Sebuah Drama Sejarah Aceh Karya Hasan Di Tiro

SEBUAH DRAMA SEJARAH ACEH
1873 – 1978
Sebuah Kisah dalam VIII Scene


Karya: Teungku Hasan M di Tiro 


Kepada anandaku, Karim. Dalam ingatan saya sekitar 500 ribu laki-laki gagah berani, perempuan dan anak-anak Aceh, dan satu setengah dari jumlah keseluruhan penduduk telah meninggal dalam perang Aceh untuk mengusung kemerdekaan yang dimulai sejak 1873 sampai 1942, dikutip berdasarkan kisah nyata oleh penulis dan pemain dalam Drama ini.

Pendahuluan: Dr. Husaini M Hasan, MD

Permainan ini adalah sebuah drama Sejarah Aceh di tahun 1873-1978, yang dituliskan oleh Ketua Front Pembebasan Nasional Aceh Sumatra, Tengku Hasan M. Ditiro, dalam sebuah karya yang sangat luar biasa. Tengku mulai menulis drama tersebut sejak bulan Juli, 1978, bersamaan dengan tahun terjadinya gempa bumi di Krueng Meuk, hutan yang paling tidak memungkinkan untuk dilalui dari Tiro, yang terletak di tebing Barat Utara Gunung Meureusue, 3300 kaki di atas permukaan laut.

Buku ini dituliskan pada waktu senggangnya, di antara peperangan, dan ketika beristirahat di saat  perjalanan pemeriksaan ke berbagai bagian negara, yang biasanya dilakukan dengan berjalan kaki. Kadang-kadang ketika Tengku sedang mengetik, seorang pengawal dari pos penjaga harus mendatanginya untuk menyuruh Tengku berhenti mengetik karena sekalian penjaga telah pun melihat pasukan musuh yang tengah lewat di dekat mereka dan mungkin sekalian musuh tersebut mendengarkan suara mesin pengetik yang memecahkan keheningan di hutan. Kehadiran musuh melambangkan kematian.

Hal ini terjadi berulangkali ketika kami tidak memiliki apapun untuk dimakan selama beberapa hari dan kami semua dalam keadaan lemah, maka kami akan berbaring dan tidak melakukan apa-apa, menunggu persediaan makanan yang orang lain bawakan lagi dari perkampungan. Biasanya pada waktu seperti itulah, suara yang kami dengarkan hanyalah bunyi mesin pengetik Tengku yang tidak berhenti melakukannya selama sepanjang hari dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 06.00 sore. Kami tidak biasa menggunakan lampu di malam hari.

Scene I
Adegan I
Musik: Johan Sebastian Bach, Brandenburg Concerto

Banda Aceh, 1873. Majelis Negara. Tokoh penting menunjukkan bendera Aceh, yang terlukis besar dengan lukisan Iskandar Muda, Ali Mughayat Syah, Safiatuddin dan sekalian tokoh sejarah Aceh lainnya. Di dinding ada peta Aceh meliputi Sumatra, Semenanjung Tanah Melayu, Borneo Barat dan Banten, Jawa Barat. Sekalian anggota sibuk berbicara dengan yang lainnya - semua memakai pakaian Aceh yang indah.

Pengawal: “Yang Mulia Sultan Alaiddin Mahmud Syah!”

(Seluruh hadirin pun berdiri dengan sambutan yang khidmat. Di belakang sultan, sekalian pengawal berjalan dengan rasa hormat yang sekalian mereka itu memakai pakaian seragam berwarna-warni dan bersenjata lengkap. Setelah yang mulia sultan telah pun duduk, niscaya seluruh hadirin pun menempati tempat duduk mereka dan berdirilah sekalian penjaga berbaris sepanjang dinding ruang masuk.

Perdana Menteri (Tengku Panglima Polem Raja Kuala): Paduka yang Mulia. Dewan Negara menyambut kehadiran paduka yang ramah  di antara kami hari ini, dan…

(Pintu utama bersuara: ”Bang, bang, bang!” Pintu langsung terbuka. Seorang kusir berlutut di atas lantai dengan suara nafasnya yang terdengar sangat keras, yang menandakan bahwa dia baru saja berlari dengan sangat cepat untuk membawa pesannya).

Kusir: “Yang Mulia, Paduka Agung, Tuan Besar saya …”

(Dia terus menerus mengulang kata-kata ini secara tidak jelas tanpa mampu mengatakan pesannya).

Perdana Menteri: “Tenang, anakku. Istirahatlah …. Sekarang, ceritakanlah kepada kami apa yang harus engkau katakan!”

Kusir: “Yang Mulia, armada Belanda telah pun memasuki pelabuhan kita! Pelayaran mereka telah pun menghitamkan laut. Duapuluh kapal perang besar yang semuanya dilengkapi dengan meriam besar telah pun ditujukan untuk bandar yang kita cintai ini.”

(Sebelum anak laki-laki tersebut pergi, bunyi “bang” lainnya terdengar dari pintu utama tersebut. Pintu itu pun dibuka kembali. Seorang pengawal Aceh yang tinggi dan mengesankan berjalan sambil membawa seseorang dengan ciri-ciri orang tersebut kecil, pendek, kurus, dan kelihatan aneh serta tua dalam pakaian Jawanya, sambil memegang risalah bersampul di tangannya, dia pun berdiri di sana dengan malu).

Penjaga: “Yang Mulia. Ini adalah kusir Belanda yang baru saja mendarat dari armada Belanda dengan membawa sebuah pesan untuk pemerintah kita. Dia mengatakan bahwa namanya adalah Mas Sumo. Dia bersuku Jawa dan pelayan dari kaum Belanda.”

Perdana Menteri: “Sumo, mengapa Anda di sini?”

Mas Sumo: “Yang Mulia, Saya adalah pelayan Pemerintah Hindia Belanda. Saya dipesan oleh Tuan saya untuk menghantarkan surat ini ke hadapan paduka yang mulia.”

(Dia berbicara dalam bahasa Melayu yang tidak baku dengan dialek bahasa Jawa. Seorang pelayan berseragam datang untuk mengambil surat tersebut, dan meletakkan surat itu ke talam yang berlapiskan perak, dan membawakan surat yang berasal dari talam, membukanya dengan rincongnya – pisau belati Aceh yang terkenal, dan membaca surat tersebut dengan keras):

            “Untuk Raja Aceh: Atas nama Pemerintahan Kerajaan Belanda meminta Raja Aceh untuk
              melakukan hal-hal berikut:
         1. Pemerintahan Aceh menyerahkan negara ini untuk Belanda tanpa perlawanan
             dan menjadi milik Belanda;
         2. Pemerintahan Aceh melarang perdagangan budak di seluruh pulau Sumatera
             dan menghentikan pembajakan di laut;
         3. Pemerintahan Aceh harus memberikan seluruh bagian Sumatra di bawah kedaulatan Aceh
             secara mutlak akan Belanda;
         4. Pemerintahan Aceh harus menghentikan seluruh hubungan diplomatik dan perdagangan
             dengan negara-negara Eropa dan Asia termasuk Turki dengan segera;
         5. Pemerintahan Aceh harus menaikkan bendera Belanda Merah-Putih-Biru sebagai pengganti
             bendera Aceh Sabit dan Bintang, dan bersumpah untuk setia akan Raja Belanda.

                                Anda memiliki waktu satu jam untuk memenuhi permintaan ini”

Komandan Pasukan Ekspedisi Kerajaan Negeri Belanda

Mayor Jenderal J.H.R. Kohler

(Keributan kecil pun terjadi di dewan tersebut. Seluruh anggota berdiri dan berbicara dengan marah!)
Perdana Menteri: “Tolong jaga adat! Kemuliaannya ada bersama kita!”
(Seorang anggota mengangkat tangan meminta untuk dipersilahkan.)

Perdana Menteri: “Biarkan Teuku Imum Lueng Bata berbicara!”

Teuku Imum Lueng Bata: “Usulan saya singkat dan langsung ke intinya. Jika Belanda mendarat di tanah kita, maka kalau Belanda yang tinggi tersebut kita potonglah mereka itu menjadi tiga bagian, orang Jawa yang pendek kita potong menjadi dua bagian!"

Setiap orang: “Itu benar! Itu benar!” (Bertepuk tangan dan berteriak)

Perdana Menteri: “Yang Mulia sekarang akan memanggil Dewan Negara berkenaan dengan ultimatum Belanda.

Sultan Mahmud Syah: “Wahai sekalian hadirin yang dihormati, Tuanku, Teuku-Teuku dan Tengku-Tengku: Kita telah pun mendengarkan tentang permintaan Belanda. Kita benar-benar marah!”

“Sebagai Sultan Aceh, ini adalah balasan saya untuk kaum Belanda yang kurang ajar: Berkenaan dengan permintaan Anda supaya kami menyerah, sebagai Sultan Aceh, kami terikat dengan kewajiban untuk tidak mengirimkan orang kami dan negara kami akan penguasa dan penakluk asing. Ini adalah jawaban demi kehormatan kami bahwa kami tidak akan menyerah untuk kekuatan apapun di bumi ini.

“Berkenaan dengan permintaan Anda bahwa kami harus melarang perdagangan budak di Sumatra, tidak ada perdagangan budak di wilayah kesultanan kami. Dalam hal pembajakan, hukum kami benar-benar mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pembajakan, kapanpun dan di manapun pembajakan akan ditangkap. Kami tidak memerlukan paksaan dari luar untuk melakukan ini, termasuk dari Anda!”

“Berkenaan dengan permintaan Anda tentang kami yang harus menyerahkan seluruh wilayah Aceh di Sumatra akan Belanda, kami tidak bisa melakukan ini tanpa bermusyawarah dengan penduduk di wilayah tersebut karena mereka sendiri yang mengatur kekuasaan pemerintahan: Ini adalah penduduk milik kami sendiri bukan pendudukan! Mereka memiliki hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Kami tidak akan mengirimkan mereka untuk Anda.

“Berkenaan dengan permintaan Anda tentang kami harus menghentikan segala hubungan kami dengan seluruh dunia dan menyerahkan kesetiaan kami dari Khalifah Islam Turki akan Raja Belanda adalah serupa dengan meminta kami untuk meningalkan agama kami yang sungguh merupakan tidak mungkin. Dan akhirnya, permintaan Anda untuk mengubah bendera kami dengan bendera Anda sangatlah tidak diterima. Demi agama dan bendera kami, kami sendiri, dan setiap orang Aceh akan berjuang hingga tetes darah terakhir!”

Setiap orang: “Hidup Sultan Selamanya! Hidup Aceh!”

(Seluruh anggota pun berdiri dengan khidmat dan bertepuk tangan. Kemudian Yang Mulia meninggalkan dewan di antara tepuk tangan, yang diikuti dengan pengawal, dan anggota lainnya hingga ruangan Dewan Negara benar-benar sunyi, tidak ada seorang pun yang tertinggal, kesunyian dan keheningan telah mengisi ruangan besar tersebut.

---- Layar pun diturunkan ----
(Bersambung ke Scene II - Scene VIII)

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Melayu Sumatra – Indonesia oleh: Zahraini Zainal, Magister Administrasi Pendidikan.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki