Dunia Berkabut Aceh

Teuku Kemal Fasya
Mahdi Idris

Oleh: Teuku Kemal Fasya

Koran Jakarta, 30 Juli 2011.

Judul                     : Lelaki Bermata Kabut.
Penulis                  : Mahdi Idris.
Penerbit                : Cipta Media, Jakarta.
Cetakan I             : Februari 2011.
Tebal                    : 126 hal.
ISBN                   : 978-608-95476-4-1.
Harga                   : Rp. 35.000,-

Dalam perspektif  Claude Levi-Strauss, seorang filsuf bahasa dan juga antropolog, manusia berpikir tentang dunia (the world) cenderung dalam posisi biner: tinggi–rendah, ke dalam-ke luar, kebaikan-keburukan, dll. Itulah yang kemudian diekspresikan dalam kata-kata (words). Dunia secara pejal ditentukan oleh bahasa (world is determined by language). Tak ada dunia di luar kata-kata.

Ketika manusia tidak bisa menentukan posisi biner dengan baik, ia akan melarungkan penilaian melalui mitos dalam ekspresi bahasanya. Mitologi merajam bahasa yang cenderung ekstrem di dua kutub, membuatnya terhubung dan hadir sebagai keberantaraan (in-between-ness).

Inilah yang tergambar dalam kumpulan cerpen Lelaki Bermata Kabut yang ditulis oleh Mahdi Idris, seorang guru pesantren di pedalaman Aceh Utara. Ia menggunakan sastra, untuk “mengajar” santri-santrinya dalam memahami dunia yang lebih luas daripada kitab kuning. Seperti diketahui, dunia pesantren cenderung hidup dalam kesimpulan biner : halal-haram.

Ia menggunakan mitos harian dalam mengungkapkan problem riil masyarakat yang tak mudah dinilai hitam-putih. Ada banyak hal yang tergelung di antara dua sifat. Dalam agama diistilahkan “dunia yang berkabut” (muthasyabihat). Mitos-mitos ini terbentang dalam narasi dan mencapit “kematian-kematian kecil” ( la petite mort) : tentang kejahatan, rasa malu, dosa yang terpilin-pilin, nafsu serakah, kedengkian, dll.

Dalam cerpen Yang Malang misalnya, ia gambarkan sosok Salim. Karena miskin dan desakan istri akhirnya mulai berfantasi untuk menambah penghasilan melalui cara “alternatif”, padahal keterampilannya hanya kuli bangunan.  Salim terpegun oleh kontradiksi kehidupan. Orang-orang mudah membangun mall dan villa, namun baginya, untuk mendapatkan lauk enak dalam sehari pun susah. Itulah yang membuatnya jahat dan mengajak temannya Amin, untuk merampok rumah seorang kaya di kampungnya.

“Rumah Haji Maddan kita kuras. Biar dia tahu diri, jangan sombong jadi orang kaya. Buktinya, dia tidak pernah bayar zakat. Kita harus menggeledah rumahnya, karena di dalam hartanya ada hak orang miskin seperti kita. Sumpah kita tak berdosa mencurinya”

Dalam cerpen lain, Laki-laki Itu, digambarkan situasi malang seorang guru yang menanduk telunjuknya bermenit-menit pada papan pengumuman calon pegawai negeri sipil (CPNS). Ketika urutan nama yang lulus selesai, tak ditemukan namanya. Lelaki ini hanya melanjutkan kepasrahan yang biasa dialami setiap hasil pengumuman. Dideskripsikan sosok lelaki itu sebagai seorang guru honor sekolah swasta yang telah delapan tahun mengabdi. Setiap tahun ia mengikuti tes dan tidak pernah lulus.

Sosok yang dinarasikan dengan “Aku” itu kemudian menerawang pandangannya pada lingkungan sekitar. Ia merasa iri pada penglihatannya: para pegawai yang setiap hari riang masuk kantor, dengan pakaian seragam dan sepatu rapi, sementara nasibnya hanya sebagai pengajar dan penunggu harapan lulus PNS. Menjadi PNS adalah langkah menggenapkan kesempurnaan hidup. Mulai terhuyung masalah di angannya, bagaimana jika ketiga buah hatinya yang masih kecil saat ini tumbuh besar. Bagaimana ia mampu menyekolahkan jika tak ada jaminan PNS. Menjadi guru honor baginya tidak akan cukup membiayai keluarga.setelah saya telusuri, cerita dalam cerpen itu adalah gambaran hidup sang penulisnya sendiri.

Jika ada kritik atas karya-karya Mahdi adalah kecenderungan untuk menyelesaikan cerita dengan penuh pesan moral dan serba positif. Ini tipikal penulis bertema religi, dimana tidak berani membiarkan ada ironi dan kontradiksi tergeletak dalam cerita. Padahal kehadiran sastra bukan untuk memberi kesimpulan atas dunia, tapi menunda dan membuka masalah baru untuk dipahami oleh pembaca.

Seperti ungkapan Roland Barthes, filsuf semiotika Perancis, biarkan pembaca hidup di atas teks sang pengarang, sehingga tak perlu rewel menjelaskan maksudnya seterang-terangnya.*
Teuku Kemal Fasya, kurator karya sastra Aceh.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki