Debat Tentang Bahasa Novel Aceh 2025


Tentang saya memakai bahasa Jawi (Melayu Pasai-Sumatera) di dalam Novel Aceh 1446 H (2025 M), ada beberapa orang kawan yang mempertanyakan kepatutannya di masa ini.

"Mengapa memakai bahasa lama yang akan sulit dipahami oleh generasi sekarang, mengapa tidak memakai bahasa Indonesia saja?"

Saya pun menjelaskan dengan rinci apa jua yang mesti diketahui, namun sang kawan masih pun tidak setuju. Akhirnya saya pun menjawab dengan kalimat yang berkesimpulan.

"Inilah bahasa yang benar, bahasa yang dikenal dengan bahasa Indonesia sekarang adalah seperti ini, sementara yang sering terdengar di sinetron-sinetron dan buku-buku terkini yang santai dan sebagainya, pemberitaan-pemberitaan, dan lainnya, adalah bahasa campuran, bahasa asli yang dicampur dengan bahasa Inggris yang telah dirusak juga dengan bahsa Jawa dan lainnya. Saya tidak tahu itu bahasa apa. Generasi sekarang yang mesti mengerti tentang bahasa mereka sendiri dan kembali menggunakannya."

Pihak lain mempertanyakan tentang kebenaran bahasa tersebut,
"apakah telah membincangkannya dengan pakar bahasa?"

Saya pun menjelaskan dengan rinci apa jua yang mesti diketahui, namun sang kawan masih pun tidak setuju. Akhirnya saya pun menjawab dengan kalimat yang berkesimpulan.

"Saya dilahirkan dan dibesarkan di Paloh Dayah, yang termasuk tempat di mana bahasa Jawi (Melayu) itu lahir. Kepada pakar yang mana saya harus bertanya, sementara pakar bahasa sekarang hanya menguasai bahasa Indonesia yang telah rusak, atau bahasa Aceh dan sebagainya. Mereka belajar tata bahasa Indonesia itu yang menurutkan aturan bahasa Inggris atau lainnya, sementara bahwa yang saya pakai ini telah memiliki aturan (grammer) sejak ratusan tahun sebelum aturan bahasa Inggris diciptakan."

Saya melanjutkan.

"Apabila saya harus bertanya tentang bahasa ini (Jawi) maka saya harus menemui guru-guru pengajian di kampung yang mengajarkan kitab-kitab berbahasa Jawi. Namun, saya sendiri juga pembaca kitab-kitab itu. Dalam hal ini sayalah profesornya, saya yang berani menggunakan bahasa ini di zaman yang bahasa ibu kita telah dirusak dengan hormat. Setelah novel Aceh 2025 terbit, apabila perlu, saya akan membuat kongres bahasa Jawi dengan menghadirkan ahli-ahli baca manuskrip daripada kaum cendikiawan."

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki