Sastrawan Aceh Hendaknya Memasyhurkan Bahasa Jawi

Sastrawan, yakni penulis novel, cerpen, puisi, hikayat, pantun, yang ada di Aceh atau keturunan Aceh sudah masanya untuk kembali kepada jati diri kita dengan memasyhurkan kembali bahasa kita sendiri, bahasa Jawi (Melayu-Sumatera) yang telah berjaya semenjak Samudera Pasai berdaulat.

Sudah terbukti bahwa peradaban kita maju di masa kita menunjukkan jati diri bangsa kepada dunia, di mana pada zaman itu kitalah yang mengajarkan bahasa kepada orang lain di negeri-negeri berbahasa Melayu di Asia Tenggara. Masa-masa itu akan kembali, dan mesti kita kembalikan!

Sudah pun kita lihat bahasa kita terusak sejak mengikutikan diri akan orang lain, bahkan kita tidak pun dimunculkan di atas walaupun bakat dan kecerdasan kita di atas mereka. Oleh karena itu, apabila ingin menjadi sastrawan sejati maka masyhurkanlah bahasa indatu kita sendiri, bukan menjadi perusak bahasa dengan mencampur-adukkannya dengan bahasa lain.

Kita masih bisa menyaksikan dan membaca tulisan-tulisan penulis di masa gemilang yang kini kita sebut kitab Jawi. Mereka telah menulis buku pada masa ratusan tahun sebelum kita hadir di bumi, dan di kala itu orang Eropa masih berada di dalam kegelapan.

Kembali tanyakanlah pada diri kita sendiri, apa yang kita mahu carikan di dalam dunia tulis menulis ini, apakah semata kemasyhuran, belanja, atau apa sahaja? Apapun yang kita cari, maka kemasyhuran dan semacamnya pastilah kita dapat.

Namun apabila kita tidak ingin memperbaiki bangsa dengan dakwah di dalam tulisan-tulisan kita, maka apabila kita mati, selesailah sudah itu bahkan akan diminta pertanggung-jawaban oleh Tuhan. Bahkan kadang di saat kita masih hidup pun telah dianggap tidak ada karena kita tidak ada gunanya buat orang lain, untuk bangsa.

Maka gunakanlah kemampuan kita di dalam menulis untuk memperbaiki peradaban bangsa ini, untuk menyelamatkan budaya kita, untuk memperbaiki akhlak (moral) bangsa kita, untuk memajukan pemikiran anak negeri, untuk beribadah kepada Allah Ta'ala, sebagai hadiah akan bangsa ini. Sarungkan rincong ambil pena.

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki