Penting Sastra Bagi Bangsa

Rekaan gambar Hamzah Fansuri
Oleh: Thayeb Loh Angen

“Penulis dan seniman yang menolak memperbaiki moralnya adalah pendusta”

Sastra merupakan sebuah jenis seni di dalam bidang tulis menulis yang masih terasa asing bagi sebagian masyarakat Indonesia, termasuk di Aceh. Keterasingan sastra ini semakin diperburuk oleh gagalnya sastrawan menunjukkan keberadaan dirinya sebagai sesuatu yang penting bagi bangsa.

Kegagalan ini terjadi karena beberapa sebab, di antaranya:
1.    Kurangnya mutu sebuah karya sastra dan diri sastrawan,
2.    Kurangnya kemampuan sastrawan dalam mengenalkan sastra akan masyarakat di berbagai kelas sosial,
3.    Kedunguan atau kebebalan pengurus pemerintahan sehingga sastra tidak dipentingkan.

Sebenarnya, nasib buruk yang dialami oleh sastra pun dialami oleh semua jenis seni lain yang berada di Aceh. Namun di sini kita membicarakan semata tentang sastra disebabkan bidang ini merupakan jenis seni yang pada tingkatan dan dengan cara tertentu bisa mengubah sebuah negeri bahkan beberapa negeri, bahkan pemikiran manusia dunia.

Dengan mengetahui tiga penyebab kegagalan tadi maka marilah secara bersama-sama kita mencari penyelesaian untuk perbaikan di berbagai bidang tersebut.

Penyelesaian terhadap masaalah pertama;

Perbaikan mutu karya dan mutu diri seorang sastrawan merupakan hal yang teramat penting dan hendaklah didahulukan sebelum memperbaiki yang lain karena dengan membaiknya mutu maka akan lebih mudah diterima oleh masyarakat tatkala ianya disiarkan.

Menguasai cara menulis bersastra merupakan tingkatan awal untuk mutu karya secara keseluruhan. Yang lebih penting daripada itu adalah memperbaiki pemikiran dan moral penulis sendiri sehingga kebaikan-kebaikan terisi di dalam karya sastra yang dihasilkan. Penulis dan seniman yang menolak memperbaiki moralnya adalah pendusta.

Hal tersebut diyakini demikian karena masyarakat akan menghargai sesuatu yang berguna bagi kehidupan mereka. Ini tidak terdengar menyenangkan bagi sebagian penulis, akan tetapi akan menyenangkan apabila semua perbaikan berhasil dilakukan.

Penyelesaian masaalah kedua;

Pengenalan karya sastra terhadap masyarakat di berbagai kelas hendaknya dilakukan secara sistematis (terancang rapi dan terukur pencapaiannya) dan diramu dengan berbagai cara yang bisa diterima.

Pegelut dunia sastra bisa belajar dari pembisnis atau pedagang dalam mengenalkan barang-barang buatan mereka sehingga diterima oleh masyarakat dan barang tersebut menjadi sesuatu yang dinantikan kehadirannya. Apabila ini berhasil dengan baik, maka pada suatu masa, sebuah novel atau sebuah buku kumpulan puisi akan ditunggu-tunggu kehadirannya, di Aceh.

Penyelesaian masaalah ketiga;

Pengurus pemerintahan hendaknya disadarkan akan pentingnya sastra bagi kemajuan sebuah negara ataupun wilayah karena setiap tempat  yang maju selalu didahului oleh kemajuan seninya, terutama sastranya. Kesadaran ini penting dilahirkan di kepala pengurus pemerintahan karena mereka bertanggung jawab terhadap bangsa ini di bidang memajukan negara.

Lalu, siapakah yang harus bertindak untuk menyelesaikan masaalah tersebut? Yang pertama sekali mesti bertindak adalah seniman itu sendiri. Sastrawan sendirilah yang mesti memperbaiki semuanya, barulah kemudian masyarakat dan pengurus pemerintah bisa memahami bagaimana sebenarnya dunia ini, bahwa bumi sebenarnya adalah pusat alam semesta, bukan matahari sebagaimana disebut oleh Copernikus.

Bukankah sampai kiamat tiba, manusia masih menyebut matahari terbit dan matahari terbenam? Lalu mengapakah bualan Copernikus itu bisa menipu kita, tidakkah itu enandakan bahwa ada suatu pihak yang memaksakan nilai (keyakinannya) tersebut terhadap kita? Itulah contoh bagaimana seharusnya kita menguasai pemikiran manusia dengan sastra. Dan itu pula jawaban dari pertanyaan mengapa sastra itu penting bagi bangsa.

Sastra penting karena ianya bisa mengubah pendapatmu tentang dirimu sendiri, negerimu, bahkan tentang dunia dan alam semesta. Tentu saja itu tidak akan lahir dari karya sastra cengeng yang berisi kegalauan penulisnya yang jiwanya tidak pernah dewasa sehingga sibuk dengan angin malam dan kerindudan akan kekasih karena ketidaksanggupannya dalam memandang kehidupan ini secara lengkap dan benar.

Karya sastra yang hebat dan berguna bagi kehidupan manusia hanya lahir dari sastrawan yang merupakan seorang pemikir ulung yang telah memperbaiki falsafah hidup dirinya sendiri terlebih dahulu.

Lemparkanlah ke parit berbau busuk semua teori orang Eropa bagian Utara tentang sastra. Sebagian besar dari mereka itu pendusta. Bukankah sudah jelas bahwa mereka itu, seperti Belanda, adalah perusak peradaban kita sejak masa mereka memerangi negeri-negeri kita secara serakah.

Bagaimanakah bangsa sekeji itu, penipu, perampok, mengajarkan kebenaran, sementara negara mereka yang sekarang dibangun dari penderitaan dan tulang belulang nenek moyang kita. Penjajah tidak pernah mengajarkan sesuatu selain kedustaan. Sekali penjajah yang keji tetaplah penjajah yang keji melainkan apabila raja mereka berani meminta ma’af kepada rakyat Aceh.

Selamat datang di dunia yang selalu berubah-ubah dan segera berubah lagi dari tidak ada menjadi ada, dari ada pun menghilang, dan tinggal kesan bersama karya sastra sebagaimana hikayat seribu satu malam yang melegenda dan abadi bersama waktu itu.

Thayeb Loh Angen, Penulis novel, Aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT), pengurus Sekolah Sastra – Jurnalisme Kebudayaan di Thayeb Loh Angen Institute.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki