Doto dan Mualem Beda Pilihan, Terpecah atau Siasah?

Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 2 Nopember 1949.
Foto: indonesianfilmcenter.com
Pemilihan presiden Republik Indonesia (RI) yang telah dilangsungkan kemarin, 9 Juli 2014. Di Aceh, yang merupakan wilayah bekas perang pemberontakan, telah terjadi hal yang mengejutkan masyarakat Aceh, Indonesia, dan negara lainnya. Dua orang pemimpin tertinggi, secara terang-terangan menyatakan mendukung pasangan calon yang berbeda di antara dua pasangan yang tersedia.

Didukungnya pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 1 Probowo-Hatta oleh Muzakir Manaf atau Mualem yang merupakan Ketua Umum Partai Aceh (PA) sekaligus Wakil Gubernur Aceh telah dihujat sejak awal oleh beberapa pihak dan didukung penuh oleh pihak lainnya.

Dan tatkala, Zaini Abdullah atau Doto yang merupakan petinggi PA dan sekaligus menjabat sebagai Gubernur Aceh mendukung capres dan cawapres nomor urut 2 Jokowi-JK, maka orang-orang pun berteriak, Partai Aceh terbelah. Benarkah? Sesederhana itukah masalahnya?

Jawaban yang sebenarnya tidak akan pernah ditemukan karena jawaban ahli siasah (politik -red) –terlebih tatkala waktu pemilihan presiden hampir tiba- akan sarat pertimbangan kepentingan ke depan dan dukungan di masa kini. Baik Muzakir Manaf mahupun Zaini Abdullah, tidak akan menjawab apa yang sebenarnya terjadi, akan tetapi dapat diperkirakan bahwa kedua pemimpin Aceh tersebut akan menjawab, apa yang seharusnya diyakini oleh sekalian orang.

Marilah kita telusuri beberapa kabaran yang disiarkan oleh berbagai media. Muzakir Manaf, secara terus terang melarang rakyat di Aceh untuk mendukung Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan (PDI-P) dan calon yang dinaikkannya karena petinggi partai ini yang menjabat Presiden Indonesia kala itu memberlakukan Darurat Militer (DM) di Aceh pada 2003.

DM menyebabkan GAM terjepit dan banyak anggotanya bersama sebagian rakyat Aceh meninggal dunia. Pernyataan tersebut mengenyampingkan keberadaan Jusuf Kalla (JK) yang tatkala menjabat sebagai Wakil Presiden RI merupakan salah seorang yang memiliki andil besar terjadinya penandatanganan perdamaian GAM-RI pada 2005 di Helsinki, ibukota Finladia.

Sementara, sebagian orang tidak menyukai Prabowo karena ianya merupakan petinggi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Indonesia tatkala diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) untuk Aceh (1989-1998) oleh petinggi partai Golongan Karya (Golkar) Suharto dengan mengirimkan Kopassus ke Aceh.

Marilah kita lihat perkara ini lebih dekat dengan timbangan bahwa ingatan merupakan hal yang penting.
Pembenci Jokowi karena petinggi PDI-P memberlakukan DM untuk Aceh akan mendukung Prabowo yang merupakan petinggi Kopassus tatkala anggota pasukan itu dikirim ke Aceh sebagai pelaksana DOM.

Itu memang ironis, yakni suatu kejadian atau keadaan yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir. Keadaan ini bersifat ironi karena ‘pasta kebenaran’ yang diyakini dan diharuskan meyakini oleh pendukung dari kedua kubu tersebut bertentangan dengan keadaan yang sesungguhnya.

Bedasarkan apa yang telah dilakukan oleh keempat capres-cawapres atau partainya tersebut, Aceh tidak bisa berharap banyak tentang kemajuan dan kehormatan, siapapun yang terpilih di antara mereka. Aceh mesti memiliki kecerdasan, kegigihan, dan keberanian untuk bangkit dan berdiri tegak dengan tubuhnya sendiri.

Berdasarkan itulah, Aceh yang sudah pengalaman dikhianati oleh Indonesia, akan menghindari akibat buruk dari permainan tersebut. Dan, capres-cawapres yang hanya memiliki dua nomor urut membuat itu mudah dilakukan dengan aman.

Cara terbaik adalah, meyakinkan Jakarta bahwa Aceh mendukung kedua capres-cawapres tersebut sekaligus dengan memberikan bukti bahwa itu sikap yang sebenarnya, bukan kangkang lueng (mengangkangi parit, kakinya berada di kedua sisi parit sehingga akan dianggap bagian oleh kedua belah pihak).

Maka, wakil Gubernur Aceh mendukung nomor urut 1 dan Gubernur Aceh mendukung nomor urut 2 sehingga siapapun yang menang, Aceh akan dihitung sebagai pendukung presiden pemenang. Baru kali ini, Aceh mengambil langkah tepat untuk menghadapi permainan dari Jakarta, baik itu disengaja atau merupakan sebuah kebetulan, kebetulan yang terncana.

Aceh yang baru beberapa tahun selesai berperang dengan RI masih menjadi acuan bagi pemain Jakarta, seberapa jauh mereka berhasil meraih pendukung. Keadaan ini membuat Aceh tetap penting bagi partai nasional walaupun suara terbanyak untuk pemilihan di tingkat nasional berada di pulau Jawa dan kertas suara di Aceh tidak akan berpengaruh banyak untuk kemenangan.

Menyadari kenyataan seperti itu, Aceh tidak mahu lagi terjebak di dalam perangkap permainan Jakarta, maka menjadi tukang kangkang lueng adalah pilihan cerdas untuk menghadapi orang yang sudah terbukti sering mengingkar janjinya. Seandainya itu memang siasah petinggi Aceh, berarti Aceh sudah menguasai keadaan dan sudah siap untuk bangkit.

Siapapun yang disahkan terpilih dan dilantik sebagai presiden RI nantinya, Aceh tetap mesti berusaha keras untuk mendapatkan haknya. Itu telah dibuktikan oleh Aceh yang hampir seratus persen mendukung SBY sebagai presiden, tetapi sampai hari ini pembagian hasil migas dan bendera Aceh belum pun disahkan sebagaimana keinginan Aceh.

Dan, harapan kami kepada Tuan Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Tuan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf, hendaknya kalian berdua yang telah dipercayakan sebagai pemimpin Aceh, meyakinkan kami sekalian rakyat bahwa Anda berdua bisa bekerja sama dalam hal apapun supaya Aceh bisa dibangun sebagaimana keinginan rakyat.

Pemilihan presiden RI telah selesai, dengan sendirinya pertikaian di antara kalian pun selesai. Sesederhana itulah harapan kami. Sapu kheun sapue pakat (seiya sekata -red) sebagaimana amanah indatu (nenek moyang –red), ingin kami lihat dari kalian berdua. Anda berdua, wahai Tuan Gubernur dan Tuan Wakil Gubernur adalah cerminan kami bagi orang luar.

Apabila baik kebijakan kalian, maka baiklah kami, apabila kalian bertindak salah, maka salahlah kami walaupun kami bertindak benar dalam kehidupan kami sehari-hari. Akan tetapi, karena telah memilih kalian sebagai pemimpin, maka kami ikut bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan.

Seorang penyair besar dari Persia yang bernama Sa'adi Shirazy pernah mengungkapkan, ‘Jika Sultan menganggap benar tindakannya mengambil sebagian telur secara paksa, maka pasukannya akan mengambil ribuan unggas dari panggangannya.’

Thayeb Loh Angen, Pemerhati Politik Aceh, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki