Hasan Di Tiro Seorang Sastrawan

Sastrawan Agung Hasan Di Tiro tengah menulis buku.
Bahasa Melayu atau Indonesia menyebutnya ‘sastra’, bahasa Inggris menyebutnya ‘literature’, tetapi orang-orang di Indonesia menganggap istilah literature berbeda dengan sastra.

Definisi sastra secara umum disebutkan di dalam kamus atau website yang diartikan adalah tulisan-tulisan yang berbentuk bukan puisi, tulisan fiksi prosa seperti cerpen dan novel, naskah film, drama, atau nyanyian. Namun sesungguhnya, sastra jauh lebih luas daripada yang disebutkan itu, bersifat universal. 

Mereka yang hanya memahani sastra dalam ruang sempit seperti pemahaman orang Indonesia itu niscaya tidak bisa memahami julukan sastrawan pada Hasan Di Tiro. Sesungguhnya di dalam arti yang sebenarnya, semua karya Hasan Di Tiro bisa disebut sastra, tidak hanya dramanya. 

Namun pada tingkatan sekarang dikedepankan drama karyanya untuk sekedar menyamai pemahaman khalayak orang-orang yang merujuk pada pemahaman yang keliru dari orang Indonesia akan sastra. Tetapi ada baiknya jika definisi sastra itu nantinya bisa dipahami dan diterima dengan pemahaman sebenarnya yang lebih universal sesuai dengan kaedah penduduk dunia yang beradab.

Kategori tulisan sastra jelas disebutkan puisi, novel, dan sejenisnya. Tetapi juga tersebutkan (dan kemudian terabaikan dalam pemberlakuannya); sastra: instruksi atau ajaran. Maka sudah seyogianya kita mengembangkan pemahaman yang sekarang terlupakan. Kita kembali kepada istilah sastra yang sebenarnya. Selamat datang di dunia yang memahami sesuatu sebagaimana kesejatiannya.

Maka sesungguhnya, konsep sastra tidak hanya melingkupi konsep sastra secara umum yang dipahamkan oleh orang-orang di negeri ini, tetapi filosofi pemikiran Hasan Di Tiro yang dituangkan ke dalam tulisan semuanya mengandung unsur sastra. 

Karya Hasan Tiro yang fiksi seperti Drama Sejarah Aceh yang kita bincangkan hari ini bukanlah fiksi romantika tetapi lebih pada fiksi historis, kalau boleh disebutkan begitu. Tetapi yang paling penting, sedekat apa kandungan historis tersebut. 

Jika andalan sastra elit Aceh seratus tahun yang lalu adalah Hikayat dengan rujuan religi seperti Hikayat Prang Sabi atau lainnya, maka sastra curak zaman Hasan Di Tiro adalah gabungan antara sosio-religi dan keilmiahan. 

Artinya: drama Hasan Di Tiro adalah jenis sastra modern yang tetap mewarnai dirinya dengan identitas ke-Acehan. Drama karya Hasan Di Tiro dari Aceh menyamai drama karya William Shaeskpare dari Inggris, jika tidak disebut lebih baik.

Rangkuman: Dr Mehmet Ozay, Nia Deliana, dan Thayeb Loh Angen untuk penghantar Seminar Kebudayaan yang bertajuk Hasan Di Tiro Seorang Sastrawan yang diperbuat oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki), 3 Juni 2014 di Aceh Community Center Sultan II Selim, Banda Aceh, 
untuk peringatan 4 Tahun (3 Juni 2010 – 3 Juni 2014) wafat Hasan Di Tiro (25 Agustus 1925 -3 Juni 2010).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki