Seni Gerakan Kebudayaan dan ‘Mencuri Kambing’ Ala Sun Tzu

Anda harus menjadi perubahan yang Anda ingin saksikan di dunia.
-Mahatma Ghandi, Filsuf India


Di masa Orde Baru berkuasa, kebudayaan Aceh dikikis perlahan bagaikan riak-riak dan ombak mengikis pasir di pantai. Nilai-nilai Islam menjadi hal yang jauh dan hampir menjadi tabu dibawa ke hadapan khalayak, apalagi ke dalam pemerintahan. Sekulerisme yang dijalankan di negeri berpenduduk Islam terbesar di dunia, yakni Indonesia, lebih lagi di Aceh, jauh lebih buruk daripada di negeri lain yang berpenduduk Islam.

Republik Turki, yang juga berpenduduk terbanyak Islam dan memakai sistem negara sekuler, tidak seburuk Indonesia. Umat Islam, terutama di Aceh semestinya bersyukur karena Hasan Di Tiro membakar semangat kebangsaan Aceh sejak 4 Desember 1976, yang dengannya Islam terangkat karena kebudayaan Aceh dan Islam telah menyatu selama ratusan tahun.

Hasan Di Tiro tidak membangkaitkan Pan Islamisme sebagaimana Daud Beureueh, tetapi ianya mengangkat Acehisme. Acehisme lebih bisa diterima oleh negara-negara sekuler yang menjadi penguasa di PBB. Namun, Negara Aceh sebagaimana Timor Leste tidak akan pernah disetujui oleh Negara-negara kuat tersebut karena mereka tahu apabila Aceh tidak lagi di bawah RI, Islam di Asia Tenggara akan mencapai kejayaannya kembali sebagaimana sejarah telah membuktikannya selama ratusan tahun.

Orang harus berpikir waras supaya bisa melihat semua sisi baik dari apa yang sudah dibuat oleh Hasan Di Tiro. Maka, paranoid yang hanya membaca beberapa berita atau buku tentangnya akan menjadi orang yang tersesat di antara hutan belantara sejarah.

Lalu, apa hubungannya gerakan kebudayaan di Aceh di zaman sekarang dengan Hasan Di Tiro yang menyatakan bahwa sejarah lebih kuat daripada ribuan senjata? Menjawab pertanyaan ini, tidaklah sesederhana yang dipikirkan oleh orang. Apabila dikatakan tidak, maka orang-orang tersadarkan akan sejarah dan mengurusnya seraca khusus setelah perdamaian dari perang yang dinyalakan oleh Hasan Di Tiro.

Apabila dibilang memang terkait, maka bukti menyatakan sebaliknya secara telak. Hasan Di Tiro, sebagaimana di dalam dramanya ‘The Drama of Achehnese History 1873-1978, hanya memusatkan perhatian pada sejarah dan keadaan Aceh dari 26 maret 1873 ke depan.

Sementara gerakan kebudayaan yang muncul sekarang lebih tertarik memusatkan perhatian pada masa kegemilangan Aceh Darussalam dan Samudra Pasai (Abad XII – abad XVII Masehi) yang di masa itu menjadi pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.

Keadaan satu lagi yang menyatakan bahwa gerakan kebudayaan sekarang terpisah dari perjuangan Hasan Di Tiro adalah sikap orang KPA dan PA yang menisbahkan dirinya sebagai penerus ideologi Hasan Di Tiro tidak menganggap gerakan kebudayaan yang dilakukan oleh beberapa organisasi kebudayaan di luar pemerintah sebagai hal penting.

Dunia tahu bahwa Hasan Di Tiro suka menulis dan seorang pembaca buku. Kini, apakah orang-orang yang disebutkan sebagai pengikutnya suka membaca buku dan apakah mereka juga suka menulis? Hasan Di Tiro, pada awalnya membuat gerakan intelektual, bukan gerakan militan. Namun yang berkembang adalah sayap yang militan. Sementara di zaman ini, otak lebih mahal daripada tenaga. Simpan Rincong Ambil Pena.

Penelitian tentang tinggalan Samudra Pasai yang dilakukan oleh CISAH (Central Information for Samudra Pasai Heritage) –sebuah organisasi yang dibentuk oleh Taqiyuddin Muhammad- (kini juga tengah meneliti tinggalan Aceh Darussalam) dan beberapa organisasi lain yang muncul hampir sezaman, tidak mendapat perhatian dari pemerintah Aceh dan dan Kabupaten/Kota sebagaimana seharusnya, yang penjabat-penjabat itu hampir semuanya dikendalikan oleh KPA dan PA.

Sebagai contoh, Muhammad Thaib (cek mad), tokoh yang dibesarkan oleh GAM, yang dinaikkan oleh PA sebagai bupati Aceh Utara periode 2012-2017, telah bertemu dengan Taqiyuddin Muhammad dan kawan-kawan di dalam sebuah acara resmi, dan di hadapan rakyat ia mengatakan puja-pujian tentang penelitian itu.
Lalu setelahnya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Hasil-hasil penelitian tersebut tidak disiarkan -apalagi mendukung penelitian selanjutnya- oleh pemerintah Aceh Utara di bawah kepemimpinan Cek Mad.

Apakah seorang bupati tidak bisa dipercaya lagi kata-katanya, ataukah ada pembisik di sekelilingnya yang sengaja merusak dengan halus, kita tidak tahu. Kejadian serupa juga terjadi di pemerintah kota Banda Aceh dan Dinas Kebudayaan Aceh.

Kejadian-kejadian tersebut mengingatkan saya tentang sebuah kisah yang terjadi di Paloh Dayah, pada suatu masa.

Pada tahun Jim, ada sekumpulan orang yang mencari bibit gaharu dan cendana untuk diselamatkan dan diperbanyak. Tetapi alangkah terkejutnya mereka manakala sampai di sebuah hutan yang dipenuhi oleh pohon gaharu dan cendana. 

Di dalamhutan itu ada sekawanan monyet yang mencabut-cabut benih kayu berharga itu, mematahkan cabangnya, meluruhkan daun-daunnya untuk digigit-gigit dan disemburkan kembali; monyet-monyet itu membuang berak di atas cabang dan daun-daun yang telah tercabut, sebagian mereka bergelantungan di cabangnya, merusak tunas di semua dahan dan batang yang hampir kering.

“Dasar monyet!” teriak kafilah penyelamat gaharu. 

“Begitulah pohon berharga di tangan sekalian monyet,” pikir mereka. 

Saya tidah tahu, apakah aktivis kebudayan sekarang akan meilai begitu kepada orang dinas kebudayaan.

Maka, di manakah benang merah itu terputus atau tersambungkan?

Kesalahan yang dilakukan oleh petinggi GAM adalah tidak menyiapkan anggotanya dan masyarakat Aceh untuk mencintai Aceh bersama apa saja warisan indatu (nenek moyang). Kesalahan ini terjadi karena kurangnya pengetahuan oleh pelaku. Sampai sebelum perjanjian damai15 Agustus 2005, yang diseru-serukan adalah melawan kezaliman pemerintah, bukan memperkuat masyarakat Aceh.
Di dalam seni perang Sun Tzu, salah satu pasalnya dari 36 pasal, yakni

 “Mencuri kambing di sepanjang perjalanan.” 

Ini bermakna, di sepanjang jalan untuk mencapai tujuan akhir yang besar, pejuang mesti memanfaatkan peluang kecil itu untuk mengambil sesuatu yang dengannya pasukan bisa bertahan dan tujuan besar tersebut mudah untuk diraih, atau supaya apabila tercapai ia tidak akan terlepas lagi.

Namun, yang ironis dan tragis, pasal tersebut dipahami dengan ‘mencuri kambing’ secara harfiah. ‘Kambing-kambing’ yang dicuri tersebut bisa dalam bentuk meminta bagian dari sebuah pengerjaan (proyek) dari pemerintah atau lainnya tanpa bekerja, bisa berupa pembagian uang aspirasi anggota dewan, bisa lain-lainnya. Dengan kejadian tersebut, pejuang pun menjadi pencuri kambing dan melupakan tujuan akhirnya, yakni membuat bangsa kembali bermartabat.

Artinya, waktu sebagian dari orang-orang ini disibukkan dengan memperkaya diri, dan untuk menyikapi ketidak adilan -yang kini mereka pun telah menjadi penyebabnya- mereka akan mencari-cari kesalahan pihak lain, tanpa mengakui kesalahan diri, bahkan membenarkan kesalahan diri.

Sudah dua periode orang-orang ini menguasai pemerintahan, apakah visi misi membangun Aceh berjalan sepenuhnya, apakah korupsi semakin berkurang ataukah semakin bertambah? Bagian-bagian dari ideologi Acehisme itu memang masih menjadi barang dagangan yang diminati oleh pasar.

Di dalam setiap perjuangan, ada pejuang, sesuatu yang diperjuangkan, untuk siapa diperjuangkan, dan siapa musuh bersama. Sekalian aktivis kebudayaan yang terbagi di dalam beberapa organisasi adalah pejuangnya, yang diperjuangkan adalah penggalian filsosofi dan penyelawatan dari warisan indatu (nenek moyang Aceh) dan pengenalannya akan orang Aceh dan penduduk dunia.

Dalam hal tersebut, yang diperjuangkan tersebut adalah untuk orang Aceh sekarang dan generasi dunia selanjutnya. Musuh bersama adalah perusak warisan tersebut, baik yang berbentuk benda mahupun bukan berbentuk benda serta orang yang berkuasa dan berkewajiban menyelamatkannya (pemerintah) tetapi tidak menyelamatkannya.

Sebaiknya kita mengenali diri sendiri, apa yang kita perjuangkan, untuk siapa kita perjuangkan, dan siapa musuh kita bersama, dan bagaimana membuat musuh itu bisa menjadi kawan yang baik, sebagaimana seorang bijak menasehati kita bahwa satu orang musuh sudah banyak dan seribu orang teman masihlah sedikit.
Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT)
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki