Mengapa orang Aceh Menyebut Rum untuk Turki?

Anggota DPD RI senator Aceh Fachrul Razi dan buku 'Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda' di dalam sebuah kesempatan di Banda Aceh.
Ada apa dengan Turki di dalam sejarah dan kebudayaan orang Aceh? Kata Turki baru terdengar setelah perang dunia ke II di telinga orang Aceh. Sebelumnya, sebutan yang masyhur untuknya adalah Rum yang menurutkan kata Rum di dalam Al-Quran, yang menjadi nama surat ke 30 dalam kitab suci Umat Islam tersebut.

Surah Ar-Rum terdiri atas 60 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamakan Ar-Rum yang berarti Bangsa Romawi (Bizantium). Namun di sini kita tidak tengah membicarakan sebutan di dalam kitab suci Al-Quran tentang bangsa Rum. Itu sudah banyak dibicarakan oleh sekalian ahli tafsir.

Kita pusatkan perhatian dan pembicaraan semata pada bangsa Rum dalam pandangan orang Aceh. Mengapa orang Aceh hanya mengenal Rum bukan Turki. Ini sedikit banyak terkait pada ingatan (memori) sejarah warisan, sebagaimana orang-orang Aceh sebelum ini, akan bingung tatkala disebutkan Singapura, akan tetapi mereka langsung mengerti saat disebutkan Tumasek, sebuah pulau kampung nelayan. Begitu pula orang Semenanjung Melaka dan Singapura yang bingung tatkala disebutkan Aceh Utara atau Lhokseumawe, akan tetapi langsung berbinar matanya ketika disebutkan Pasai.

Menyebutkan Rum untuk Turki menandakan orang Aceh dekat dengan Al-Quran dan tidak berencana mengubah sebuatan tersebut. Bagi Aceh, Rum adalah bangsa perkasa yang menaklukkan benteng terkuat di dunia di zaman itu yang melindungi Kota Konstantin (Konstantinopel) dalam peristiwa penaklukan di bawah pimpinan Sultan Mehmet Al-fatih pada 1453 Masehi.

Dan, sejarah lada Sicupak yang terjadi sekitar tahun 1560-an Masehi membuat Rum menjadi bangsa yang penting bagi Aceh, selain bagi dunia Islam secara keseluruhan.

Dalam bagian sejarah tersebut, Sultan Al-Kahhar Yang Agung mengirimkan utusan ke Konstantinopel untuk menemui sultan Sulaiman Yang Agung demi membeli beberapa pucuk meriam secara pertukaran barang (barter) dan bantuan ahli-ahli perang dalam rangka memperkuat bala tentara Aceh Darussalam yang tengah memerangi Portugis di negeri lindungan Aceh, Semenanjung Melaka.

Disayangkan, sejarah itu tidak ditulis dengan rapi di masanya oleh Aceh sehingga perbedaan tahun, nama orang, dan jumlah bantuan pun sedikit berbeda tatkala diceritakan secara turun temurun, bahkan ianya terkadang menjadi legenda. Namun, Turki menuliskannya dengan baik, tentang apa yang terjadi di Istanbul. Akan tetapi karena Aceh tidak menuliskannya secara baik, maka bagian sejarah tersebut yang berlaku di Aceh telah beragam.

Secara logika sejarah, tanpa adanya sejarah Lada Sicupak, niscaya tidak ada cerita penyerangan Portugis ke Melaka, baik di masa al-Kahhar mahupun di masa Iskandar Muda.

Hubungan langsung yang merasuk ke dalam sistem kenegaraan selama ratusan tahun tersebut telah meninggalkan kesan-kesan abadi pada orang Aceh. Budaya-budaya Turki telah pun tertanam di dalam masyarakat, baik disadari mahupun tidak.

Hubungan Aceh dengan Turki telah terjalin selama sekitar 400 tahun, yang terusak bersama diserangnya Aceh oleh bajak laut Belanda pada 26 Maret 1873. Maka di masa kini, walaupun Aceh Darussalam tidak lagi tersebut sebagai negara orang Aceh akan tetapi Republik Indonesia, dan Turki tidak lagi Kesultanan Turki Utsmani akan tetapi Republik Parlementer Turki, namun sejarah hubungan Aceh dengan Turki terlalu kukuh untuk tergantikan.

Semuanya telah merasuki kebudayaan dan sejarah. Sebagaimana diketahui, sejarah dan kebudayaan tidak mengenal nama negara mahupun tapal batasnya.

Rum tetap menjadi sebuah bangsa yang menjadi abang bagi orang Aceh, dan Aceh menjadi adik di Asia Tenggara dari pandangan orang Turki. Dr Mehmet Ozay, sosiolog asal Uskudar Istanbul di dalam bukunya 'Kesultanan Aceh dan Turki - Antara Fakta dan Legenda' hubungan itu adalah ide orang Aceh, Acehlah yang datang ke Istanbul (Konstantinopel) untuk menjalin hubungan dengan Raja Rum (Sultan Turki) dan disambut dengan baik oleh Raja Rum walaupun di kala itu ada permintaan serupa dari utusan sebuah negeri di India. Namun Raja Rum memilih membantu Aceh.

Pengakuan Turki tersebut terlihat kembali setelah bencana laut smong (tsunami), Tuan Recep Tayyip Erdogan -presiden Turki sekarang- yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Turki pun datang ke Aceh, yang disambut dengan bendera Turki dari Pelabuhan Udara (Bandara) Sultan Iskandar Muda ke Banda Aceh. Semoga Allah Ta'ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya untuk Sultan Al-Kahhar Yang Agung dan Sultan Sulaiman Yang Agung. Salam untuk Raja Rum, pemimpin besar dunia saat ini, Tuan Recep Tayyip Erdogan.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki