Istanbul Kota Budaya Eropa

Masjid Sultan Ahmed, di Istanbul, Turki. Foto: wikimedia.org
Istanbul – Badan Kebudayaan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UNESCO menetapkan tiga kota di Eropa sebagai “kota budaya Eropa” yakni Istanbul di Turki, Essen di Jerman dan Pecs di Hungaria. Hujan kembang api spektakuler menghiasi langit Kota Istanbul, Turki, sepanjang Sabtu 16 Januari malam waktu setempat.

Inilah cara pemerintah dan masyarakat kota terbesar di Turki ini merayakan penobatan Istanbul sebagai salah satu kota budaya di Benua Biru. Kembang api meriah pada Sabtu malam lalu ditembakkan dari tujuh area di Kota Istanbul. Angka tujuh merupakan simbol tujuh bukit yang menjadi saksi peradaban Istanbul dari masa ke masa. Kota yang bernama Yunani ”Konstantinopel” ini memang istimewa. Sejak didirikan pada abad ke-7 Sebelum Masehi (SM), Istanbul menyimpan kisah sejarah yang akhirnya mempertemukan tiga kekaisaran, yaitu Romawi, Bizantium, dan Ottoman.

”Istanbul adalah kotanya Eropa. Peradaban, kebudayaan, sejarah, dan kehidupan masyarakatnya merupakan representasi Eropa,” ujar Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan. Penghargaan yang diberikan UNESCO kepada Istanbul kali ini turut menyemai harapan di hati para pemimpin politik Turki. Mereka berharap titel ”kota budaya Eropa” yang kini melekat pada Kota Istanbul dapat menjadi pertimbangan pemimpin Uni Eropa (UE) untuk memberikan tanda keanggotaan bagi Turki. Dua malam lalu, seluruh museum di Kota Istanbul dibuka hingga tengah malam.

Seakan tidak ingin kehilangan momen, masyarakat Istanbul juga berdesak-desakan di jalanan demi menyaksikan kemeriahan kembang api yang membuat Istanbul semakin gegap gempita. Sebagai kota yang kaya akan budaya dan peninggalan sejarah, Turki mampu meraup sedikitnya 7,5 juta wisatawan setiap tahunnya. Seiring dengan gelar yang baru saja diraihnya, kini Istanbul semakin berbenah untuk menyambut lebih banyak wisatawan. Pemerintah lokal bahkan sudah mempersiapkan 170 gelaran budaya sepanjang 2010, yang nantinya diharapkan mampu mendatangkan sekitar 10 juta wisatawan lokal dan asing.

Pihak penyelenggara gelaran budaya juga tengah mempersiapkan kehadiran kelompok musik asal Irlandia, U2, dan pembukaan Museum of Innocence pada Juli mendatang. Selain Istanbul, tentu saja penduduk Kota Essen yang terletak di tepi sungai Ruhr, Jerman, dan Kota Pecs yang menempati Hungaria bagian selatan juga merasakan kebanggaan sekaligus kemeriahan yang serupa. Sabtu lalu, Presiden Jerman Horst Koehler membuka perayaan atas terpilihnya Essen menjadi salah satu kota budaya di Eropa. Selama ini, Essen dikenal sebagai kawasan yang identik dengan sejarah pertambangan batu bara dan produksi aluminium.

”Penghargaan ini memberikan dampak positif bagi masyarakat kami. Mereka kini semakin bersemangat dan bangkit kembali untuk membangun kekuatan baru,” ungkap Koehler dalam sambutannya. Gelar yang diberikan oleh UNESCO kepada Essen kali ini merupakan momentum yang luar biasa. Bagaimanapun, inilah kali pertama Essen menerima penghargaan sebagai ”kota budaya Eropa”. Peradaban sungai Ruhr yang terletak di Jerman barat terbagi atas 53 kota yang dihuni oleh sedikitnya 5,3 juta penduduk.

Jutaan masyarakat yang hidup di sepanjang sungai Ruhr dikenal sebagai kelompok yang mencintai seni dan sejarah. Hingga kini, mereka tetap setia menjaga kelestarian 120 gedung teater, 100 gedung konser, dan 200 museum yang tersebar di sejumlah tepian sungai Ruhr. Akhir Maret mendatang, Essen akan mempertunjukkan seni tata cahaya mutakhir. Proyek bertajuk Essen’s Biennale for International Light Art ini bakal memperlihatkan kecanggihan teknologi dan seni cipta cahaya yang dikerjakan oleh generasi muda Essen. Kemudian pada 19 Juni 2010, tepat ketika Essen mengalami hari terpendek sepanjang tahun, justru akan menjadi hari terpanjang.

Pada pertengahan tahun inilah, Essen akan menggelar berbagai pertunjukan musik yang bakal berlangsung sepanjang malam. Kota terakhir yang menerima penghargaan ”kota budaya Eropa” adalah Pecs. Selama hampir 2.000 tahun terakhir, kota di selatan Hungaria ini membuka seluruh jalur transportasinya untuk memudahkan aktivitas perdagangan antar negara dan tentara yang harus menyeberang dari satu kawasan ke kawasan lain di Eropa.

Mengingat wilayah Hungaria yang tergolong mungil, sudah pasti luas wilayah Pecs pun jauh lebih sempit. Kota yang kerap disebut sebagai ”kota tanpa batas” atau ”Borderless City” ini hanya didiami oleh 150.000 penduduk saja.Koran SI/Koran SI/mbs/okezone.com
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki