Taqiyuddin Teliti Tinggalan Aceh Darussalam Secara Sukarela

Peneliti Kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad, mengarungi kuala di gampong Diwai Makam, Lambaro Skep, Kuta Alam, Banda Aceh untuk meneliti inskripsi yang berada di nisan Aceh yang ditelantarkan di tempat tersebut. Penelitian ini dilakukan atas keprihatinannya terhadap peninggalam sejarah Aceh Darussalam yang ditelantarkan oleh pemerintah yang memiliki Dinas Kebudayaan dan BPCB. Letak nisan-nisan tersebut sekitar 500 meter dari kantor Gubernur Aceh.  Nisan-nisan tersebut tengah dibaca, sejauh ini semuanya merupakan buatan awal abad XVI - abad XVII Masehi. Foto direkam pada 13 Juni 2014 oleh Irfan M Nur.
Banda AcehPeneliti Kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad, mengarungi sungai di gampong Diwai Makam, Lambaro Skep, Kuta Alam, Banda Aceh untuk meneliti inskripsi yang berada di nisan Aceh yang ditelantarkan di tempat tersebut.

Penelitian tersebut dilakukan atas keprihatinannya terhadap peninggalam sejarah Aceh Darussalam yang ditelantarkan oleh pemerintah yang memiliki Dinas Kebudayaan, BPCB. Dalam penelitian yang dilakukan selama sekitar belasan hari bersama anggota LSM CISAH (Central Information for Samudra Pasai Heritage) tersebut, Taqiyuddin dipandu oleh ahli tempat, Kafrawi. Nisan-nisan tersebut tengah dibaca, sejauh ini semuanya merupakan buatan awal abad XVI - abad XVII Masehi.

"Setelah selesai secara umum dengan tinggalan sejarah Samudra Pasai, kini saya tengah memusatkan penelitian terhadap peninggalan Aceh Darussalam. Penelitian secara independen dan dengan belanja sendiri ini akan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Untuk sementara kami pusatkan perhatian pada wilayah utara daripada Krueng Aceh. Nisan-nisan di Diwai Makam ini berada sekitar 500 meter dari kantor Gubenur Aceh," kata Taqiyudddin.

Lelaki yang baru saja mendapatkan Banda Aceh Heritage Award ini melakukan penelitian secara suka rela, tanpa bantuan Pemerintah Kota Banda Aceh maupun Pemerintah Aceh. Anugrah yang diberikan oleh sebuah ormas Pemerintah Kota Banda Aceh berupa selembar kertas yang terbingkai, tanpa belanja penelitian sebagaimana umumnya anugrah yang dibuat oleh wilayah atau negeri lain.

"Penghargaan itu kami terima, itu bisa menghiasi dinding kantor. Tetapi apakah mereka tahu bahwa yang benar-benar kami butuhkan adalah belanja penelitian dan siaran dalam bentuk buku dan semacamnya atas hasil dari penelitian ini supaya sampai kepada masyarakat. Dengan belanja sendiri dan kemurahan hati handai taulan, kami tetap melakukan ini karena catatan cendikiawan dan seniman masa silam di nisan-nisan tersebut harus dipahami dengan benar. Nisan-nisan itu berbicara lebih banyak secara fakta," kata Taqiyuddin.pd
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki