Sang Direktur, Pemimpin Teladan dari Aceh

Kisah Tentang Seorang Direktur Sebuah Organisasi Relawan

Gedung pertemuan bantuan Turk Kizilayi (Bulan Sabit Merah Turki) di Banda Aceh bernama Aceh Community Center (ACC) Sultan II Selim kerjasama dengan PMI (Palang Merah Indonesia) Aceh yang dibangun setelah bencana smong (tsunami) 24 Desember 2004. Penamaan Sultan II Selim untuk gedung tersebut untuk mengenang sejarah Lada Sicupak (1560-an Masehi), sebuah kafilah utusan Sultan Al-Qahhar Aceh Darussalam dipimpin oleh Husen dan Umar menuju kota terbesar di Eropa, Konstantinopel (Istanbul), sebagai pusat pemerintahan Islam Turki Utsmani. Setelah dua tahun terlunta-lunta, utusan tersebut diterima oleh Sultan II Selim di istana Topkapi.  lada sebanyak 3 kapal dan barang emas permata yang mulanya ditujukan sebagai hadiah untuk sultan Turki telah pun habis mereka jual selama dua tahun di Istanbul. Yang tersisa hanyalah lada beberapa karung. Kemudian, Sultan II Selim yang baru naik tahta  pun mengutus ahli-ahli meriam, ketentaraan, dan agama, serta sebuah meriam dan bahan-bahan pembuatannya menuju Bandar Aceh Darussalam bersama kafilah Lada Sicupak dari Aceh. Foto: Thayeb Loh Angen

Gubernur, bupati, walikota, kepada dinas, kepala bagian, dan pemimpin mana saja di Aceh sebaiknya berguru akan sang direktur yang masih muda ini.

Kemarin malam, Rabu 21 Mei 2014, setelah membuat janji pertemuan dengan seorang direktur eksekutif sebuah organisasi sosial antar bangsa yang memiliki gedung pertemuan yang berada di Banda Aceh, saya pun datang ke kantornya setelah magrib, janjinya setelah Isya untuk membincangkan tentang sudut pandang dan pola sebuah acara kebudayaan.

Manakala tiba di sana, terlihatlah di sisi halaman ada beberapa bak sampah bersusun, sepertinya baru saja dibersihkan. Mobil dinas kantor terletak di beranda halaman di hadapan pintu utama dan pintu hadapan gedung itu terbuka, mengesankan bahwa di dalamnya ada orang.

Saya pun terpikir, “orang-orang di sini berkerja malam-malam dengan rajin, berapakah anggota mereka, tetapi selama ini saya hanya melihat orang yang sama.”

“Tentu saja, bukankah acara di sini ada yang dibuat pada waktu hari dan ada yang dibuat pada waktu malam,” saya bergumam.

Saya pun masuk. Tetapi tidak ada seorang pun yang terlihat di ruangan luas itu. Saya mendekati dan menjenguk ke ruangan penerimaan tamu, tidak ada orang. Saya lihat ruangan di lantai pertama yang biasanya dipakaikan untuk membuat acara, tidak ada orang.

Dan dari balik kaca buram pintu ruangannya, dibantu oleh cahaya dari ruangan luas untuk umum, terlihat lampunya dipadamkan pun tidak ada orang. Lalu, saya menuju sebuah barisan sofa di hadapan ruangan penerimaan tetamu dan duduk di sana. Sang direktur tidak saya hubungi, karena belum tidak waktu pertemuan dengannya.

Di atas sofa itu, saya pun merenungkan, dalam dua tahun ini sudah beberapa kali saya ke gedung itu untuk menghadiri atawa membuat acara, namun baru kali ini -memanfaatkan masa penantian- saya sempat memperhatikan dengan seksama apa yang ada dan terjasi di sana. Ketidakadanya orang tatkala itu membuat saya khidmat memperhatikannya tanpa terganggu oleh orang yang lalu-lalang dan  suara mereka apabila bercakap-cakap.

Saya pun memperhatikan langit-langit, dinding, lantai, rak pustaka, selebaran, dan apa saja di ruangan luas itu. Bersih, semua barang terletak rapi di tempatnya. Saya pun membaca selebaran dan apa saja pengumunan kegiatan lembaga antar bangsa tersebut.

Seorang pun muncul, dan mengatakan bahwa rekan-rekannya berada di lantai atas tengah membersihkan beberapa barang. Saya tidak ke atas, tidak berusaha mencari sang direktur ke sana karena ruangannya di lantai bawah dan saya yakini bahwa dia akan muncul di ruangannya bila urusan lain sudah pun selesai.
Akhirnya, lampu di ruangan sang direktur menyala dan dia pun sudah terlihat di ruangannya. Ternyata dia mandi setelah pulang dari kunjungan ke pinggiran kota.

Setelah membincangkan tentang rencana kegiatan dan perkembangan Aceh sekira selama satu jam, sang direktur pun mencerikatan tentang pola kepemimpinan yang diperbuatnya di organisasi tersebut. Maka takjublah diri saya karena apa yang dia sampaikan telah pun saya baca di beberapa buku pada waktu beberapa tahun lalu, dan ia mampu melakukannya, bukan seperti saya yang hanya membaca.

Lalu, dia pun bangkit menuju papan tulis putih. Maka jadilah saya sebagaimana seorang murid taman anak yang mendengarkan penjelasan seorang guru tentang kepemimpinan yang telah, tengah, dan akan dijalankannya. Saya takjub seraya menghubung-hubungkan apa yang dikatakannya dengan yang saya baca di buku dan yang saya saksikan tadi. Semuanya terkait.

Baru kali ini saya melihat apa yang dikatakan oleh seseorang sesuai dengan hasil yang dilakukannya. Dan, seketika, harapan saya akan masa depan Aceh lebih baik pun kembali muncul. Ternyata ada juga orang Aceh yang baik dan bijak.

Saya pun berpikir, seandainya semua pemimpin di Aceh memimpin dengan gaya ini, niscaya peradaban Aceh di masa kini akan lebih cepat maju daripada yang dorencanakan, tidak akan ada pencurian harta rakyat oleh penjabat, Aceh akan sejahtera, adil, aman, dan bermartabat sebagaimana diimpikan oleh sekalian orang.

Beberapa hal penting yang disampaikan oleh sang direktur adalah perihal kepercayaan, kejujuran, keadilan, penghargaan akan setiap pekerja sehingga mereka merasa berharga dan merasa memiliki perusahaan tempat mereka berkerja, saling membela sesama anggota sebagaimana sebuah keluarga yang rukun.

Dan tentang perihal keadilan pembagian hadiah atas keberhasilan kerja, dia sengaja membuat aturan yang membuat dirinya tidak berhak menerima hadiah yang didapatkan oleh semua anggotanya.

“Saya ingin membuktikan akan siapapun baik di Aceh maupun di luar negeri bahwa masih ada orang Aceh yang baik dan bermartabat. Dan saya pertegas akan anggota bahwa apapun yang terjadi di lingkungan ini mencerminkan harga diri mereka sendiri, saya, Aceh, dan negara yang membangun gedung ini. Ini adalah tanggung jawab bersama, rujukan saya adalah hadis Nabi Muhammad SAW,” kata sang direktur dengan santai.

“Saya pertegas kepada Dewan komisaris, mereka boleh mencoba, apabila didapati misalnya ada Rp.1000 saja yang digelembungkan harga barang atau apa saja dari anggota saya, maka waktu itu juga saya akan undur diri. Di antara beberapa anggota di sini, ada yang ditawarkan untuk bekerja di tempat lain dengan gaji yang lebih besar, saya persilakan, tetapi mereka tidak mau karena mereka sudah mengalami bahwa di sini mereka dihargai seutuhnya,” lanjut sang direktur.

Saya meminta izin merekam gambar sang direktur tatkala berdiri menjelaskan apa yang telah tertulis di papan tulis putih yang tergantung di dinding, dan kemudian meminta izin menuliskan tentang dia, organisasinya, dan apa yang dia sampaikan. Menurutnya, dia belum patut menjadi contoh bagi bangsa ini, dia baharulah belajar.

Namun dia menegaskan, apabila menurut saya ada manfaat untuk orang lain, maka dia mengizinkan saya menuliskan tentang apa yang disampaikannya tanpa menyebutkan nama dirinya, organisasinya, dan di mana tempatnya. Saya setuju. Sikapnya ini semakin menyakinkan saya untuk menuliskannya karena itu adalah sikap rendah hati yang wajar.

Maka, sebagai orang beradab, saya pun menepati kesepakatan itu. Dan apabila setelah membacakan akan tulisan ini ada dari Anda yang bisa menebak siapa sang direktur dan apa organisasinya serta di manakah alamat organisasi itu, maka hal tersebut adalah dugaan Anda sendiri, saya tidak mengatakannya.

Saya tidak menyebutkan nama sang direktur, organisasinya, dan di mana alamat organisasi itu serta tidak saya siarkan pula foto dirinya yang saya rekamkan pada malam itu. Namun, apabila di kemudian waktu ada dari Anda yang menanyakannya langsung, akan saya katakan karena membicarakan kehebatannya dengan lisan bukanlah larangan dan tidaklah tersebutkan di dalam perjanjian kami.

Sang direktur yang masih muda ini memang hebat sehingga patut menjadi teladan, apabila dia tidak hebat, maka tidak akan saya menuliskan tentang keberhasilannya di sini karena jauh-jauh hari sebelum itu saya telah pun menjumpai beberapa orang pemimpin di pemerintahan dan swasta di Aceh.

Di antara sekalian pemimpin itu, baru sang direktur ini yang menarik perhatian saya karena dari pandangan dan keilmuan saya, dianya memenuhi syarat sebagai pemimpin dan memahami dengan baik apa yang dipimpinnya. Tabik untuk sang direktur. Kita ini bagaikan sinar dari nyala sebatang lilin di antara cahaya bintang yang hampir padam.*

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki), juru propaganda kebudayaan; pernah belajar ilmu kepemimpinan (leadership), penanganan pertikaian (conflict management), hubungan manusia antar bangsa (commucation’s universal).

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki