Bahaya Film dan Game Amerika

Lembah Hollywood. Foto: blog.ub.ac.id
Sebagian besar penduduk Indonesia diperkirakan pernah menyaksikan film buatan Hollywood, Amerika Serikat oleh karena serangan pasar film asing ke televisi Indonesia dimenangkan oleh Amerika, Cina, dan India. Ketiga negara besar dan kuat tersebut sama-sama membuat propaganda melalui film, namun kita membicarakan Amerika semata karena cara negara inilah yang terbilang kasar.

Terbilang kasar? Ya. Seni di dalam film Amerika tidak sehalus yang dikatakan oleh orang-orang. Film-film yang dihasilkan dari lembah Hollywood sering menampilkan bangsa lain selain Amerika dan agama lain (terutama Islam) selain agama terbanyak penganut di sana sebagai masyarakat rendahan. Selain mengampanyekan budaya mereka, sekaligus merendahkan yang selain mereka –ini tidak dilakukan oleh Cina dan India melalui Hongkong Film dan Bollywood.

Inti daripada propaganda Amerika di dalam film-film tersebut menerangkan bahwa negara yang belum ada tatkala Aceh Darussalam menjalani zaman kegemilangan itu memiliki tentara yang hebat dengan senjata tercanggih. Dan di sana mereka mengampanyekan budaya mereka seperti perzinahan (sex bebas), minun alkohol dan suka menyerang negara lain adalah hal yang baik.

Selama masih menonton film Hollywood, secara tanpa sadar, orang-orang akan termakan dengan propaganda tersebut. Namun, bagi orang yang mahu berpikir dan mengetahui sisi lain daripada gaya Amerika, ia akan tahu bahwa film-film Hollywood berisi kepalsuan untuk menipu penduduk dunia.

Sebagai contoh, sudah amat sangat jelas bahwa Amerika kalah total ketika berperang dengan Vietkong di Vietnam, namun mereka tetap saja menipu dengan Film Rambo dan lainnya, menciptakan legenda palsu. Lihatlah di setiap film-film itu, selalu saja diperlihatkan bendera Amerika dan hampir rata-rata memperlihatkan salib –apakah ini ada kaitannya dengan Perang Salib?

Film-film itu didukung oleh negara dan disesuaikan dengan kepentingan politik dan agama negara. Begitupun di India, negara mendukung pembuatan film-film yang kemudian di kumpulkan di Bollywood Mumbai, sebelum dipilih yang mana disiarkan ke seluruh dunia dan yang mana Cuma untuk orang India di sana. Itu sebagai senjata India untuk mengampanyekan budayanya –dalam melawan Cina dan Barat.

Hongkong, yang lebih dahulu maju di bidang film daripada India, melakukan hal yang sama. Ini bagaikan bumi dan langit apabila dibandingkan dengan yang terjadi di Aceh. Pemerintah akan heran dengan belanja yang ratusan juta Rupiah –apalagi milyaran- untuk sebuah film dokumenter sejarah, misalnya.

Kata pejabat-pejabat itu, film tidak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak berbentuk benda sebagaimana jalan, bangunan, jembatan dan sebagainya. –Mendengar jawaban tersebut, kita merasa ada sesuatu yang menghiris-hiris di badan, makanya jangan pilih ‘lutung’ menjadi pemimpin daerah, anggota dewan, dan PNS.

Apa akibat-akibat buruk dari disaksikannya film Hollywood oleh masyarakat Islam? Hal yang paling nyata adalah mereka akan mendukung liberalisme, perzinahan, mengatakan orang Islam (terutama yang di seputaran Timur Tengah ) sebagai teroris, anti partai atau negara berdasarkan Islam, dan lainnya.

Ketika menyaksikan film Hollywood, umat Islam sendiri bersurak-sorai tatkala tokoh utama menganiaya umat Islam yang disebutkan sebagai teroris yang dibuat berperangai buruk di dalam film tersebut. Kini, bila diperhatikan, Amerika tengah mengampanyekan sihir melalui film Hollywood-nya. Itu, sebagaimana kekerasan, perzinahan, dan semacamnya adalah hal yang bertentangan dengan fitrah kehormatan manusia sehingga dilarang oleh Islam.

Sekarang, apabila mendapatkan film Hollywood yang secara kasar mengampanyekan kepentingan dan agama Amerika, perut saya langsung terasa mual seperti di dekat kubangan tinja (septy Tank) yang terbuka. Yang ironis, umat Islam sengaja membeli televisi dan benda serupa untuk menonton siaran-siaran yang membuat dirinya kehilangan jati diri.

Indonesia yang penduduknya terbanyak Islam malah memiliki perusahaan film yang dikuasai oleh kapitalis yang berpikiran liberal yang cenderung membuat film dengan kualitas rendah -terbanyak sinema elektronik (sinetron)- yang mengedepankan perzinahan dan keserakahan. Lebih kurang, perfilman Indonesia sama menjajahnya dengan yang datang dari luar, namun kualitas, filosofi, dan seninya jauh lebih buruk.

Menyaksikan (menonton) film-film dan sinetron itu, bukan saja menyita waktu yang sedikit diberikan oleh Tuhan, tetapi ianya juga bagaikan racun yang merusak iman sebagaimana api di dalam sekam, tidak terlihat tetapi perlahan-lahan mampu membakar sampai semuanya menjadi abu.

Nyatalah bahwa film dan apapun media audio visual, termasuk games adalah media propaganda terbaik di zaman ini. Amerika memanfaatkan hal ini untuk mengelabui kita. Mengapa kita tidak melakukannya untuk memperkuatkan diri dengan membuat film dan games yang mengangkat martabat Aceh?

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PukAT)
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki