Antara Makam Al-Qahhar Yang Agung dan Titik Nol Banda Aceh yang Berbau Busuk

Antara Tiang-Tiang Athena, Darul Hikmah Baghdad, Dinding Konstantinopel, Halaqah Samudera Pasai, dan Dermaga Krueng Aceh

Salam’alaikum ya ahlil qubur
Tafakkur kami di sini
Engkau telah pun membina peradaban luhur
Tersungkur negeri di tangan kami.

Peneliti Islam Taqiyuddin Muhammad (dua dari kiri) menjelaskan makna kaligarafi di makam Sultan Alaidin Al-Qahhar Yang Agung di Kandang XII, Banda Aceh, 19 Juni 2014. Terliaht di foto: Sukarna Putra (kiri), Saiful (dua dari kanan), Thayeb Loh Angen (kanan).  Foto: Irfan M Nur.
Malam yang bersejarah itu ialah Jumat, 19 Juni 2014. Kami mengunjungi Kandang XII tempat bersemayamnya sultan-sultan kami yang agung. Setelahnya, kami bertujuh pun mengunjungi Titik Nol Banda Aceh yang berbau sampah sehingga siapapun yang ke sana akan merasakan perutnya mual-mual, bahkan muntah. Tetapi beberapa media menyiarkan bahwa titik itulah kebanggaan kota Madani Banda Aceh. Ironis, demikian istilahnya.

Salah satu jasad yang terbaring di Kandang XII adalah milik sultan besar Aceh Alaidin Al-Qahhar Yang Agung. Beliaulah yang mengirimkan utusan ke Konstantinopel (Istanbul) di bawah pimpinan Orang kaya Maha Raja Lela Umar dan Husen dalam masa sekitar tahun 1560-an Masehi. Itulah peristiwa yang dikenal dengan Lada Sicupak, yang karenanyalah Aceh semakin kuat dalam mempertahankan kedaulatan Islam di Sumatra dan Semenanjung Melaka serta negeri-negeri lainnya.

Sultan Al-Qahhar juga yang menyusun dan memberlakukan aturan-aturan yang membuat Aceh kuat dan maju di zaman itu sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. Di hadapan makamnyalah kami bertafakur. Bukan semata mengakui kebesarannya, akan tetapi pun mengakui kelemahan kami yang belum pun berjaya menguatkan kembali peradaban ini.

Setelah mengagumi keindahan ukiran-ukiran di nisan yang terbuat dari batu dan perunggu itu, juga mengambil hikmah daripada apa yang telah diperbuat oleh yang jasadnya dibaringkan di dalam batu itu, kami pun terpikir, seberapa banyakkah orang yang telah mengunjungi tempat ini?

Dari puluhan ribu penduduk Banda Aceh sekarang, berapa orangkah yang telah mengunjungi makam-makam orang mulia tersebut? Dan, apakah pemimpin Aceh sekarang mahu mengambil pelajaran darinya? Setelah melihat-lihat, mengusap-usap nisan, dan berdu’a beberapa kata, kami pun meninggalkan makam sultan besar tersebut.

Mizuar Mahdi (kanan), Thayeb Loh Angen (kiri) membaca tulisan di tugu titik nol Banda Aceh. Bau busuk dari tumpukan sampah yang menggunung di TPA di samping tugu tersebut membuat mereka harus menutup hidung dengan kerah baju tebal. Foto: Irfan M Nur.
Lalu kami pun menuju titik nol kota Banda Aceh, di Gampong Jawa, yang terletak tepat di sisi pagar tempat pembuangan sampah terbesar di Aceh. Bayangkan saja bagaimana baunya. Sesampai di sana, kami ingin menuliskan beberapa puisi karena itu berada di sini hujung Krueng Aceh. Jangankan menulis puisi, berbicara lama-lama pun kami tidak sanggup, bau dari tempat sampah yang menggunung itu telah merasuki penciuman kami.

Menurut beberapa kabar, titik nol tersebut adalah kebanggan kota ini. Kami pun terpikir, apakah sampah-sampah yang dikumpulkan dari puluhan ribu penduduk Banda Aceh inilah yang ingin diperlihatkan dan diperciumkan akan sekalian pengunjung titik nol di Bandar Wisata Islami, Kota Madani ini?

Dan menurut cerita, di bawah tumpukan sampah yang menggunung itu pun terdapat banyak nisan Aceh yang berukir dengan hiasan kaligrafi berisi ayat Al-Quran dan nama-nama orang yang disemayamkan di sana. Setelah beberapa sa’at, kami tidak sanggup lagi bertahan di titik nol itu karena di dalam perut seperti ada benda yang bergerak-gerak, ingin muntah.

Maka, bau-bau yang juga melekat di pakaian, kulit, dan rambut kami, serta angin laut yang menghalau ke selatan, membuat kami segera meningalkan tempat andalan Banda Aceh itu secepat kendaraan kami bisa melaju.

Dan, kami pun singgah di sebuah kedai di tepi Krueng Aceh. Di ruang yang menjurus ke sungai itu pun kami berbincang melintasi zaman kegemilangan, seraya sesekali memandang air Krueng Aceh yang memantulkan cahaya kuning dari penerangan tepi kali yang dibuat di masa Allah Yarham Mawardy Nurdin menjadi Walikota Banda Aceh.

Sebagaimana malam-malam sebelumnya, kami membicarakan tentang peradaban Aceh yang pernah gemilang hasil bentukan tokoh-tokoh besar. Bagaimana pencerahan dan filosofi dari kegemilangan tersebut bisa kembali dihadirkan sesuai dengan perkembangan zaman yang sekarang telah pun dikuasai oleh Barat, yang di masa kegemilangan tersebut, mereka masih berupa bangsa yang tertinggal.

Angin laut yang berhembus, sedikit demi sedikit menghilangkan bau sampah titik nol Banda Aceh yang melekati pakaian dan rambut kami. Kami merasakan seperti ahli filsuf yang berbincang di antara tiang-tiang Athena, Yunani; darul hikmah Baghdad, dinding Konstantinopel, halaqah Samudera Pasai, dan dermaga Krueng Aceh.

Seakan, malam itu, kami (Taqiyuddin Muhammad, irfan M Nur, Sukarna Putra, Mizuar Mahdi, Saiful dan kawannya dari sebuah kampung di Aceh Utara) menyaksikan Sultan Alaidin Al-Qahhar Yang Agung melintasi bagian Krueng Aceh di hadapan kami, yang disambut dengan elu-elu kebesaran oleh sekalian rakyat yang berbaris di tepi sungai itu.

Kami pun menyaksikan, bagaimana rombongan Lada Sicupak melintasi sungai ini tatkala menuju Konstantinopel, dan dua tahun setelahnya, tatkala kembali daripada kota terbesar di Eropa sebagai pusat pemerintahan dunia tersebut.


Apa yang kami bayangkan pada malam itu adalah khayalan tentang masa silam. Sementara yang dibutuhkan sekarang, baik daripada rakyat biasa atau pemimpin negeri, ialah seayogianya Tuan dan Puan sekalian mengunjungi Kandang XII dan mengambil pelajaran daripada apa yang telah diperbuat oleh sultan-sultan Aceh yang agung.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki