Gerakan ‘Berbahagi Bahagia - Sharing Happy’ Hantar Bantuan untuk Keluarga Yun Casalona

Istri dari seniman Aceh Allah Yarham Yun Casalona dan ibunya di rumah duka, Lam Lumpu, Peukan Bada, Aceh Besar. Foto: Zahraini ZA
Banda Aceh – Gerakan bersedekah untuk kemanusiaan dan alam ‘Berbahagi Bahagia - Sharing Happy’ mengunjungi rumah almarhum Yun Casalona, seorang seniman Aceh yang meninggal dunia pada 26 Agustus 2014, untuk menghantarkan bantuan alakadar dari beberapa orang rekan seniman dan masyarakat kebudayaan. Bantuan tersebut diterima oleh istri almarhum di rumah duka, Lam Lumpu, Peukan Bada, Aceh Besar.

Pencetus gerakan ini, Thayeb Loh Angen, Rabu 3 September 2004, mengatakan, bantuan yang diberikan adalah sedikit uang yang merupakan sedekah dari orang-orang yang peduli terhadap seniman Aceh. Thayeb mengaku hanya mengumpulkan bantuan dari rekan yang dia kenal dan berjumpa dalam beberapa hari setelah Yun Casalona meninggal.

“Kami terenyuh dengan melihat nasib beberapa orang seniman yang sakit dan kemudian meninggal. Prestasi mereka selama hidup yang telah mengharumkan nama Aceh kurang mendapatkan tempat yang sesuai, melainkan beberapa orang yang memiliki bisnis tersendiri. Akan tetapi selebihnya mengalami nasib tragis,” kata Thayeb yang merupakan penulis novel Teuntra Atom.

Selain seniman dan pegiat kebudayaan yang masih pada jalan peradaban, Thayeb menyatakan, semua masyarakat tertindas mesti dibantu. Mengarahkan kepedulian secara ramai untuk seniman yang sakit, tua dan merana ataupun meninggal dunia, merupakan langkah utama dari gerakan ini.

“Gerakan ini untuk semua orang yang teraniaya dari semua lapisan. Nabi Muhammad memerintahkan kita untuk membantu tetangga terlebih dahulu baru orang yang jauh. Maka dari itu, kami membantu sesama seniman dan pegiat kebudayaan terlebih dahulu, baru kemudian seluruh lapisan orang yang tertindas dan alam,” kata aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki ini.

Ke depan, kata Thayeb, gerakan ini akan diperluas untuk bantuan kemanusiaan, alam, dan pembangunan untuk kepentingan ummat. Thayeb menilai bahwa pemerintah telah gagal menyejahterakan umat dan gagal memelihara peradaban warisan indatu, karenanya, rakyat mesti melakukannya sendiri.

“Kami telah memulai memperbaiki kekacauan itu dan mengajak sekalian orang untuk melakukannya. Dengan bersedekah secara ikhlas, bahkan Aceh bisa memperbaiki Masjidil Haram di suatu masa, dan membeli dua buah pesawat di masa yang lain. Di masa ini, kita memusatkan pikiran untuk memperbaiki apa yang ada di Aceh,” kata Thayeb yang tengah menyiapkan novel keduanya Aceh 2025.pd
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki