Aceh di Mata Mehmet Ozay


Saya bertemu dengan Mehmet Ozay untuk pertama kali pada akhir tahun 2009. Saat itu saya masih berkerja pada surat kabar Harian Aceh. Mehmet Ozay menanyakan beberapa hal tentang sejarah Aceh dan barang apa saja tindakan orang Aceh terhadapnya, itu mengejutkanku.

Saya mengambil sejarah Mehmet Ozay ini untuk orang Aceh yang tidak sempat membaca buku "Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda" tahu bagaimana seorang sosiolog asal Istanbul, Turki memandang Aceh. Ini pun saya maksudkan sebagai perbandingan bagaimana kafilah Turki di masa Sultan Selim II yang dikirim ke Bandar Aceh Darussalam untuk tidak pernah kembali lagi ke Turki sampai akhir hayat mereka.

Saya harus menjelaskan kepada sekalian orang Aceh bahwa orang Turki tersebut, datang ke Aceh dengan pengorbanan yang besar dengan meninggalkan keluarga, handai taulan dan masa-masa indah mereka di negeri yang besar. Bayangkan saja apabila seseorang atau beberapa orang dikirim ke negeri yang jauh di seberang samudera raya tanpa diharapkan untuk kembali.

Ditambah lagi, sebagian besar daripada orang Turki yang dikirim tersebut akhirnya terlibat langsung dalam perang melawan Portugis di perairan Selat Melaka atas nama Aceh Darussalam, bukan atas nama Turki.

Di dalam bukunya yang berjudul "Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda" Mehmet Ozay menuliskan tentang citra Aceh dalam pikirannya tatkala pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Aceh saat itu.

Mehmet Ozay menerangkan bahwa tsunami bukanlah peristiwa pertama yang menyadarkannya mengenai keberadaan Aceh di muka bumi ini, tidak sama halnya dengan kebanyakan orang Turki lain yang bahkan tidak pernah mendengar sebuah wilayah bernama Aceh. Dalam ingatan Mehmet Ozay, Aceh adalah 'Serambi Mekkah'.

Ketika masih belajar di bangku SMP, Mehmet Ozay pernah berpartisipasi dalam sebuah jurnal bulanan berskala nasional di Turki yang berjudul 'Islam'. Jurnal ini terbit sebagai buah dari upaya, dorongan dan kontribusi besar dari al-marhum Prof. Dr. Muhammed Esad Coşan. Setiap bulan selalu ada berita yang menginformasikan tentang kondisi dunia Islam, termasuk dan terutama daerah konflik bersenjata seperti Aceh, Patani, dan Mindanao di Asia Tenggara dan wilayah lainnya dalam dunia Islam.

Selain beberapa berita yang dikumpulkan dari kantor kantor media, juga ada beberapa liputan wawancara dengan Tgk. Dr. Hasan di Tiro yang diterbitkan pada bulan September 1984. Selain itu, Mehmet Ozay ingat persis ada dua buku tentang Aceh yang diterbitkan di Istanbul. Salah satu di antaranya adalah sebuah terjemahan singkat sejarah Aceh berjudul "Ace Sumatera Dosyası"; dan satunya lagi adalah terjemahan dari The Price of Freedom: Diari Tgk. Hasan Mohamad di Tiro yang belum Selesai. Oleh karena itu Mehmet Ozay bersyukur ketika dirinya tiba di Aceh, meskipun tidak banyak, dia memiliki pengetahuan tentang latar belakang dan kondisi di Aceh.

Meskipun dampak tsunami terhebat memukul wilayah Aceh, bagian paling utara pulau Sumatra, lembaga-lembaga internasional terlambat menyentuh kenyataan di sini. Indikasi sebab Aceh kehilangan kontak dengan dunia luar adalah dikarenakan konflik. Kekurangan pengetahuan tentang Aceh juga dialami oleh Turki. Awalnya, masyarakat Turki mengetahui bencana tsunami di Pulau Maladewa di mana beberapa pesepak bola Turki sedang menghabiskan masa liburannya dan beberapa destinasi pariwisata sebagaiamana yang terlihat di layar televisi.

Beberapa waktu kemudian, Aceh muncul penuh dengan kenyataannya! Di sisi lain, ada kalangan di Turki yang memiliki sejarah pribadi dengan Aceh menulis beberapa hal esensial mengenai Aceh. Salah satunya adalah Coşkun Aral yang mengeluarkan sebuah karya berjudul ‘Açeli Türkler’ pada tanggal 31 Desember 2004. Tulisan ini dimuat dalam Sabah, sebuah koran harian. Coşkun Aral mengingatkan pembaca-pembaca Turki ikatan sejarah dengan Aceh yang berkembang pada pertengahan abad ke-16.

Coşkun Aral turut memperkaya ulasannya dengan simbol bendera Aceh-bulan sabit dan bintang didampingi dua garis di atas dan bawah-, sebuah foto makam Sultan Iskandar Muda dan makam-makam penting lain yang berdekatan dengan sebuah persawahan.

Mehmet Ozay memiliki kesempatan berjumpa dengan Coşkun Aral di Aceh, salah satu gambar mesjid di Bitai hasil rekaman fotografer internasional berkebangsaan Turki tersebut pun menghiasi lapik belakang buku Mehmet Ozay "Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda" tersebut.

Saya hanya mengutip sedikit saja tentang Mehmet Ozay masa pertama ke Aceh dan pengetahuannya tentang Aceh jauh tahun sebelum ia ke daratan utara Sumatera ini. Tentang pengabdiannya untuk Aceh selama di Sumatera dan Semenanjung, yang merupakan sebuah sejarah besar bagi hubungan Aceh dengan Turki di zaman ini yang terhubung dangan masa silam, biarlah dibaca sendiri oleh sekalian orang di dalam bukunya tersebut.


Oleh Thayeb Loh Angen
Catatan:
Sebagian besar tentang Mehmet Ozay di atas merupakan kutipan daripada buku "Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda" karya Mehmet Ozay, Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT). Buku tersebut diluncurkan pada 19 Nopember 2014 di Aceh Community Sultan II Selim, Banda Aceh.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki