Guna Meriam dalam Perang Aceh

Pasukan TNI Kodam Iskandar Muda dari kesatuan Artileri Medan (Armed) melakukan demonstrasi penembakan meriam kaliber 105 mm/Howitzer ke udara pada HUT Ke-69 TNI di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Selasa (7/10/2014). Foto: Serambinews.com 
Saya tertarik membaca sebuah berita berjudul “Meriam Itu untuk Kondisi Tertentu” yang disiarkan oleh Serambinews.com pada Rabu, 8 Oktober 2014.  Kalimat tersebut merupakan pernyataan Kasdam IM, Brigjen TNI Purwadi Mukson seusai memimpin upacara HUT Ke-69 TNI di Lapangan Blangpadang.

Diberitakan meriam kaliber 105 mm/Howitzer milik Yon Armed 17/105 Laweung yang ditampilkan tersebut di lapangan acara termasuk salah satu Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI terbaru yang dimiliki Kodam IM.

Berita ini mengutip kalimat langsung dari Kasdam, “Itu (Meriam -red) dibutuhkan untuk kondisi tertentu guna memberi bantuan tembakan, apalagi Aceh berada di wilayah perbatasan Indonesia.”

Ketertarikan saya terhadap berita tersebut karena menyebutkan tentang meriam dan kegunaannya. Ini mengingatkan saya akan meriam buatan Turki yang dibeli oleh Aceh Darussalam yang kemudian dikenal dengan ‘Meriam Lada Sicupak’. Itu adalah meriam pertama yang ada di Asia Tenggara, diangkut ke Bandar Aceh sekitar tahun 1560-an. Kemudian daripada itu Aceh Darussalam membuat sendiri Meriam dengan bantuan ahli dan sebagian bahan didatangkan dari Turki.

Saya pun tidak mengerti kondisi tertentu yang dimaksudkan oleh Kasdam karena saya tidak memiliki pengetahuan apapun tentang itu. Namun saya akan mengangkat beberapa guna meriam di masa silam, di masa senjata berat tersebut pertama kali dibuat di Aceh.

Tentu saja kecanggihan Meriam di masa itu dengan di masa ini jauh berbeda, akan tetapi benda itu memiliki kekuatan yang hampir sama walaupun dibuat oleh negara yang berbeda, dan kemungkinan juga kegunaannya pun sama di setiap zaman, yakni, menghancurkan kapal dan benteng pertahanan lawan, serta meruntuhkan mental musuh.

Aceh membeli Meriam dari Turki dan kemudian membuatnya sendiri karena kala itu Portugis yang telah menduduki Melaka yang merupakan wilayah lindungan Aceh memakai meriam di kapal-kapalnya dan telah mendirikan sebuah benteng bernama Lafamosa di Melaka yang juga dilengkapi dengan meriam.

Aceh butuh Meriam untuk menembak kapal-kapal dan benteng Portugis yang telah merampas Melaka yang tentu saja akan mengkafirkan penduduknya setelah dikuasai sehingga Aceh mati-matian berusaha mengusir Portugis dari sana. Ini berarti, meriam bukan untuk menembak orang, akan tetapi untuk menembak benda keras yang tidak mungkin dirusak atau dihancurkan dengan senjata biasa. Meriam adalah senjata berat untuk mengguncangkan mental musuh karena menyadari bahwa andalan mereka bisa dihancurkan.

Dengan gunanya seperti itu, maka meriam tidak akan berguna apabila dipakai melawan pasukan gerilya yang tidak membuat benteng dan tidak naik kapal atau kendaraan besar di darat. Aceh tidak punya perang di daratan Sumatera dalam ukuran besar sampai Belanda menyatakan perangnya pada 26 maret 1873. Sebelum itu Aceh selalu berperang di laut karena menjaga perairan Selat Melaka dari gangguan bajak laut dari Eropa. Kapal-kapal yang terlewatkan dari pantauan Acehlah yang membawa bajak laut yang kemudian menjajah pulau Jawa, Borneo (Kalimanan), Sulawesi, Semenanjung Melayu.

Dengan memiliki senjata yang dibantu buat oleh ahli dari Turki dan tentara yang dilatih oleh Turki Aceh mampu menjaga Sumatera selama ratusan tahun, yang di masa itu pulau Jawa telah tunduk kepada Belanda.

Niscaya, meriam-meriam Aceh banyak dipakai di dalam kapal laut daripada di daratan Sumatera sendiri sehingga setelah kekuatan Aceh dipecahbelahkan oleh bajak laut Belanda dari hujung Sumatera bagian timur dan selatan sampai sebagian utara, Aceh telah kehilangan sebagian besar kapal dan meriamnya karena perang selama ratusan tahun di laut melawan bajak laut dari Eropa seperti dari Portugis dan Belanda, yang semuanya diperkirakan ada Inggris di belakangnya.

Sejarah telah mencatat bahwa sebuah negara, apalagi Indonesia yang memiliki wilayah luas dan dipisahi oleh belasan ribu pulau-pulau memang mesti memiliki senjata berat seperti meriam-meriam dengan mutu yang baik dengan jumlah banyak untuk mempertahankan kedaulatannya. Satu hal yang saya heran dengan Indonesia, mengapa Suharto menguatkan angkatan darat semata, sementara Indonesia adalah wilayah maritim.

Akan tetapi saya tidak terlalu heran dan mereka-reka alasan Suharto, selain ia adalah angkatan darat, kemungkinan besar itu dilakukan karena Indonesia (menurut perbandingan senjata yang saya baca di media online) kekurangan jumlah kapal perang laut dan udaranya apabila dibandingkan dengan wilayah perairan dan udaranya yang begitu luas.

Dari keadaan itu, saya lihat NKRI tidak berusaha keras untuk mempertahankan wilayahnya di tapal batas perairan, apalagi udara, akan tetapi memasang perangkap di darat sehingga setiap serangan oleh ‘tamu kurang ajar’ dari negara luar (yang nekat), setelah ‘disalam-salaman’ oleh marinir dan angkatan udara, niscaya akan disambut dengan ‘penuh hormat’ oleh angkatan darat yang jumlahnya banyak dan dilatih cara perang gerilya.

Akan tetapi, meriam dengan mutu yang baik dan jumlah banyak memang dibutuhkan, karena setelah meriam tidak bisa lagi ditembakkan, seperti nasib negara Kesultanan Aceh Darussalam setelah Maret 1873, sebuah pertahanan langsung sebuah negara segera bisa ditaklukkan oleh musuh yang menyerang walaupun sisa-sisa pasukannya melawan secara gerilya.

Melawan secara gerilnya setelah kalah dalam perang langsung adalah untuk mempertahankan harga diri, bukan untuk kemenangan, kecuali Vietnam yang belajar perang gerilya dari buku karangan Nasution, Sumatera. Vietkong sejak awal melawan secara gerilya, bukan setelah kalah adu kekuatan seperti Aceh Darussalam.

“Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya” kata pendiri NKRI, Sukarno. Dari jumlah penduduk dan luas wilayah, Indonesia adalah negara yang besar, bagaimana dengan menghargai sejarahnya yang majemuk dan beragam di setiap pulau, terutama di Aceh, seperti kata sang pendiri?

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan 
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki