Obama ke Aceh, Ajarkan Demokrasi


Barack Hussein Obama II
Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama II yang lebih dikenal dengan Obama dikabarkan akan ke Malaysia pada Sabtu 26 April 2014. Ia di sana selama tiga hari. Sebelumnya pada 11 Januari 2014, Perdana Mentri Turki Recep Tayyip Erdogan yang lebih dikenal dengan Erdogan telah ke semenanjung Melayu tersebut.

Agenda ASEAN Economic Community (AEC) 2015 telah membuat negara besar seperti Turki dan Amerika Serikat untuk mengujungi Malaysia. Itu tidak ada kaitannya secara langsung dengan Aceh. Baru menjadi perkara besar bagi kita, apabila setelah ke Kuala Lumpur, Obama ke Aceh untuk mengajarkan demokrasi kepada semua partai politik, pemerintah, tokoh publik, dan seluruh masyarakat.

Ingatkah kita, bekas presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan Reccep Tayyip Erdogan pernah ke Aceh setelah tsunami. Mungkin giliran Obama akan tiba. Kalau Erdogan ke Aceh untuk memberikan bantuan kemanusiaan atas nama negara Turki dan Clinton atas nama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), maka akankah Obama datang atas nama Amerika Serikat atau PBB untuk mengajarkan demokrasi?

Apabila khayalan itu terjadi, patut kita pertanyakan kepada peraih anugrah nobel perdamaian dunia tersebut, apakah yang akan ia ajarkan kepada orang Aceh? Apakah Obama akan mengajarkan kesetaraan gender, sementara negara tersebut baru bisa melepaskan dirinya dari jajahan Inggris sejak 4 Juli 1776.

Kita tahu bahwa ratusan tahun sebelum itu, perempuan Aceh seperti Keumala Hayati atau yang lebih dikenal dengan Laksamana Malahayati telah menjadi pimpinan armada marinir di perairan selat Malaka, dan
Safiatuddin, Naqiyatuddin, dan lainnya telah menjadi kepala negara. Pada saat yang sama perempuan masih menjadi penduduk kelas dua di negeri asal mereka Eropa dan negeri tersebut belum ada. Maka, apakah yang bisa diajarkan oleh Obama kepada orang Aceh?

Ataukah, Obama sang peraih nobel perdamaian dunia itu akan ‘mengajarkan’ hak asasi manusia seperti yang mereka lakukan di Iraq, Afghanistan, Pakistan, ataukah mereka akan ‘mengajarkan’ kepedulian tentang kemanusiaan seperti sikap mereka terhadap Palestina, Rohingya, dan muslim di Afrika?

Ataukah, Obama mungkin akan mengajarkan demokrasi untuk orang Aceh supaya pemilu di Aceh tidak lagi diawarnai kecurangan, tidak ada lagi intimidasi, supaya PA dan PNA dan partai lain tidak lagi bertikai. Begitulah mungkin yang terjadi apabila ‘raja demokrasi’telah datang?

Sambil minum segelas air kesukaan, marilah kita  perhatikan apa yang terjadi dengan sistem demokrasi di Amerika Serikat dan Indonesia.

Di Indonesia, apabila terlibat dalam bidang politik dan memiliki pandangan yang berbeda, maka masyarakat akan terlibat konflik sesamanya. Di negeri ini, kebebasan mengemukakan pendapat akan membuat masyarakat mengeluarkan isi hatinya secara tidak beradab yang biasanya ditujukan kepada pemerintah yang kurang disenangi. Politik yang penuh persaingan di Indonesia akan menyibukkan negarawan dan politisinya sehingga tidak sempat memikirkan kesejahteraan masyarakat.

Di Amerika Serikat yang memiliki 50 negara bagian ini, sikap saling menjatuhkan antara partai satu dengan yang lainnya sering terjadi. Dan, persaingan mereka tidak sehat menghambat kelancaran semua program kerja pemerintah.

Partai-partai politik di Negeri Paman Sam tersebut melakukan money politic dan memberikan uang kepada rakyat agar memilih partainya. Itu melahirkan sifat korup dari penjabat pemerintah Amerika Serikat. Mereka tidak fokus lagi terhadap rakyat, melainkan fokus bagaimana cara mempertahankan kekuasaan. Dan banyak keburukan lainnya yang ditutup-tutupi.

Begitupun sistem demokrasi di Inggris, Cina, dan lainnya, lebih banyak keburukan daripada kebaikan. Dan, keburukan sistem demokrasi sebagaimana terjadi di negara lain dan Indonesia, juga terjadi di Aceh. Di sini, sistem itu telah menaikkan orang bodoh jadi pemimpin dan menyingkirkan orang bijak karena suara diminta dari rakyat yang sebagian besar tidak tahu apa-apa tentang calon yang mereka pilih. Mereka memilih apa yang diajukan oleh partai politik.

Mengapakah Obama dan Amerika Serikatnya ‘yang hebat’ harus ke Kuala Lumpur? Ada apa di Asia Tenggara..? Biarlah pertanyaan ini dijawab oleh pengamat perkembangan Asia Tenggara. Kita bicara tentang kemungkinan Obama ke Aceh saja.

Apabila Obama ke Aceh, apakah ia akan mengajarkan sex bebas kepada remaja Aceh seperti anak-anak Amerika Serikat yang dibawa ramai-ramai ke klub malam? Ataukah, ia akan mengajarkan cara hidup guy dan lesbian seperti di negerinya? Jika Aceh ingin mempertahankan julukan penghormatan ‘Serambi Mekkah’ yang diberikan oleh orang, maka sepertinya tidak ada apapun yang bisa dipelajari dari Obama dan Amerika Serikatnya yang dilumuri oleh propaganda sesat ala Barat.

Namun, sebagaimana kesilapan orang penting di Aceh dengan memberikan rincong dan julukan ‘Cut Nyak’ untuk Megawati dan Doktor Honoriscausa (Dr Hc) untuk SBY, kita meragukan apabila Obama ke Aceh tidak akan ada yang memberikannya julukan ‘Ampon’, tepatnya ‘Ampon Obama’ lengkap dengan rincong di pinggangnya. Semoga saja Obama tidak ke Aceh sehingga kesilapan pemerintah dan akademisi Aceh dalam bidang menghargai orang yang salah tidak lagi bertambah.

Kembali kepada pertanyaan, akankah Obama ke Aceh untuk mengajarkan sistem demokrasi yang sengaja dibuat oleh mereka supaya bisa mengendalikan semua negara di dunia dengan cara mendukung partai politik tertentu lalu dimenangkan?

Sistem kepemimpinan terbaik yang pernah diterapkan di dunia adalah sistem pemilihan khalifah di masa Khulafaurrasyidin. Di masa itu hanya orang bijak yang memilih, dan yang dipilih pun tidak menjadikannya sebagai raja diraja.

Sebagai contoh, Umar bin Khattab yang ‘adil tidak dikawal tatkala ia pergi ke mana pun, bukan seperti presiden demokrasi dan raja sekarang, termasuk para pemimpin di Aceh masa kini, yang takut bepergian seorang diri seperti seorang gadis di lingkungan penjahat. Kalau melintasi jalan, mereka membunyikan sirine seperti mobil pengangkut jenazah, juga melanggar lampu pengatur jalan (lampu merah).

Ketika mereka lewat, para pemilih yang menjadikan mereka sebagai pemimpin pun harus menyingkir. Sepertinya, kita memilih orang bodoh untuk menjadi raja dan memperbudak diri kita sendiri. Begitulah yang berlaku di dalam sistem demokrasi, yang akan diajarkan oleh Obama apabila ia nantinya ke Aceh.

Tidak ada apapun yang dapat dipelajari dari Amerika yang hampir bangkrut karena sistem demokrasi dan kapitalismenya, bahkan mereka harus ke Asia Tenggara untuk mencari dukungan politik supaya mereka tidak disingkirkan di kawasan ini oleh Cina, India, dan Turki.

Ketiga negara yang memiliki sejarah gemilang di Asia ini menjadi saingan berat untuk hegemoni Amerika Serikat yang mulai runtuh. Sementara, Indonesia yang penduduknya banyak dan wilayahnya luas tidak dihormati oleh negara lain karena pejabatnya korupsi, hukumnya lemah, dan negaranya banyak hutang.
Apabila Obama akan mengajarkan sistem gagal yang bernama demokrasi untuk Aceh, maka kita bisa ke Amerika Serikat untuk mengislamkan semua orang bulek di sana sehingga negara itu menjadi RI-AS (Republik Islam Amerika Serikat) sebagaimana misi mereka meliberal-demokrasi-sekulerkan Islam.

Apabila RI-AS telah dibentuk, maka syari’at Islam tidak saja bisa diberlakukan di Aceh, tetapi di seluruh Indonesia pun akan diterapkan karena Indonesia sering meniru apa saja yang terjadi di Amerika Serikat. Maka sebelumnya ucapkanlah, selamat datang ‘raja demokrasi’ ke Aceh.*

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki