Meura Farisa, Dara Bandar Aceh


Gambaran. Foto: kavehfarrokh.com
Halaman rumah Orang Kaya Maha Lila Selangsa pun senyap. Lampu-lampu jingga dari jalan berbaris bersambung dengan lampu di gerbang rumah panggung di atas tanah sepuluh petak. Meura Narindi dan Seulangsa sudah dari tadi tidak bergerak di kamar depan. Lima tentara penjaga di gerbang berbicara pelan.

Meura Farisa mengambil pedang dan panah, lalu melompat ke kandang kuda. Binatang itu tidak meringkik melihat wajah tuannya, dan sudah terbiasa diajak mengelilingi kota tengah malam. Dara itu melepaskan kuda hitam dan menunggangnya melewati gerbang. Empat orang penjaga berdiri menghormat dan mencegat Meura Farisha.

“Baginda Orang Kaya Maha Lila Selangsa Seulangsa memerintahkan kami agar tidak mengizinkan Po Cut keluar tatkala malam,” penjaga itu berkata mantap, tapi suaranya bergetar, takut dihajar Meura Farisha yang terkenal suka memukul siapa saja.

“Jika itu engkau lakukan, besok kuminta ayahanda memindahkan tugasmu ke Indra Puri, di sana engkau bisa mencegah gajah yang terantai,” Meura Farisha tidak bergerak di atas punggung kuda hitamnya. Penjaga yang mencegat tadi menoleh empat temannya yang mengangkat bahu.

Penjaga pencegat tidak bergerak. Mereka berpikir, kalau memaksa mencegat si dara, pasti mereka tidak bisa menang melawannya dan besok mereka akan dipindahkan ke Indra Puri, kalau mereka membiarkan Meura Farisha pergi dan Orang Kaya Maha Lila Selangsa tahu, maka besok mereka akan dimarahi tetapi tidak dipindah tugaskan karena Meura Farisha memaksa, tetapi itu akan mencemarkan nama baik mereka sebagai ksatria.

‘Awas!” Meura Farisha memacu kuda hitamnya memembus barisan empat orang penjaga. Keempat lelaki itu terpaksa melumpat ke rerumputan, lalu segera mengadukan kejadian itu akan Orang Kaya Maha Lila Selangsa yang tengah tidur di ruang utama rumahnya. 

Bila jenuh di rumah, dia keluar dan berkuda sampai mulut binatang itu berbusa. Jalan-jalan berkerikil campur tanah itu mengepulkan debu. Dara itu melewati pangkalan tentara penjaga istana, menuju Keutapang. Dia menghentikan kuda. Pangkalan tentara istana senyap. Tidak ada tentara yang berkeliaran selain sepuluh orang tentara penjaga yang bersantai-santai di gerbang seperti biasanya.

Meura Farisha menuju sudut terjauh dari gerbang dan menambatkan kuda, lalu memanjat dinding pangkalan tentara istana, setinggi seorang dewasa. Tidak ada tentara yang berkeliaran. Dia mengendap-endap, menuju lapangan tengah, tempat biasanya tentara berkumpul. Tidak ada orang. Dara itu melewati lapangan tengah, menuju ruangan tertutup, tempat rapat tentara Istana. Sebuah lampu menyala di ruangan luas itu, puluhan lampu lain tidak dinyalakan.

Dari celah dinding tampak Beurehoi dan tiga perwiranya berbincang. Meura Fasrisha mendekatkan kuping ke lubang itu. Samar-samar terdengar perbincangan itu.

“Keluarga Sultan Iskandar Muda harus didiamkan lebih dulu, lalu pengumuman, saat Sultan kembali, dia telah kehilangan tahta kesultanannya, dan kita hapuslah dia dari sejarah,” Beureuhoi menatap tiga perwira di depannnya.

“Kapan kita mulai?”

“Selain malam ini, saat semua senyap dan terlelap, dan begitu terbangun, mereka melihat sejarah telah berubah.”

Meura Farisha pucat mendengar rencana Beurehoi. Gadis berambut bergelombang itu mengendap dan menjauh dari ruangan itu. Tapi begitu sampai di lapangan, dua orang tentara menghadangnya.

“Tidak boleh ada yang tahu aku ke sini,” Meura Farisha mencabut pedang dan berlari kencang seraya menebas dua tentara yang menghadangnya. Dua tentara itu menghindar, tapi lengan mereka tergores. Dara itu menaiki dinding pangkalan tentara istana cepat-cepat dan menuju kuda hitamnya. Kuda hitam pun melesat.

Penjaga pangkalan tentara istana telah mengetahui penyusupan dan mengenal Meura Farisha, tidak ada perempuan lain yang membawa pedang dan panah di Bandar Aceh. Beureuhoi memerintahkan ratusan tentara untuk mengejar Meura Farisha dan ratusan lainnya menjaga sekeliling rumah Seulangsa. Ribuan tentara lain sedang berlatih sebagai persiapan untuk kudeta di Pantai Ule Lheue.

Meura Farisha memacu kuda ke perkampungan. Ratusan tentara yang mengejarnya pun kehilangan jejak.

Kalau pun dara itu tidak masuk ke jalan-jalan kecil perkampungan, kuda hitamnya tidak mampu dikejar oleh kuda manapun di negeri ini. Meura Farisha menikung ke kebun mangga di tepi persawahan. Baru sesaat di sana, dia pun berhenti, rombongan pasukan kuda pengejarnya melewati jalan di depannya berdiri, sekira dua ratus langkah. Meura Farisha memacu lagi kuda ke arah yang tadi dia lewati, dara itu memilih jalan perkampungan supaya tidak melewati pangkalan tentara istana.

Di jalan perkampungan, dia menghentikan kuda, membiarkan rombongan gajah lewat. Baharu beberapa saat memacukan akan kudanya, sebuah kawanan gajah pun lewat lagi. Meura Farisha berhenti, tidak berani berhadapan dengan gajah. Dia termangu di atas punggung kuda, dia berpikir, jika dirinya berhenti terus di sana, kawanan gajah bisa saja melintasinya, bila dia kembali ke jalan yang telah dilewati, kawanan gajah bisa saja sudah ada di sana, bila dia meneruskan perjalanan, kawanan gajah bisa saja sudah ada di depan. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Dara itu tidak mengerti  mengapa gajah-gajah bisa berkeliaran.

“Aku harus cari tempat bermalam,” Meura Farisha meneruskan perjalanan, memilih terus diam di sana atau mundur sama akibatnya dengan maju. Jalan-jalan perkampungan lewat, dia memasuki pusat bandar kembali. Namun, begitu tiba di persimpangan dekat pohon meranti sebesar gajah, dia tersentak dan menghentikan kudanya.

Pasukan berkuda telah menghadang.

“Engkau menyusup ke pangkalan tentara istana, kami harus membawamu ke Panglima Beuruhoi,” seru seorang tentara yang berdiri paling hadapan.

“Boleh sahaja jika engkau bisa,” Meura Farisha mencabut pedang tanpa turun dari punggung kuda hitamnya.

Tentara yang berdiri paling hadapan pun mundur dan mencabut pedang, disusul  oleh ratusan tentara  lain.
Selama ini mereka hanya mendengar cerita bahwa ada seorang dara di lingkungan istana yang ahli ilmu perang, tetapi tidak mahu menjadi tentara. Dan, dara itu suka berkelahi dengan siapapun. Inilah kesempatan bagi mereka untuk membuktikan apakah cerita itu benar atau tidak.

Pertarungan Meura Farisha melawan ratusan tentara itu pun terjadi di persimpangan Lambaro. Manakala pertempuran itu terjadi, sekawanan gajah melintasi kebun-kebun di sekitar. Penduduk yang yang tadinya terlelap di rumah masing-masing, kini terjaga.

Meura Farisha menebas satu persatu tentara yang menghadangnya. Bau darah menyebar di bawah keremangan purnama di persimpangan itu. Kuda tentara yang tewas pun meringkik dan melesat ke jalan mana saja tanpa arah. Bagi kuda, kehilangan tuan berarti kehilangan tujuan. Setelah sebagian tewas dan tergeletak di jalan, seorang tentara menyerukan mundur. Maka, ratusan tentara itu menunggang kuda ke arah yang berlawanan dari Meura Farisha muncul tadinya.  

Dara itu pun menyeka akan keringatnya, mengelap pedang dengan dedaunan di tepi jalan seraya memandang ratusan tentara yang menghilang di hujung jalan dalam keremangan purnama. Mayat-mayat bergelimpangan di persimpangan itu. Dia menyentakkan akan tali kekang kudanya, dan binatang terlatih itu pun melangkahi mayat-mayat, menuju jalan yang darah tidak tumpah di sana.

Meura Farisha terus memacu kuda ke pusat Bandar Aceh Darussalam, mencari rumah bermalam. Tetapi tidak jadi, jika ke penginapan, tentara Beuruhoi mudah menemukannya. Maka, dia pun menikung ke Darussalam, dekat perguruan tinggi antara bangsa yang disebut Dayah.

“Beureuhoi harus dicegah,” desis dara itu seraya memacu kudanya.

***
Cerpen oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT), penulis novel Teuntra Atom, novelnya yang berjudul ‘Aceh 2025’ dalam proses penerbitan.
Cerita ini telah disiarkan di Suara Darussalam keluaran bulan I Tahun 2014. Ianya adalah penggalan dari naskah novel berjudul ‘Penakluk dari Timur’ yang ditulis sejak 2010, belum diterbitkan.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki