Memaknai Aktivisme Kebudayaan di Aceh dan Sumatera


Perjuangan ini kita jalankan sampai nafas terakhir berhembus. Pesta kemenangan hanya bersifat sementara, sebab esok pagi ada lagi pembaharuan. Dunia tidak akan berakhir, hanya kita yang terhenti secara jasad, pikiran dan warisan senantiasa berada selama-lama.
 Sejak bangsa bajak laut Belanda menyerang Aceh pada 26 Maret 1873 peradaban Aceh telah pun runtuh sehingga satu per satu dahan-dahan kebudayaan patah berderak dihempas badai pemaksaan ideologi terbelakang yang dibawa oleh penjajah yang biadab. Di masa ini aktivisme kebudayaan di Aceh muncul setelah berakhirnya perang antara GAM dan RI pada 15 Agustus 2005.
Mengeluh, mengumpat, menghujat, dan membenci peristiwa itu tidak akan ada gunanya karena tidak akan ada satu curak pakaian Aceh pun terpakai kembali dengannya, tidak akan ada satu curak pemikiran daripada peradaban Aceh pun yang diilhami karenanya, tidak akan ada bentuk dan hiasan rumah Aceh yang tergunakan lagi dengannya, dan lain sebagainya.
Memberikan tauladan seraya meneru-nyerukan kegiatan menghidupkan kembali semua sisi kebudayaan adalah satu-satunya cara yang bisa ditempuh di zaman yang benda telah dijadikan tujuan hidup sebagai pengganti Tuhan. Maka orang Aceh dan Sumatera sebaiknya kembali memakai budayanya di dalam semua segi kehidupan ini serta menjadikan Allah Ta’ala –atau Tuhan menurut agama masing-masing- sebagai Tuhan kembali.
Aktivisme kebudayaan yang kita tindakkan dan serukan di Aceh dan Sumatera adalah berbeda dengan yang dibuat di dunia Barat seperti Kanada. Mereka semata menentang kapitalime, akan tetapi kita mengembalikan Aceh dan Sumatera kepada peradaban dan sejarahnya, mengembalikannya akan kemanusiawian dan jalan Tuhan. Kita mengembalikan pemikiran dan peradaban orang Aceh dan Sumatera kepada keadaan di mana ianya pernah berperadaban tinggi dan gemilang.
Maka daripada itu, walaupun istilah yang kita pakai kadang disebut serupa, akan tetapi kita pertegas bahawa aktivisme kebudayaan di Aceh dan Sumatera adalah berdiri sendiri dengan ideologinya sendiri sebagai orang timur di Asia Tenggara. Aceh dan Sumatera yang dimaksudkan di sini adalah orang-orang yang menempati sebuah wilayah bumi dengan keberagaman suku dan budayanya.
Secara istilah, kata ‘aktivisme’ kita maknai sebagai ‘sebuah paham yang menghadapankan peradaban sebagai acuan’, dan kata ‘aktivis’ kita maknai sebagai ‘pejuang’. Maka daripada itu, aktivisme kebudayaan adalah sebuah paham yang menjadi benteng daripada peradaban Aceh dan Sumatera. Dan, aktivis kebudayaan adalah orang-orang yang memperjuangkan Aceh dan Sumatera supaya memakai hal yang sesuai dengan dirinya tatkala berperadaban tinggi dengan membawa kembali budayanya sepanjang zaman.
Aktivis terbagi ke dalam empat jenis, yaitu:
1. Aktivis idealis. Orang jenis ini hanya melakukan sesuatu yang sesuai dengan buah pikiran diri dan organisasinya serta akan mempertahankan sikap tersebut dalam keadaan bagaimanapun.
 2. Aktivis setengah hati. Orang ini akan mengikuti jalan idealism diri dan organisasinya sejauh itu memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri. Orang jenis ini tidak bisa diandalkan walaupun masih bisa diterima dan tidak mengganggu.
 3. Aktivis percubaan. Orang ini masih pada tingkatan mencuba mengenali kegiatan diri dan organisasi yang ia cuba bergabung. Dia akan menjadi aktivis idealis atawa aktivis setengah hati, akan tetapi tidak mungkin menjadi pengacau.
4. Aktivis pengacau. Orang ini tidak menyukai sama sekali apa yang diperjuangkan oleh diri dan organisasi yang ia susupi. Dia hanya berniat mengacaukannya. Orang ini terkadang bersikap lebih idealis daripada aktivis idealis sekalipun. Orang jenis ini terkadang sengaja dikirim oleh pihak tertentu sebagai pengacau. Namun, dia hanya bisa menipu orang yang awam, akan tetapi ianya akan runtuh apabila menghadapi aktivis idealis yang memiliki strategi.
Apapun yang kita lakukan sebaiknya dilengkapi dengan pengetahuan yang cukup dan apabila belum ada niscaya kita tambahkan pengetahuan diri kita dengan belajar kepada orang-orang yang ahli serta mahu berpikir bersebab kita adalah hamba miskin lagi fakir daripada ilmu pengetahuan. Hanya apa yang dihadiahkan oleh Allah Ta’alalah yang ada di dalam diri kita ini.
Thayeb Loh Angen, Aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki (PuKAT).
Asal Kabar: http://atjehpost.co/m/read/13981/Memaknai-Aktivisme-Kebudayaan-di-Aceh-dan-Sumatera 
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki