Apa itu Boh Ara Hanyot

Bebek Mandarin adalah unggas cantik yang mirip itik liar atau ara di Aceh. Foto: dody94.wordpress.com
Pada suatu ketika, terjadilah banjir raya di Paloh Dayah. Sekalian anak muda dan beberapa lelaki berkeluarga pun menjadi tukang kail ikan dadakan. Mereka mencari ikan seungko (lele) atau apa sahaja yang biasanya menyukai air keruh sehingga aliran air banjir yang pekat adalah hari raya mereka.

Sebagian pengail mendapatkan ikan, sebagian lagi tidak.
Orang-orang lewat pun berseru,
"Pu na le roh? (Apa banyak ikan yang terkail?)," tanya orang-orang yang lewat.

"Hana, sang suwah tapreh boh ara hanyot," (Tidak, mungkin harus kita tunggu telur ara hanyut {untuk lauk pengganti ikan yang tidak makan kail)," canda si pengail.

"Beh pane na hanyot boh ara?" (Tidak mungkin telur ara hanyut).

Maka cerita itu pun berlanjut. Di kemudian hari, maka di Aceh termasyhurlah kalimat, "Lagee tapreh boh ara hanyot" (bagaikan menungggu telur ara hanyut) apabila tengah menanggapi hal yang dianggap tidak akan kunjung datang.

Namun ada sedikit kekeliruan dalam memahami hal tersebut, terutama oleh orang yang tidak hidup di kampung-kampung yang ada rawa atau orang yang tidak mengenal ara yang satu ini. Ara yang masyhur dikenal adalah sebatang pohon yang berbuah banyak berasa gatal, tidak bisa dimakan. Itulah ara yang dianggap oleh sebagian orang yang dimaksud di dalam kalimat itu.

Akan tetapi bagaimana mungkin orang akan menamsilkan sesuatu dengan menunggu hanyutnya buah-buah gatal dari hutan yang tidak bisa dimakan atau digunakan di tempat lain. Maka apa itu boh ara hanyot?

Boh ara adalah telur ara (itik liar yang tersebar di rawa-rawa di Aceh), hanyot adalah hanyut. Ara dalah jenis unggas liar yang kini menjadi salah satu binatang langka karena banyaknya rawa-rawa yang kering atau beralih guna menjadi tanah kering atau sawah dan kebun yang bersih.

Telur memiliki sifat tenggelam oleh air dan tidak mungkin mengapung kecuali ianya telah membusuk atau air telah dicampur dengan garam. Dan, ara tidak pernah bertelur di tempat yang mudah tertarik oleh air bah dan banjir. Sebagaimana binatang lain, unggas itu pun memiliki firasat (insting) untuk melindungi apa jua benda miliknya sendiri.

Maka menunggu telur ara hanyut adalah hal yang sia-sia walaupun ara betina memang bertelur. Telur ara tidak mungkin dihanyutkan oleh air banjir. Istilah serupa yang digunakan untuk hal yang sama sekali mustahil adalah  "Lage tapreh lungkee mie jitimoh" (Seperti menunggu kucing beertanduk".

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki