Merespon Hasil Seminar On Islamic Teachings: Dialogue, Peace and Conflict Resolution in Aceh

Oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki)

Berdasarkan publikasi Serambi Indonesia tanggal 18/10/2014 bertajuk ‘Akademisi Berperan dalam  Mengkampanyekan Islam Damai’ mengulas tentang Seminar On Islamic Teachings: Dialogue, Peace And Conflict Resolution yang diadakan di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh hari Jumat minggu lalu.  Dalam berita tersebut,  Seminar ini telah  melahirkan beberapa masukan. PuKAT sebagai organisasi dengan konsentrasi budaya merasa perlu memberikan peran lewat tanggapan-tanggapan yang diharapkan dapat menjadi pertimbangan tambahan untuk berbagai kalangan masyarakat di Aceh. Berikut adalah masukan-masukan dari seminar tersebut sekaligus respons dari PuKAT.

1). Aceh perlu memperbaiki kesatuan internal

Tidak ada yang menyangkal kebenaran pernyataan di atas. Tapi untuk mulai membangun kesatuan tersebut, yang pertama harus dikerjakan adalah terbangunnya kesatuan identitas berdasarkan sejarah, tradisi, dan agama.  Kesatuan ini terlebih dahulu perlu dimulai antara institusi-institusi pendidikan tinggi modern dengan institusi-institusi pendidikan tradisional. Mereka harus belajar untuk tidak menyudutkan satu sama lainnya baik secara ide ataupun praktis.

Kesatuan ini akan menuntun pada penglihatan yang jelas terhadap definisi permasalahan-permasalahan Aceh yang sebenarnya. Sepertinya realita diatas bisa dimulai dengan jawaban dari pertanyaan, apakah ada undangan terhadap tokoh keagamaan atau kelompok-kelompok dari institusi pendidikan tradisional ketika Seminar ini berlangsung atau kurangnya minat yang ditunjukkan oleh kelompok kedua? Atau mereka memang dikesampingkan?

2). Syariat Islam harus menjawab persoalan good governance, kesejahteraan, ekonomi masyarakat, dan pendidikan

Pernyataan diatas adalah ungkapan-ungkapan yang sudah terdengar sejak awal implementasi Shariah Islam di Aceh. Tapi persoalannya, pegawai-pegawai dinas shariah Islam dari kalangan atas hingga bawah tidak merasa terdampingi dengan institusi institusi sekuler. Good governance, menurut penglihatan dinas diatas berasal dari sistem pemerintahan sekuler yang bersebrangan dengan sistem Islam.

Jika mind-set telah terbentuk seperti ini, maka mengharapkan hanya pihak Dinas Shariah Islam duduk bersama di satu meja, membicarakan upaya-upaya untuk mencapai good governance, barangkali tidak cukup mampu memberikan jawaban seperti yang diharapkan. Jadi, harus ada kelompok konsultan dari berbagai latar pengetahuan dan praktis yang diputuskan oleh pihak Shariah Islam sendiri, karena, ingin diakui atau tidak, pengetahuan rata-rata pegawai dinas shariah Islam tentang good governance hanya berada pada tahap  preliminary saja.

Diyakini dalam fenomena selama ini, ada hal-hal yang baik sekaligus Islami yang tersebut dalam good governance tapi karena datangnya dari sistem sekuler maka pemikiran dan prospek praktisi lebih dipengaruhi oleh prasangka. Tidak bisa disangkal bahwa selama tidak membuka ruang untuk kelompok dengan ide berbeda, persoalan masyarakat Aceh yang sebenarnya tidak akan mampu didefinisikan. Jadi bagaimana ingin mengharapkan solusi datang?

3). Perguruan tinggi Islam harus tampil sebagai komunitas Islam moderat

Dalam konteks Aceh, terminologi ‘moderat’ diatas sedikit membingungkan. Kata ‘moderat’ biasanya, jika ia bermakna anjuran, disematkan pada kelompok-kelompok yang berpikiran dan berpraktik fundamentalis. Apakah mereka yang member masukan ini mengganggap Islam di Aceh adalah Islam fundamentalist?

Perlu ditegaskan untuk tidak mencampur adukkan ideologi yang dipromosikan secara turun-temurun oleh Barat kepada Timur tengah dan menyetarakan penggunaanya terhadap wilayah-wilayah Muslim lainnya didunia, apalagi dengan mengait-ngaitkannya dengan kenyataan ISIS sekarang. Selain itu, kalimat ‘Islam moderat’ adalah subjek yang sangat-sangat post modern yang aplikasinya telah dapat mencapai masyarakat-masyarakat yang telah melalui proses dari transformasi klasikal. Tapi Aceh masih merupakan masyarakat transisi yang masih harus bergelut dengan persoalan-persoalan identitas, kenyataan-kenyataan sosial berdasarkan geografi tertentu, dan masih belajar menanggapi pengaruh luar.

Islam di Aceh adalah Islam yang mempromosikan kedamaian. Secara sejarah kalimat sebelumnya sudah terbangun dengan baik. Tapi sekurang-kurangnya dimulai dari tahun 1873 hubungan antara masa lalu dengan masa modern Aceh terputus dengan hebatnya dikarenakan ratusan tokoh-tokoh keagamaaan syahid dan warisan-warisan intelektual dari mereka habis terbakar. Jadi institusi pendidikan Islam, baik yang modern maupun yang tradisional harus menemukan kembali apa yang telah hilang tidak hanya secara praktikal tapi juga secara mental.

4). Pendidikan perlu dikemas dalam desain kurikulum Islam yang damai

Islam dalam kosakata bahasa Arab berarti damai. Jadi apa yang dimaksudkan dalam hal ini? Jika konotasi diatas dicampur-adukkan dengan kenyataan hukuman-hukuman yang diimplementasikan shariah Islam atau pendidikan Jihad di Institusi Islam maka ada kebutuhan untuk melihat secara keseluruhan. Damai dalam Islam berarti tanggung jawab. Bahkan aksi disiplinari dalam Islam bertujuan untuk mendirikan kedamaian baik untuk individual atau untuk masyarakat.

5). Akademisi harus tahu menempatkan diri secara keilmuan dan ranah praktisi

Benar sekali. Tapi ini tidak bisa diselesaikan oleh masing masing individual tapi harus melalui perkembangan kebijakan institusi itu sendiri, aplikasi anggaran, dan keterlibatan mereka dengan masyarakat secara setara.

Untuk mewujudkan hal ini barangkali diperlukan 3 sistem kelompok; 1). Akademik, 2). Pemerintah, 3). Sektor swasta dan umum.  Semua kelompok ini bekerjasama secara sejajar dan mengambil kewajiban yang berbeda melalui transparansi dan kerjasama penuh. Nah, katakanlah ini sistemnya. Lalu bagaimana shariah Islam berkontribusi didalamnya? Disinilah letaknya implementasi teori dan praktis keagamaan. Setiap kelompok Muslim perlu membumikan kinerja-kinerja yang jujur, sadar lingkungan, dan konsisten terhadap hak-hak kelompok dan hak-hak lingkungan, yang secara jelas telah diprioritaskan dalam Islam.

6). Kurikulum pendidikan perlu memperhatikan cross cultural dan cross religion

Lagi-lagi kita kembali pada poin bagaimana masyarakat Aceh perlu memulihkan budaya dan identitasnya sendiri terlebih dahulu. Cross Cultural dan religion akan dialami oleh masyarakat Aceh ketika mereka bersinggungan dengan orang non-Aceh di Indonesia dan Internasional dimana mereka akan menghadapi berbagai dilema secara kejiwaan dan fisik yang menuntut penyelesaian-penyelesaian dari kepribadian sendiri.

Nah, jika kepribadian itu tidak dipenuhi dengan penemuan terhadap identitas dan budaya sendiri, setiap generasi akan terjebak dalam inferioriti. Contoh, coba kita lihat kondisi kejiwaan generasi Aceh tingkat SMA dan universitas dihadapan kelompok kelompok non-Aceh yang misalnya dari Jakarta atau internasional.

Kita ambil contoh yang paling sederhana, yaitu Jilbab. Berapa banyak mereka yang memakai Jilbab selama di Aceh dan kemudian melepaskannya ketika berada diwilayah selain Aceh atau diluar negeri. Apakah ini yang disebut cross culture and religion?. Tentu tidak. Esensinya, cross culture bagi masyrakat Aceh pada masa ini adalah kemampuan memahami dan menghargai perbedaan budaya dan agama lainnya tanpa harus terpaksa mengubah atau mengenyampingkan identitas dirinya.

7). Pendidikan harus bebas dari etnosentrisme


Adakah pendidikan yang bersifat ethnocentrisme di Aceh? Hingga saat ini diketahui pencipta kurikulum di Aceh bersumber dari dinas kementrian pendidikan Indonesia yang memprioritaskan neutralitas pendidikan dalam segala aspek. Ethnocentrisme untuk bagian tertentu penting dimiliki misalnya dalam tahap pembentukan dan aplikasi kebijakan lokal. Sejauh ini, ethnocentrisme di Aceh masih berada dalam tahap wajar karena belum ditemukan indikasi-indikasi anarkisme yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh. Jikapun ada, itu bukan dilandasi oleh sifat kesukuan tapi lebih pada faktor politik. (PuKAT/19 Oktober 2014).

PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki) merupakan sebuah organisasi antar bangsa yang bergerak di bidang kebudayaan, berpusat di Banda Aceh.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki