Penjabat dan Pengemis di Sebuah Kota


Seorang penjabat terpenting di sebuah kota itu pun sering menghadiri acara bantuan untuk anak yatim yang dibuat oleh lembaga dalam dan luar negeri. Anak-anak yatim dan orang-orang pun mencium tangannya. Di kotanya pun ada dinas sosial. Apabila ada orang yang mengurusi bantuan ke dinas tersebut harus melewati berbagai macam syarat.

Kota itu pun memakai belanjanya lebih dari setengah untuk belanja pegawai, selebihnya untuk keperluan pemerintah. Sisanya, sekitar satu peratus belanja dipakai untuk keperluan rakyat.

Pada suatu hari, penjabat terpenting itu pun menghadiri sebuah acara hiburan rakyat yang dibuat oleh pemerintahnya di sebuah taman yang berhadapan dengan kantornya yang megah. Di tengah perbincangan antara dia dengan anak buahnya, datanglah seorang gadis kecil yang mengulurkan tangan meminta sedekah.

Sang penjabat kota itu pun meminta maaf akan si anak dengan raut wajah cemberut. Dan tentu saja, semua orang di tumpukan itu tidak ada yang mencoba menghulurkan bantuan akan si dara kecil. Setelah gadis kecil itu pergi untuk mengulurkan tangan akan pengunjung lain di taman itu, sang penjabat penting kota itu pun berkata-kata lagi.

“Itu sepertinya bukan penduduk kota ini, dia mungkin anak dari kota fulan,” kata sang penjabat dengan sedikit cibiran. Dan dia pun melanjutkan permincangannya dengan anak buahnya tentang tempat makan siang dan cara membuat ekonomi di kota itu semakin membaik. Belanja untuk makan siang antara dia dan anggotanya, biasanya sebanyak beberapa juta Rupiah, terkadang menghabiskan belasan juta.

Di beberapa tempat di kota itu dipancangkan papan pengumuman yang melarang penduduknya untuk memberi sedekah akan pemimta-minta dengan alasan ada sebuah dinas yang mengurusi tentang itu. Sementara peminta-minta masih pun berkeliaran di sana. Ini terjadi di sebuah kota yang menyerukan syi'ar Islam.

Seorang penyair-filsuf bernama Kahlil Gibran menulis 'kemiskinan terjadi karena kesalahan raja'. Khafilah Umar bin Khattab menyatakan apabila ada rakyatnya yang tidak memiliki makanan, ia akan menahan lapar dan memberikan makanan jatahnya untuk orang-orang yang malang. Dan, penjabat yang kita bicarakan ini dikenal anti terhadap tempat maksiat akan tetapi tempat itu selalu terbuka, dan orang-orang kelaparan pun masih berada di wilayah pimpinannya.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT), pembuat komunitas bantuan kemanusiaan 'Berbahagi Bahagia - Sharing Happy'.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki