Gigiku Rusak, Peri Gigi Tidak Kunjung Jua

Secuil Kisah Thayeb Loh Angen di Masa Kecilnya

Kota Budaya Paloh Dayah, Aceh, Sumatera.

Ini terjadi pada masa usiaku masih sekolah Madarasah Ibtidaiyah (MI) dan bukanlah di Paloh Dayah, akan tetapi di sebuah rumah di Ujong Rimba, kerumunan perumahan buruh prusahaan gas. Tatkala itu saya masih pun menjadi seorang murid di Dayah Nurul Muhtadie Paloh.

Lagi-lagi itu bukan di Paloh Dayah, akan tetapi dayah tersebut berada di lingkungan Mesjid Attaqwa Paloh, Paloh Meuria, Aceh Utara (kini masuk ke dalam wilayah kota Lhokseumawe). Dayah itu didirikan oleh Tgk H Muhammad Thaib bin Mahmud, seorang tokoh penting di wilayah mukim Paloh.

Di sana saya merupakan salah seorang murid yang patuh dan rajin sehingga sering mendapatkan juara kelas di tahun-tahun awal saya menjadi murid di sana. Sebahagian besar daripada kami adalah remaja tanggung yang baharu akil baligh, beberapa orang telah menjadi pemuda. Hanyalah saya seorang diri yang pada masa itu belum pun sampai lima belas tahun, masih anak ingusan.

Karenanya pula saya lebih disayangi oleh guru dan kawan-kawan yang lebih tuha disebabkan saya suka membantu mereka membaca kitab-kitab jawi yang kami pelajari –tatkala itu saya baharu kelas tajziyah, kelas sebelum kelas satu- yang belum mempelajari kitab Arab akan tetapi kitab berbahasa Jawi (Melayu Pasai).

Bulan maulid adalah bulan kegembiraan bagi kami karena di sela acara belajar ada liburan memenuhi undangan daripada meunasah-meunasah atau rumah orang-orang di sekitar. Saya termasuk salah seorang anggota penzikir maulid, untuk meramaikan sahaja karena saya tidak bisa menjadi radat (pemimpin bacaan).

Pada bulan maulid itu kami mendapatkan akan undangan daripada salah seorang kawan daripada pengurus mesjid yang merupakan seorang buruh perusahaan gas PT Arun, yang suka pada acara agama. Saya tidak tahu siapa nama orang itu. Yang saya tahu adalah Ujong Rimba, nama tempat dia tinggal karena di dalam salam pembuka disebutkan begini:

Assalamu’alaikum saleuem kamoe bri
Keu ayah ngon ummi di Ujong Rimba.
Saleuem kamoe bri hajat neu sambot
Bek nebri rhet u luwa tika.

Begitulah barzanji dimulai sampai beberapa buah syair yang dibacakan secara berjama’ah dengan dipimpin oleh saatu dua orang radat. Ada yang dibacakan seraya duduk dan ada yang disampaikan seraya berdiri. Apabila telah disampaikan secara berdiri maka itu pertanda bahawa zikir barzanji akan segera habis. Semuanya diiringi dengan leungiek (tarian kepala). Begitulah kebiasaan kami dalam seni yang bernafaskan Islam yang kami yakini mendapatkan fahala dengan menjalaninya.

Bertamu ke rumah buruh perusahaan gas itu adalah hal baharu bahagi sahaya tatkala itu yang merupakan anak seorang petani miskin. Pertama kali menginjakkan lantai rumah itu, saya merasa asing, ruangan berlapiskan permadani disejuki oleh pengatur suhu udara. “Wangi dan sejuk” seru saya dalam hati. Tentu sahaja beberapa daripada kami telah terbiasa dengan keadaan itu karena mereka berasal daripada keluarga hartawan.

Setelah acara pembacaan barzanji selesai, tibalah pada acara makan-makan. Yang pertama sekali dihidangkan adalah kuwih-kuwih terbaik. Pemilik rumah menghidangkan aneka kuwih dan minuman halal untuk kami yang menurutnya tamu terbanggakan, anak-anak yang belajar agama. Sebagaimana handai taulan lainnnya, saya pun mulai mengambil akan sepotong kuwih itu dan memakannya dengan lahap.

Namun, begitu menggigit sepotong roti kering, gusi di gerahang saya yang berlubang terasa sakit bukan alang-kepalang. Saya ingin menangis sesedu-sedunya, akan tetapi saya batalkan rencana menangis itu karena takut akan dinilai memalukan oleh sekalian orang di sana. Tadi, saya tidak sehati-hati biasanya tatkala memakan nasi dan lauknya karena mengira roti adalah makanan lunak yang tidak akan menyakitkan gusi yang giginya telah pun berlubang. Saya salah.

Dan akibat daripada kesalahan tersebut, niscaya sepanjang hari itu saya menahan sakit di gusi. Perjalanan memenuhi undangan maulid di rumah orang kaya pun menjadi bencana kecil, alih-alih hal yang diharapkan. Saya tidak menceritakan hal itu kepada siapapun sampai saya menuliskan ini untukmu, sekedar untuk diketahui dan berbahagi pengalaman di waktu kecil yang akan terus saya ingat. Betapa lucunya cara berpikir anak kecil.

Kawan-kawan dekatku di masa itu kadang bersenda,

"Mattayeb (panggilan akrab untuk saya oleh kawan-kawan masa kecil yang saya tidak suka apabila itu disebutkan oleh orang yang bukan daripada Paloh Dayah atau bukan kawan masa kecil di sekitarnya), igoe kah kagantoe keudeh, ka preh uroe makmeugang, kagantoe ngon igoe leumo.”

(Mattayeb, gantilah sahaja gigimu, tunggulah hari meugang, kamu ganti gigimu dengan gigi lembu). Lalu, kami pun tertawa setiap setelah itu disebutkan karena semua mereka menyebut itu untuk bercanda.

Ibu saya, Cut Zubaidah binti Teuku Juhan, yang sampai usianya sekira tujuh puluh tahun masihlah mempunyai gigi sehat yang sanggup mengunyah pinang, sesekali

"Ata ate kuyue afai doa ubat igoe meusidroe keuh han katem, meutai-tai kuyue, hana ka tem meusidroe pih.”

(Salahmu sendiri, saya sudah berkali-kali bahkan setengah memaksa kalian supaya menghafal doa untuk kesehatan gigi akan tetapi tidak ada seorang pun dari kalian yang mahu menghafalnya). Maka bahagi sekalian orang yang masih diberikan akan gigi yang sehat, bersyukurlah akan Allah Ta’ala.

Sampai kini, hampir seluruh gigi saya rusak, namun, berdasarkan banyak pengalaman, maka saya amat sangat hati-hati mengunyak makanan, bahkan sayur atau roti lunak sekalipun tidak bisa saya kunyah dengan mudah. Selalu sahaja lidah saya harus menghidarkan akan makanan dari lubang-lubang di gusi. Dan segera setelah memakan sesuatu, saya harus berkumur-kumur dan mencungkil apa saja sisa makanan di lubang gusi. Itu cara saya supaya tidak kesakitan amat sangat karena gusi yang tidak sehat. Cara itu saya temukan sendiri karena apabila sedikit saja ada sisa makanan di lubang gusi, maka dijamin saya segera kesakitan, bahkan akan memarlah wajahku.

Dahulu saya berpikir, tidak apa-apa apabila rusaknya gigi, bukankah bisa digantikan dengan gigi buatan (palsu)? Lagi-lagi saya salah. Gigi palsu bukanlah gigi kita. Tidak ada yang sesempurna pemberian Tuhan. Apabila ada nikmat Allah yang terlalu cepat dicabut daripada saya, maka itulah nikmat adanya gigi.

Saya tidak iri pada orang-orang yang memiliki gigi sehat karena salah saya sendiri yang amat sangat malas membersihkan gigi dengan sikat dan terlalu banyak makan dan minum yang berasa manis, bahkan sampai sekarang.

Dan, terbukti bahwa peri gigi itu tidak pernah ada di dunia ini, apabila ada, maka dia sudah pun datang menjumpaiku untuk memberikan akan daku seluruh gigiku yang telah menghilang dimakan ringkeh (ulat atau bakteri pemakan gigi dalam istilah Aceh). Hanya bahagian hadapan gigi bawahku yang masih bagus karena bahagian itu yang sering kubersihkan dengan sikat dan pasta.

Oleh karena itu, apabila ada di antara handai taulan yang mengajak akan daku untuk bertanding demi menentukan gigi siapakah yang paling tajam dan kuat, maka sesungguhnya saya tidak berani, saya tidak punya gigi sekuat kalian. Saya tidak berani unjuk gigi, gigiku sudah lama rusak dan peri gigi tidak kunjung datang untuk menggantikannya.

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki