Rahasia di Balik Berdirinya Mesjid Assa’adah Tgk Chik Di Paloh

Pemandangan meunasah dari atas atap mesjid Assa'adah Tgk Chik Di Paloh, Paloh Dayah, Lhokseumawe, Aceh pada 7 Oktober 2014. Foto: Lodins
Di Kota Budaya Paloh Dayah, Lhokseumawe, ada satu orang (namanya saya rahasiakan untuk menjaga nama baik walaupun sebenarnya orang itu tidak punya nama baik). Ia merupakan sepupu saya sendiri karena ayahnya adalah satu ibu dengan ayah saya. Orang ini memiliki kelicikan, angkuh, dan pandai membual.

Ia pernah ke sebuah dayah selama beberapa tahun, lalu berhenti dan pulang ke Paloh Dayah kemudian membual bahwa ia belajar agama hampir selama dua puluh tahun. Ia bersikap seolah-olah dia adalah ulama besar walaupun saat itu bacaan ayat di dalam shalatnya saat jadi imam shalat, kurang fasih, dan hukum fiqih pun ia tahu alakadar. Bahkan di Paloh Dayah ada beberapa orang lain yang lebih pandai ilmu agama dan lebih lama di dayah daripadanya.

Ia membangga-banggakan dirinya, suka berdebat dan merendahkan orang lain yang bicara dengannya, itu dilakukannya untuk membuat orang lain menganggap dirinya pandai, selain itu dia pun mengaku belajar ilmu mantra-mantra untuk menakut-nakuti orang, supaya orang-orang di sana menganggapnya lebih hebat daripada tabib yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Orang ini ingin menjadi orang yang paling terpandang di sana. Ia juga membangga-banggakan balai pengajiannya.

Pada suatu ketika, penduduk Paloh Dayah ingin mendirikan kembali mesjid di sana, karena di masa dahulu di situ pernah didirkan sebuah mesjid oleh Tgk Chik Di Paloh. Dan pangkal (modal) untuknya telah ada sepetak tanah yang diwaqafkan oleh ayah kami, Tgk Sulaiman bin Dadeh. Semua orang Paloh Dayah, termasuk tokoh gampong setuju, akan tetapi orang ini menolaknya.

Si pembual itu ingin mesjid didirikan tatkala muridnya sudah dianggap mengetahui agama lebih banyak dan dia sendiri bisa dipilih menjadi imam mesjid, padahal sebagai imum meunasah pun dia belum bisa dipercaya. Maka orang-orang pun menunda rencana tersebut karena saat itu si penipu ini telah menjadi pemuka agama di sana, yang ditunjuk karena sebuah kecelakaan, artinya ia bukan yang dijagokan walaupun telah sekian lama membual bahwa dirinya hebat.

Pada suatu hari, orang yang paling berminat mendirikan mesjid pun berkata pada saya tentang niatnya dan berkeluh kesah tentang penolakan rencana tersebut oleh si pembual yang saya sebutkan tadi.
Maka saya tanya kepada Tgk tadi, "Apakah Tgk benar-benar ingin mesjid itu didirikan di kampung kita?"

Dan dia pun mengiyakan dengan mantap. Lalu saya memberikan sebuah saran, ia membantahnya pertama kali, akan tetapi kemudian dengan setengah yakin dia pun setuju melakukannya.

Maka dibuatlah sebuah rapat kecil di rumahnya, dihadiri oleh beberapa orang tokoh pemuda dan Kampong, salah seorang dari mereka kini menjadi geuchik di Paloh Dayah. Salah satu dari mereka langsung memberikan uang sebanyak Rp 50 ribu untuk membuat stempel. Itu adalah sedekah pertama untuk mesjid yang kini bernama "Assa'adah Tgk Chik Di Paloh" selain sepetak tanah yang diwaqafkan oleh ayah kami sekitar dua puluh tahun sebelumnya.

Kemudian dibuatlah rapat gampong khusus untuk menguatkan rencana pendirian mesjid, dan dalam kepengurusan panitia pembangunannya, tidak ada nama si pembual itu karena ia memang tidak setuju mesjid didirikan.

Maka waktu pun berjalan, waqaf-waqaf pun berdatangan sedemikian cepatnya sehingga tapak dasar (pondasi) mesjid pun telah didirikan. Saat itu, ibu saya, Cut Zubaidah binti Teuku Juhan, telah shalat di atas tanah yang baru ada pondasi mesjid tersebut, dua rakaat shalat hajat. Jadi sejarahnya pun lengkap, ayah kami pewaqaf tanah yang pertama dan ibu kami adalah orang yang melaksanakan shalat pertama kali di sana.

Dan, setelahnya, begitu melihat mesjid sudah mulai dibangun dan tidak bisa dihentikan lagi serta sudah mulai banyak uang, maka si pembual melakukan sebuah sabotase dengan memperalat seorang pemuda di sana, tetangganya yang suka bersuara lantang. Lalu ketua panitia pembangunan yang diangkat oleh masyarakat pun mengundurkan diri, dan si pembual naik sebagai gantinya.

Yang membuat saya terlegitik sampai kini, si pembual itu dianggap orang alim yang mendukung agama. Ia masih membual bahwa tanpa dia mesjid itu tidak akan berdiri. Satu lagi karena saya sesekali meluruskan kesalahannya, dia pun memfitnah saya sebagai orang yang mengganggu pembangunan gampong.

Tidak cukup di Paloh Dayah saja, ia bahkan memfitnah saya kepada tokoh di kampung tetangga seperti di Paloh Meuria dan Paloh Punti karena si pembual itu tahu bahwa saya punya nama baik di kampung-kampung itu. Akan tetapi saya tidak memiliki waktu untuk meluruskan kedunguan itu melainkan apabila ada orang yang menanyakannya langsung kepada saya disebabkan saya percaya akan kekuasaan Allah Ta'ala.

Yang aneh, sebagian tokoh itu percaya pada bualan si penipu itu dan menganggapnya sebagai pahlawan, sementara, saya yang merancang strategi supaya mesjid itu berdiri dianggap pengganggu. Juga, seabenarnya, seluruh rancangan mesjid, jaringan pewaqaf, khatib, dan sebagainya adalah diurus oleh Tgk yang dahulu rumahnya tempat rapat pembentukan mesjid untuk pertama kalinya.

Dan kini kabarnya, Tgk itu telah mengundurkan diri dari kepengurusan panitia pembangunan mesjid. Parahnya lagi, si pembual itu lagi-lagi memfitnah bahwa Tgk tadi mengambil uang mesjid; sementara pada kenyataan adalah sebaliknya karena Tgk tersebut dikenal sebagai salah satu orang paling jujur di wilayah tersebut. Kejujurannya membuat panitia pembangunan mesjid di gampong tetangga tetap bersikeras mempertahankannya mengurusi uang mesjid walaupun dia sendiri telah berkali-kali menyatakan ingin undur diri dari tanggung jawab tersebut yang sudah dijalaninya selama bertahun-tahun.

Satu lagi, pada bulan Ramadhan 1435 H, puluhan murid dayah yang berasal dari beberapa gampong di Mukim Paloh membuat acara silaturrahim untuk menguatkan rencana pendirian kembali dayah Tgk Chik Di Paloh. Walaupun telah diundang, akan tetapi tidak ada seorang pun dari tokoh gampong yang hadir.

Dugaan kuat mereka, usaha pendirian kembali Dayah Tgk Chik Di Paloh dihalang-halangi oleh si pembual tadi karena diperkirakan ia takut apabila dayah itu berdiri maka pengaruhnya di Paloh Dayah akan lenyap karena dia memiliki banyak kekurangan untuk dipercaya mengurusi dayah.

Kemungkinan ia menyadari bahwa kedunguan dan keburukan perangai membuatnya tidak sesuai untuk dijadikan guru apalagi pemimpin di dayah, kecuali melalui cara licik dan curang sebagaimana yang dilakukannya dengan ketokohan agama di gampong dan kepengurusan pembangunan mesjid.

Itulah yang terjadi di Paloh Dayah, pengkhianat dan penipu dianggap terhormat, dan orang tulus dan jujur dikucilkan dan difitnah. Saya menyampaikan ini karena kebenaran harus diungkapkan dan orang-orang tidak lagi tertipu dengan ija ridak (kain yang disangkutkan di leher) dan ucapan nama Tuhan oleh si pembual. Semoga Allah Ta’ala membuka pintu hidayah kepada kita semua. Amin.

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki