Siapa Pembuat Nisan Aceh dan di mana Dibuatnya?

Thayeb Loh Angen di Blang Ulam, Lamreh, Aceh Besar. Di dekat pantai terindah di Pulau Sumatera itu terdapat reruntuhan bangunan yang terbuat dari batu karang yang direkatkan dengan pasir dan kapur. Belum bisa dipastikan itu bangunan apa dan di zaman siapa. Selasa 30 September 2014. Foto: Ariful Azmi Usman.
Pada waktu usai senja hari bulan 30 September 2014 lalu, di tengah rehat setelah penelitian bekas kerajaan Lamuri di Lamreh Aceh Besar, terjadilah percakapan yang dihadiri Tuan Taqiyuddin Muhammad (dari CISAH), Irfan M Nur (dari Glamour Pro dan Rumoh Manuskrip Aceh), RA Karamullah (dari Glamour Pro), M Yusuf S Paru (dari Aceh Multivision), seorang anggota Aceh Multivision, dan Ariful Azmi Usman (dari PuKAT).

"Di kampung manakah di Aceh nisan-nisan Aceh itu dibuat?" Tanya saya kepada peneliti kebudayaan Islam Tuan Taqiyuddin Muhammad.

"Itu hal yang tidak perlu ditanyakan," jawabnya. Lalu dia melanjutkan alasannya untuk menguatkan bahwa itu tidak perlu dipertanyakan.

Saya mendengarkan penjelasannya dan menangkap kalimat yang tidak dia ucapkan akan tetapi tersirat; bahwa pertanyaan itu tidak bisa dijawab sebelum semua nisan yang jumlahnya ribuan itu bisa ditemukan dan dibaca, dan mempertanyakan hal tersebut akan mengacaukan arah penelitian itu sendiri dan melemahkan semangat kawan-kawan yang baharu belajar. Saya menyadari bahwa itu pertanyaan yang berbahaya dan Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) tidak meneliti nisan-nisan itu.

Walaupun begitu, saya lebih mementingkan sesuatu yang berhubungan dengan pembuatan (produksi) dan semua hal yang terkait dengannya seperti tempat, bahan, pembeli, dan tukang. Apabila itu diketahui maka lengkaplah buktinya. Mungkin karena kakek (ayah dari bapak) saya adalah seorang tukang (utoh) yang dari pihak Ibunya berdarah ulama, dan Ibu saya bergaris darah seniman dan pengusaha. Hehe.

Nisan itu telah terbukti ada, tentu saja ada tukang pembuatnya, tempat dibuat, bahan untuk nisan dan alat pemahat, pemesannya, serta armada pengangkut semua bahan. Bagi saya itu penting karena tidak ada satupun yang terjadi kebetulan. Nisan-nisan Aceh yang ajaib itu tidak terjatuh dari langit atau dimuntahkan oleh ikan dari laut, akan tetapi dipahat dan diangkut oleh manusia yang beradab.

Atau kalau itu tidak mahu dijawab dan dianggap tidak penting atau dianggap tidak mungkin dilacak, maka itulah bagian saya, niscaya saya akan melacak tentang siapa tukang pembuat nisan-nisan ajaib itu, di mana dibuat, siapa pemesan, dan berapa harganya serta lama pembuatan menurut curak dan zaman, dan sebagainya. Itulah mungkin penelitian saya atau saya akan meminta rekan-rekan yang ahli untuk menelitintya.

Ini persis sepucuk meriam Lada Sicupak buatan Turki. Dibuat di Istanbul oleh tukang dari Istanbul atas perintah raja Rum (sultan Turki atau khalifah Turki Usmaniah) dan diangkut ke Aceh atas perintah raja Rum. Lalu setelahnya, semua meriam di Aceh dibuat di Banda Aceh oleh tukang dari Istanbul dan Aceh dengan bahan-bahannya dari Turki dan Aceh. Dan, celakanya, bajak laut Belanda telah merampasnya dan kini bukti sejarah itu ada di negeri mereka.

Apabila kelak terjawabnya pertanyaan saya tersebut maka akan semakin nyatalah  pula bahwa Aceh sebagai sebuah negeri berperadaban maju di masa kegemilangannya, sebuah negara produsen (pembuat benda-benda) dan pembentuk pengetahuan (pembuat teori filsafat di berbagai bidang pengetahuan).

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki