeringkan dengan mesin pemanas dan sudah kembali tersusun rapi di rak buku.

            Semenjak diresmikan pada tanggal 15 januari 1991 hingga saat ini, museum ini banyak dikunjungi oleh masyarakat dan juga mahasiswa yang ingin mencari bahan kuliah mereka. Bahkan ada juga Mahasiswa dari luar negeri yang datang ke museum ini untuk mencari bahan karya ilmiahnya.

            Ya, itulah Prof Ali Hasjmy walaupun telah lama menghadap sang ilahi tetapi ruh jihadnya tetap hidup sepanjang masa.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki