Rapai Ulee Kembali ke Paloh Dayah dan Museum Rapai Utoh Dadeh akan Didirikan

Rapai Pase. Foto: jauharisamalanga.wordpress.com
Tadi saya mendapatkan kabar dari adik saya Lodins bahwa sebuah rapai ule yang dahulunya milik ayah kami Tgk Sulaiman bin Dadeh yang dibuat oleh ayah daripada ayah (kakek) kami yang bernama Utoh Dadeh telah kembali ke Kota Budaya Paloh Dayah dengan cara yang  tragis. Utoh Dadeh adalah ahli pertukangan dan bangunan sehingga ia banyak membuat rumah Aceh dan rapai. Isterinya bernama Cut Sapuan binti Teuku Baloe.

Ayah sudah lama berhenti merapai yang diyakininya haram setelah sekian lama mengikuti pengajian secara berkala pada Tgk Seumatang dan Tgk H Muhammad Thaib bin Mahmud. Padahal sebelum itu ayah kami merupakan kali rapai (ahli merapai) yang memiliki rapai ule.

Tatkala usia saya masi MI (Madrasah Ibtidaiyah), ayah kami menual rapai itu seharga sebuah sapi jantan, dengan tujuan supaya anak cucunya tidak lagi merapai. Ia menjualnya kepada seorang penduduk di Paloh Batee, Lhokseumawe.

tadi, saya mendapatkan kabar bahwa rapai itu telah kembali ke Paloh Dayah karena peristiwa tragis yang terjadi pada senimannya yang dahulu membeli rapai itu. Pada suatu ketika tatkala merapai, tangannya terkelupas sehingga tulang jemarinya timbul. Lalu, orang itu pun mengembalikan rapai itu ke Paloh Dayah dengan harga di bawah harga rapai murahan sekalipun. Mungkin ia menganggap itu rapai mempunyai penghuni -dan memang benar.

Itu rapai ule, yang balohnya dibuat dari utong pohon tualang terpilih setelah menjalani beberapa persyaratan sekian lama. Menurut ibu kami yang bernama Cut Zubaidah binti Teuku Juhan, Utoh Dadeh pernah membuat tiga buah rapai ule. Kami akan mencari semua rapai buatan kakek kami, akan tetapi kami tidak berani merapai lagi karena itu dilarang keras oleh Allah yarham ayah kami.

Karenanya kami berencana mencari lagi rapai-rapai itu untuk dimuseumkan, kami akan membuat Museum Rapai Utoh Dadeh. Mungkin semua rapai serupa akan kita minta untuk dimuseumkan di Museum Rapai Utoh Dadeh, insya Allah.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki