Di Pantai Colombo Sri Lanka


Colombo, Sri Lanka. Foto: pixabay.com
Puiisi: Thayeb Loh Angen

Debur pantai Colombo terdengar dari jendela kamar ini
Lirih di antara jeritan riaknya terkuningi lampu tepi pantai.
Apa yang kurindu wahai pulau dan laut.

Lampu jingga kapal sayup Samudra Hindia tak bisa menjawabnya,
dan kau kekasihku pun tak menjawab.
Mimpi di kebun kelapa dan perdu pisang
di antara barisan kata di lembaran dan suaraku
di antara kicau pipit pagi membawaku ke sini.
Aku datang tak terencana, singgah,
dan mengabarkan duka dan harapanmu pada dunia,
hanya itu kauingin dariku, si pengicau kecil
yang siapkan diri jadi penakluk untuk damai bumi kita.

Pantai Colombo, aku tak bisa rindukan gadis di sini,
baik gadismu atau gadis tanah lahirku,
kerinduanku telah punah, hanya tinggal sekeping sisa cinta.
Namun belum kutahu alasan lain kaupanggil aku ke sini,
entah pada mimpi pengakhiran panguasaan mahanegara itu darimu.
Kabarku dulu, mahanegara itu diruntuhkan negara kecil
yang ditemani dan tidak dalam hitungan waspada negara manapun,
Lagi pula negara kecil itu hancurkan mahanegara pun karena suka-suka.

Ah, ini bukan cerita penaklukan,
tapi dengan ke sini membuatku yakin pada cerita penakluk dari timur.

Colombo, Sri Lanka, Dec 2009.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki