Misteri Lam Raba ( 3 - Tamat)

Catatan perjalanan menyertai meuseuraya pembersihan makam yang direncanakan oleh Mapesa dan penelitian Taqiyuddin Muhammad dan Deddy Satria, 23 Nopember 2014 di Gampong Lambaro Biluy, dan Lhoknga, Aceh Besar.

... Sambungan dari pada bahagian 1 (www.peradabandunia.com/2014/11/misteri-lam-raba-1.html)

... ... Sambungan dari pada bahagian 2  (http://www.peradabandunia.com/2014/11/misteri-lam-raba-2.html)

Sungai Krueng Raba, Lhoknga, Aceh Besar. Foto: sianakdesa.com

Setelah berbincang sekitar satu jam, kami meninggalkan tempat itu. Orang-orang pulang ke tempat masing-masing. Saya tidak pulang ke rumah, akan tetapi mengikuti Mizuar Mahdi, Taqiyuddin Muhammad, Deddy Satria, dan Khairul menuju gampong Turki Bitai, tepatnya ke rumah Mizuar Mahdi.

Saya ingin menyaksikan dan terlibat langsung kegiatan sekalian pejuang pencari penemu bahan sejarah yang dipimpin oleh Taqiyuddin Muhammad. Penting bagiku untuk ikut dari pagi sampai malam supaya tahu benar apa sesungguhnya yang mendasari perkerjaan suka rela yang mereka lalukan selama bertahun-tahun.

Mizuar Mahdi tetap membawa Deddy Satria, Taqiyuddin Muhammad bersama Khairul. Saya seorang diri, dan karena banyak bawaan, saya minta membawa sebuah tas milik Mizuar Mahdi. Sebagaimana biasa, saya yang mengendarai sepeda motor secara lambat, tertinggal di belakang. Sesampai di dekat Bitai saya sempat salah jalan masuk sehingga baru mendapatkan rumah Mizuar Mahdi setelah berputar-putar di Bitai.

Siang yang teduh. Begitu saya tiba di rumah Mizuar Mahdi, di dalamnya telah ada seorang guru sejarah daripada Sekolah Sukma Bireuen bersama seorang muridnya. Ia meminta izin untuk bisa mengikuti penelitian situs raja-raja Lamuri di ke Lamreh dengan membawa murid sekolah sebanyak dua bus berukuran sedang. Itu luar biasa karena ianya termasuk salah satu tujuan hasil penelitian, yakni menjadikan benda dan tempat bersejarah sebagai bahan pelajaran dan ingatan bagi generasi muda.

Setelah sembahyang zuhur, kami pun makan siang dengan lahap. Angin laut tidak sampai ke rumah itu sehingga sebagai penyejuk diputarlah sebuah kipas angin. Di sela-sela deru kipas angin itulah Taqiyuddin Muhammad dan Deddy Satria berbincang tentang penelitian. Saya menjadi pendengar yang budiman selama beberapa saat, setelahnya saya pun mandi.

Di hadapan rumah itu ada halaman berumput, di seberang jalannya ada sebatang pohon sirsak, sebatang pohon yang daun dan buahnya kini dinyatakan sebagai pembunuh kanker paling mujarab yang ada di dunia. Begitu ‘asar tiba, handai taulan pun melaksanakan kewajibannya. Mizuar Mahdi yang tahu saya akan ikut perjalanan mencari krueng (sungai) Raba pun berangkat ke acara kerabatnya karena ada saya yang membawa Deddy Satria.

Setelah semua siap, kami keluar dari rumah Mizuar Mahdi dan menuju ke barat untuk mencari keberadaan sungai Raba yang berada di seputaran Lhoknga. Taqiyuddin bersama Deddy Satria dan saya bersama Khairul. Kami memilih jalan di pesisir dan sampai di wilayah Lhoknga.

Sebagai pimpinan kafilah, Taqiyuddin Muhammad memilih menikung ke lajan arah Lamlhom, yang daripada sana tembus ke perumahan Turki di Lampuuk. Jalan berukuran sedang yang di kiri kanannya pepohonan membuat udara sejuk. Saya terus mengikuti Taqiyuddin Muhammad.

Di gampong Mon Cut, Lamlhom, ditemukan sebuah kumpulan makam bernisan Aceh yang berada di pinggiran bukit di dekat pemukiman penduduk. Di sekeliling nisan-nisan itu ada barisan pohon kelapa yang berusia sekira dua puluh hingga lima puluh tahun. Setelah melihatnya sekilas, Taqiyuddin Muhammad berpamit kepada orang yang berada di dekat kumpulan makam yang langsung ditentukan sebagai tempat yang akan diteliti pada waktu berikutnya.

Kami melanjutkan perjalanan. Beberapa saat melaju, sampailah di sebuah persawahan yang luas.
Kami berhenti di laluan tebing bukit di tepi sawah. Dari arah selatan terlihat mesjid Lampuuk, sebuah mesjid yang menjadi legenda karena tegak kukuh tatkala apa saja di sekelilingnya rata dengan lumpur hitam sejauh beberapa kilo meter. Taqiyuddin Muhammad dan Deddy Satria berbicara dengan khidmat, tentang kemungkinan arus krueng Raba.

Perjalanan pun dilanjutkan melewati jalan sepi di tepi hutan Lhoknga. Dingin dan senyap. Hanya terdengar suara burung dan deru angin dari persawahan. Akhirnya sampailah kami di Lampuuk dan memasuki sebuah tepian pantai yang telah dibuat menjadi tempat bertamasya. Kami hanya menumpang lalu kemudian keluar daripada sana.

Setelah melewati mesjid Lampuuk, kami menikung ke utara kembali, menusuri jalan di tepian sebuah payau kecil yang diduga sebagai arus krueng Raba yang telah terputus sehingga mata airnya yang terus keluar membuat genangan berbau busuk dan habitat binatang air yang mengerikan.

Penelusuran itu terus berlangsung dengan penuh pertanyaan. Mengapa sungai Raba ada dan siapakah Tuan Lam Raba. Tatkala magrib menjelang, kami pun pulang melalui jalan yang sama dengan yang kami lalui tatkala pergi. Krueng Raba telah sedikit teraba-raba, kami akan datang di lain waktu untuk mengenalimu sebagaimana Tuan Lam Raba di masa silam.

Saya yang tidak membawa baju tebal pun merasakan kedinginan karena angin malam di bebukitan tepi laut itu seperti menusuk-nusuk pori-poriku. Di sebuah mesjid indah di sebuah gampong tepi bukit, kami pun bersembahyang magrib secara berjamaah mengikuti masyarakat di sana.

Perjalanan hari itu ke wilayah Lhoknga adalah peninjauan, sementara penelitian secara mendalam akan dilakukan di lain waktu dari pagi, sehari, dua hari, sepekan, bahkan bisa berbulan-bulan sampai ada titik cahaya dari Tuhan seru sekalian alam tentang siapakah Tuan Lam Raba dan apakah Krueng Raba dan apa saja yang ada di zaman itu.

Sampai malam tiba, Lam Raba masih menjadi misteri, kami pun pulang ke kediaman masing-masing sebagaimana burung-burung pulang ke sarang. Jalan raya dari Lhoknga menuju Banda Aceh kami susuri dengan pertanyaan, kapankah misteri lam Raba bisa diungkapkan?

Sesampai di rumah Mizuar Mahdi, di gampong Turki Bitai, kami duduk bersantai melepaskan lelah. Setelah berbincang beberapa saat dengan Taqiyuddin Muhammad, Deddy Satria, dan Khairul, saya pun pamit karena ada janji pertemuan dengan Mehmet Ozay setelah ‘isya. Ada hal tentang PuKAT yang mesti dibicarakan sementara esok, ia akan balik ke Kuala Lumpur. Mizuar Mahdi belum pulang dari acara kerabatnya. Maka karena searah, saya membawa Deddy Satria pulang, dari Bitai ke Peurada.

Di dalam perjalanan, saya dan Deddy Satria berbincang tentang penelitian yang dilakukannya, tentang masa-masa peralihan dari agama dunia Hindia ke agama Islam. Sudah lama ia akrab dengan Taqiyudin Muhammad dan handai taulan di LSM Kebudayaan CISAH (Central for Information of Samudera Pasai Heritage) dan LSM Kebudayaan Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh).

Dua organisasi pencinta dan peneliti sejarah itu memiliki tokoh peneliti yang sama, Taqiyuddin Muhammad dan Deddy Satria. Menyedihkan memang, ada ratusan ribu benda bersejarah yang masih berserakan dan belum dikenali di Aceh, hanya memiliki dua orang peneliti yang menghibahkan hidupnya secara sukarela untuk itu.

Perjalanan kami pun sampai di Peurada. Saya menurunkan Deddy Satria di hadapan gerbang rumahnya. Lalu, saya menikung ke rumah Mehmet Ozay, untuk membicarakan beberapa hal tentang kegiatan kebudayaan untuk akhir 2014 dan sepanjang 2015.

Di sela-sela itu kusebutkan Mizuar Mahdi pada Dr Mehmeh Ozay, ternyata mereka belum pernah bicara secara rinci. Saya pun menghubungi Mizuar Mahdi. Dia baru saja tiba di rumahnya. Di waktu yang lain Mizuar Mahdi yang merupakan keturunan orang Turki dari Istanbul yang datang pada zaman Lada Sicupak (1560-an Masehi), akan berbincang-bincang dengan dengan Dr Mehmet Ozay, seorang sosiolog dari Istanbul, Turki.

Kemasygulanku satu lagi ialah, generasi di masa hadapan akan tahu bahwa sejarah yang kita yakini bersalahan dengan aslinya. Akan tetapi kita dan mereka amat sangat bersyukur bahwa ada beberapa orang di zaman ini yang menghibahkan hidupnya untuk mengungkapkan kebenaran sejarah sehingga generasi di masa hadapan bisa melanjutkannya dengan lebih baik.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT).

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki