Tempat Bersejarah Lamuri Rawan Perusakan dan Mesum

Pantai dekat tempat bersejarah di Lamreh, Aceh Besar yang rawan mesum. Foto: Ist.
Adalah sebuah kebanggaan tatkala tempat bersejarah mulai dikunjungi oleh orang-orang di Aceh, seperti di bekas kerajaan Lamuri di Lamreh, Kec Mesjid Raya, Aceh Besar. Namun, tempat itu masihlah hutan belantara, tidak dijaga, tidak dirawat, dan jauh dari pemukiman penduduk.

Kunjungan-kunjungan yang tidak tersaring akan menimbulkan bencana, seperti perusakan bukti sejarah dan perzinahan. Kemarin, 24-25 Nopember 2014, bersama beberapa orang aktivis kebudayaan, saya mengunjungi tempat bersejarah tersebut dan sebuah pantai indah di dekatnya.

Beberapa pasangan muda-mudi menuju sebuah tempat di samping bekas kerajaan itu. Tempat itu adalah pantai indah di timurnya. Salah satu tempat itu adalah berada di Jurung Ujoe Keulindong, yang menuju pantai dari jalan Banda Aceh-Lawueng. Begitupun di Blang Ulam, lebih ke timur lagi, dan tempat lain di sekitar.

Jalan ke sana melewati beberapa bukit landai yang bersih dari belukar dihiasa tanah berbatu dan rumput yang rendah selalu, dilengkapi oleh sedikit berlukar yang bertumpuk-tumpuk dan pohon-pohonan yang jarang. Tidak ada pemukiman penduduk, dan seorang di sana mengambil uang masuk untuk setiap kendaraan, akan tetapi tidak dijaga, menjelang matahari terbenam di sana masih ada orang, tidak ada teguran dari orang yang mengambil uang masuk tadi.

Padahal sebelum berita tentang tempat makam raja-raja Lamuri dan pantainya yang indah diberitakan di media-media dalam bulan ini, tidak ada orang yang menuju tempat itu. Itu adalah tanah belukar yang luas dan tidak ada pemukiman penduduk. Pasangan muda-mudi yang ke sana atau siapapun yang bukan muhrim sebaiknya dilarang masuk.

Selain di pantai itu, bukit Lamreh yang di sana ada makam-makam penting pun sebaiknya mulai dijaga oleh penduduk atau pemerintah gampong sekitar, harus ada aturan yang menyaring siapa saja yang masuk ke sana.

Tempat itu masih di dalam masa penelitian, belum pun menjadi tempat meuramien (wisata). Sebaiknya, hanya peneliti yang diizinkan masuk ke sana sebelum dibangun menjadi tempat meuramien sejarah yang sesuai dengan Islam.

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki