Erdogan dan Kesiapan Masyarakat Turki

Masyarakat Turki yang telah tercerdaskan menyadari bahwa AKP dan Erdogan memiliki kekurangan, tetapi apabila mereka tidak mendukung Erdogan dan AKP-nya, maka kemalangan seperti Libya, Irak, dan negara lainnya yang akan dialami, dan itu merupakan hal pantang. 



Jatuhnya pemerintahan Suharto di Indonesia, Pakistan, Afghanistan, Saddam Husein di Irak, Muammar Khadafi di Libya, Tunisia, Husni Mubarak di Mesir merupakan sebuah mata rantai penghancuran yang dilakukan oleh pihak Barat terhadap negeri berpenduduk muslim terbanyak yang mulai bangkit.

Penghancuran itu didahului dengan membentuk opini masyarakat dunia melalui media-media yang mereka kuasai yang dibantu oleh orang dalam yang telah dibayar. Tatkala negara-negara tersebut semakin kuat di dalam bidang politik dan ekonomi, niscaya mereka dihancurkan dengan tangan anak bangsa mereka sendiri yang bisa disuap dan punya kesakit hatian terhadap pemimpin.

Di antara rangkaian itu, hanyalah Turki di bawah pimpinan Perdana Mentri Erdogan yang mampu menghadapi serangan opini Barat dengan bertahan, menenerjemahkan, menyerang balik, dan maju. Apa kekurangan negeri-negeri berpenduduk Islam lain dan apa kelebihan Erdogan di Turki?

Di antara sekian banyak penyebab, yang paling mendasar adalah, sejak awal Erdogan telah menyiapkan masyarakatnya untuk berjiwa merdeka sehingga menyakini bahwa kepentingan Turki ditentukan oleh orang Turki sendiri.

Keberhasilan Erdogan menjaga kedaulatan Turki pun berkaitan dengan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Attartuk (Bapak Turki) dan Erbakan sebelumnya, bahwa kedaulatan Turki di atas segalanya. Namun, kesipapan masyarakat Turki yang dibina oleh Erdogan mampu menendang semua pendapat yang bernilai fitnah tentang keburukan pemerintahannya.

Masyarakat Turki yang telah tercerdaskan menyadari bahwa AKP dan Erdogan memiliki kekurangan, tetapi apabila mereka tidak mendukung Erdogan dan AKP-nya, maka kemalangan seperti Libya, Irak, dan negara lainnya yang akan dialami, dan itu merupakan hal pantang.

Dengan jiwa nasionalisme yang tinggi, masyarakat Turki menepis segala isu dan mengambil sikap untuk mendukung pemimpin mereka yang telah menguatkan politik dan ekonomi Turki sehingga dalam sepuluh tahun terakhir menjadi negara yang berwibawa kembali sehingga kegemilangan Romawi Timur (Bizantium) dan Usmani pun bisa dikembalikan.

Manakala saya melihat di video yang disiarkan di berbagai media dunia yang mempertunjukan Erdogan mengambil bendera Turki yang diletakkan di lantai halaman di pertemua G20, saya meyakini bahwa sampai kapanpun Erdogan akan didukung oleh rakyat Turki, karena Turki memiliki nasionalisme yang tinggi dan amat sangat mencintai bendera mereka.

Apabila merunut akan kegemilangan masa silam yang pernah memimpin peradaban dunia, Irak memiliki Mesopotania dan Abbasiah, Mesir memiliki Fir’un, Pakistan adalah Pesia, dan sebagainya walaupun itu berada di jauh zaman sebelum Bizantium dan Kekhalifahan Turki Usmani dengan ibukotanya Konstantinopel (Istanbul sekarang).

Dengan kenyataan ini, Aceh yang pernah memiliki peradaban Samudera Pasai dan Aceh Darussalam, masih seperti anak elang kebilangan induknya dan bersama ayam setelah 1873 sampai sekarang. Ini membuktikan bahwa kegemilangan masa lalu memang penting, tetapi tidak cukup untuk membangun peradaban dan kekuatan di masa sekarang dan di masa hadapan. Kesiapan masyarakat sekaranglah yang lebih utama. Dan, Turki memiliki itu.

Indonesia, yang telah runtuh karena reformasi yang didahului oleh fitnah akan Suharto, belum pun bisa bangkit. Dan masyarakat sekarang bisa merasakan bahwa Indonesia telah ditipu dengan isu reformasi palsu. Yang ada setelahnya hanyalah kekacauan ekonomi dan politik, saham-saham penting negara harus dijual akan asing, dan yang lebih parah, munculnya media massa yang dikuasai asing.

Dan krisis Asia Tenggara pada 1998 hanya untuk menjatuhkan Suharto karena Indonesia telah kuat di bidang militer dan ekonomi. Bagaimana tidak, perusahaan dirgantara negara yang dibangun oleh Habibie telah membuat pesawat air bus tercanggih di dunia. Amerika pun takut karenanya.

Suharto tidak menyiapkan masyarakatnya. Begitupun Aceh, GAM tidak menyiapkan masyarakat Aceh sehingga pada halauan ratusan ribu orang di Banda Aceh pada 1999 atas nama referendum, tidak menuntut referendum setelah mereka berkumpul. Begitupun setelah penandatanganan damai dengan NKRI pada 2005, sampai sekarang Aceh tidak secara mutlak memilih partai yang dibentuk oleh pejuang GAM.

Apakah Kesiapan Masyarakat itu?

Kesiapan masyarakat adalah sikap dan tindakan rakyat tanpa dikomando mampu menentukan pilihannya sendiri dan menepis isu dan pendapat (opini) yang dibentuk oleh media massa sehingga mereka tetap tunduk akan pemimpin yang membela kepentingannya.

Turki memiliki hal tersebut sehingga tetap memilih partai AKP pimpinan Erdogan dalam pemilihan kepala wilayah bulan Maret lalu di tengah memanasnya fitnah yang dilakukan oleh media Barat.

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki