PuKAT Tinjau Penelitian Makam Raja-raja Lamuri


Aktivis dari PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) Thayeb Loh Angen tengah mendengarkan penjelasan dari sineas-aktivis kebudayaan Irfan M Nur yang ikut tim peneliti  sekalian ahli bidang yang terdiri dari Dr Husaini Ibrahim, Taqiyuddin Muhammad, Dr Supriyetno, dan seorang profesor dari USM Malaysia di Lamreh, Aceh Besar, Selasa 30 September 2014.  Foto: Ariful Azmi Usman.

Banda AcehAktivis dari Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) Thayeb Loh Angen mengunjungi tempat penelitian makam raja-raja Islam (sultan) Lamuri, Lamreh, Aceh Besar, Selasa 30 September 2014. Kunjungan tersebut dilakukan atas dasar simpati terhadap penelusuran riwayat raja-raja Islam di sana.

Makam yang terlihat di gambar berada di puncak tertinggi bukit Lamreh dan merupakan makam bernisan terbesar sehingga peneliti meyakini bahwa itu adalah makam orang yang lebih penting daripada raja-raja yang makamnya berada di tempat yang lebih rendah daripadanya di tempat tersebut. 

"Puncak tertinggi yang memiliki dataran melandai ini punya dinding-dinding karang yang direkatkan dengan semen yang kini telah runtuh mengelilingi tepian datarannya. Di bawah bagian timurnya terdapat benteng Kuta Leubok. Tempat ini diyakini sebagai bandar utama atau bandar raya (ibu kota) daripada kerajaan (kesultanan) Lamuri," kata Thayeb Loh Angen yang didampingi oleh anggota PuKAT Ariful Azmi Usman.

Thayeb mengatakan, belum ditemukan adanya hubungan Aceh di masa Lamuri dengan Ottoman (Turki Usmani). Kedekatan Lamuri dengan India, Persia, dan Arab. Walaupun belum ditemukannya bukti hubungan tersebut, kata Thayeb, masih terbuka segala kemungkinan karena Aceh adalah bangsa pelaut yang tangguh selama ratusan tahun yang melindungi lintasan di perairan Selat Malaka. 

Aktivis dari PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) Thayeb Loh Angen (kanan) tengah dan sineas-aktivis kebudayaan Irfan M Nur berabadi gambar di tebing bukit Lamreh di sela-sela penelitian makam raja-raja Lamuri, Selasa 30 September 2014.  Foto: Ariful Azmi Usman.
"PuKAT tidak ikut meneliti tentang Lamuri sehingga belum ada rencana membuat seminar atau konferensi untuknya. Ini untuk menjaga hubungan di antara organisasi dan membiarkan perguruan tinggi dan lembaga kebudayaan yang selama ini telah berlumuran lumpur dan debu serta dibasahi oleh hujan dalam mencari datanya. Aceh atau Indonesia tidak bisa menyebut USM melintasi batas negara karena negeri-negeri di Malaysia dahulunya termasuk ke dalam wilayah lindungan Aceh," kata Thayeb.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Dr Husaini Ibrahim dan diperkuat oleh peneliti kebudayaan Islam Taqiyuddin Muhammad, Dr Supriyetno, dan profesor dari USM Malaysia. Penelitian ini melibatkan belasan anggota dari Aceh, Medan, dan Malaysia. Banyak penemuan baru yang belum masanya disiarkan kepada masyarakat karena belum ditelaah secara resmi oleh sekalian peneliti.pd
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki