P Ramlee yang Dihargai Setelah Mati


Sebelum ini saya takjup akan negara Malaysia yang begitu menghargai P Ramlee, dan menurut kabar pun sekalian sastrawannya. Beberapa bulan lalu, seorang kawan yang bernama Muzakir, ianya sering pulang pergi Aceh - Malaysia menceritakan bahwa pengagum P Ramlee membuat P Ramlee baru secara hidup.

Menurutnya, ada seorang yang dikhususkan berpenampilan sebagaimana P Ramlee secara nyata, dan beberapa orang lain menyerupai kawan P Ramlee. Bahkan mereka mempunyai hidangan pagi berupa kopi dan pisang sebagaimana kebiasaan seniman keturunan Aceh tersebut. Dan, film P Ramlee diputar 24 jam setiap harinya tanpa henti di rumah kediamannya, sampai sekarang masih pun begitu.

Ketakjuban saya bahwa P Ramlee dihormati sebagai seniman agung di Malaysia yang dipuja-puja karya dan kehadirannya semasa hidup, ternyata hanyalah mitos. Setelah saya membaca buku karangan Zadi Zolkafli yang berjudul 'Koleksi P Ramlee' yang diterbitkan di Kuala Lumpur pada 2011, mitos itu pun runtuh seketika, dan saya pun merenung sejenak.

Ternyata, P Ramlee tidak seberuntung yang saya duga semasa dia hdup. Namun Malaysia secara cepat menyadari kekeliruannya, dan bangsa Melayu itu pun mengangkat P Ramlee lebih tinggi daripada langit ke tujuh. Namun, itu untuk Malaysia bukanlah lagi untuk P Ramlee.

"P Ramlee adalah keturunan Aceh" begitulah tulis Zaedi Zolkafli. P Ramlee dilahirkan di Pulau Pinang pada 22 Maret 1929, ayahnya Teuku Nyak Puteh dari Paloh Pineung, Lhokseumawe, Aceh. Selama hidup dia telah mencipta 401 lagu dan puluhan film, mendapatkan juara film di Malaysia dan Jepang.

Namun, penghargaan yang patut untuk mendukung impiannya memajukan film Malaysia tidak dijumpainya tatkala hidup. Setelah berjaya dengan perusahaan rekaman Singapura, P Ramlee berkarya di Kuala Lumpur. Namun yang dia alami tidaklah seindah impian. Dia pernah disuraki suruh turun dari panggung tatkala tengah bernyanyi.

Lagu terakhirnya berjudul "Air Mata di Kuala Lumpur" pertanda kekecewaannya karena gagal mewujudkan impiannya setelah hijrah ke Kuala Lumpur. Pada 29 Mei 1973 ia meninggal dunia karena sakit jantung. Sejak itulah ia dihargai oleh bangsa dan negaranya. Dan namanya sering dijadikan alat kampanye politik. Ironis.

Pada 6 Juni 1990, P Ramlee dianugerahkan derajat kebesaran negara pangkat kedua dengan julukan " Panglima Setia Mahkota". Itu 17 tahun setelah dia meninggal dunia. Julukan 'Tan Sri" diberikan oleh Runne Shaw, seorang pengusaha Malay Film Productions, pada 2 Junji 1965 tatkala Singapura akan berpisah dari Malaysia.

Julukan kebesaran lain diberikan setelah P Ramlee tiada.  Dan, Malaysia yang menyadari kesalahannya pun segera bertindak, dengan sepuluh langkah, P Ramlee dibuat lekat dengan telinga dan lidah serta ingatan setiap orang di Malayia serta disiarkan ke luar negara.

Malaysia kini mengangkat nama P Ramlee sampai ke langit ke tujuh karena di masa hidupnya P Ramlee telah mengangkat Malaysia ke langit ke sembilan. Apakah kebesaran P Ramlee bisa menjadi percerahan bagi orang Aceh untuk berkarya lebih baik dan menjadi orang besar?

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki