Hasan Di Tiro, Seratus Tahun Seorang


Orang seperti Sang Wali Hasan Tiro hanya dilahirkan satu orang dalam kurun waktu seratus tahun. Begitulah adat dunia. Saya tidak pernah berjumpa dengan Sang Wali, walau buku tulisannya seperti ‘Jum Meurdehka’ (harga sebuah kemerdekaan -red), Masa Depan Politik Dunia Melayu, Demokrasi Indonesia, dan Drama Sejarah Aceh 1873 – 1978 pernah saya baca.

Dari beberapa tulisan Sang Wali, saya rangkumkan bahwa beliau amat tulus dalam mengangkat martabat Aceh. Dari sejarah dan pola gerakan yang beliau laksanakan, saya nilai bahwa beliau mengerti seni perang dengan sempurna. Suharto yang berupa musuh terbesar beliau adalah orang yang cerdas pula. Semua musuh politik Suharto dapat diatasi dengan baik, apakah ditangkap atau lainnya. Namun Sang Wali tidak bisa disentuh oleh Suharto karena beliau telah memetakan dengan baik apa yang akan beliau laksanakan. Sang Wali menguasai dengan baik apa yang dimasudkan Jenderal Sun Tzu dari Cina dalam buku ‘Seni Berperang.’

Tentu, orang-orang yang hidup sekarang belum mampu mengerti sepenuhnya yang diserukan oleh Sang Wali semasa hidupnya. Kita belum cukup pengetahuan. Dari semua yang saya pelajari, saya berkesimpulan bahwa kekuatan sang Wali adalah penguasaan tentang sejarah dan sanggup menyakinkan orang lain tentang yang beliau yakini itu. Kekuatannya bukan pada uang atau senjata.

“Seujarah leubeh teuga nibak peudeueng, leubeh teuga nibak beude (sejarah lebih kuat daripada pedang, lebih kuat daripada bedil),” ucap Sang Wali dalam sebuah rekaman yang saya tidak tahu di mana itu sekarang, persis dengan buku-buku yang saya sebutkan tadi, tidak tahu ke mana rimbanya. Maksud Sang Wali dalam ucapan tersebut, untuk membuat sebuah bangsa berani dan mampu menuntut haknya adalah dengan membuat mereka menguasai sejarah, bukan dengan memberikan pada mereka pedang atau bedil.

Jika dirunut dalam abad ini, maka Sang Wali adalah orang paling berpengaruh dalam sejarah Aceh pada akhir abad XX dan awal abad XI Masehi. Nama beliau setingkat pentingnya dengan Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Iskandar Muda, Laksamana Keumala Hayati, Sultanah Safiatuddin.

Saya berani menyamakan tingkat beliau dengan indatu-indatu tersebut karena puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun ke depan, orang-orang akan menulis dalam buku sejarah bahwa sambungan sejarah Aceh, setelah Sultan Aceh Terakhir, ada Wali Neugara Aceh Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman, dan dibangkitkan kembali oleh Sang Wali Hasan Tiro.

Beliau juga berhasil membangkitkan kembali bendera Kesultanan Aceh Darussalam dan mencitakan variasi sejarah dalam bendera tersebut sehingga, bendera yang tadinya persis bendera Turki bertambah garis hitam dan putih.

Artinya, Sang Wali adalah seniman besar juga. Selain itu, Sang Wali juga penulis besar, tulisan-tulisannya telah berhasil membuat ribuan orang berperang menuntut haknya. Bahkan buku-buku best seller dunia yang ditulis penulis terkenal dan pemenang nobel dunia sekalipun jarang yang bisa memberikan pengaruh pada bangsanya atau pada umat manusia.

Saya lebih cenderung menilai Sang Wali dari segi intelektual dan strategi gerakan daripada lainnya seperti dalam perang. Jika merunut adat dunia dan manusia, sebuah generasi dihitung dalam kurun duapuluh tahun, selebihnya telah bisa dihitung ke generasi lain. Maka, proklamasi Gerakan Aceh (GAM) pada 4 Desember 1976 oleh Sang Wali Hasan Tiro, difokuskan berhasil pada 4 Desember 1996.

Nah, kita semua masih ingat apa yang terjadi sekitar tahun 1990-an. Reformasi Indonesia terjadi pada 1998. Aceh pun bergejolak, muncullah perang gerilya besar, yang berakhir 2005. Keadaannya beda total dengan sepuluh tahun sebelumnya. Itu terjadi tepat menjelang 10 tahun setelah 1996.

Kita tahu, dalam sejarah Aceh setelah ultimatum perang oleh Belanda pada 26 Maret 1873, kurun perang terjadi selang sepuluh sampai lima belas tahun. Jika tidak ada perang maka perubahan total terjadi dalam kurun tersebut. Ini berarti, ramalannya begini, karena pada 2005 Aceh terjadi peristiwa besar yakni penadatanganan MoU damai total antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), maka pada 2015 ada peristiwa amat besar terjadi lagi, apakah itu lebih damai atau kurang damai.

Perkiraan saya, peristiwa besar di Aceh yang akan terjadi pada seputaran tahun 2015 akan menguntungkan dan mengangkat martabat Aceh. Saya cenderung mengatakan ini karena arah sejarahnya demikian. Rakyat Aceh masih harus mengobati kepedihan dan kepiluan akibat dari perang berkepanjangan, Jakarta sekarang dan ke depan harus menjaga keamanan nasional dari ancaman gangguan negara luar yang mungkin sedang ingin menguasai perairan Indonesia, apalagi di tapal batas.

Bila dilihat dari arah permainan sekarang, kemungkinannya, tidak ada perang di Aceh selama sepuluh sampai duapuluh tahun ke depan. Yah, Sang Wali telah pergi, berganti wali, sementara sang Raja belum jua pulang.acehindependent.com

Oleh Thayeb loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki