Kemana Hilangnya Tualang

Cerpen: Thayeb Loh Angen

Disiarkan di Buletin Tuhoe Edisi XVI, Desember 2013
Pohon langka. Foto: tamaneden100.wordpress.com

Kini, Apa Maun menjadi geuchik Gampong Tak Bernama. Ia ditunjuk, walau tidak mahu. Tidak ada orang lain yang berani menjadi geuchik di sana. Semua orang disalahkan dan selalu kalah berdebat dengan Apa Maun.

Para Tuha Peut Gampong mengambil sikap, kalau Apa Maun tidak mau menjadi geuchik, maka ia harus pergi selamanya. Maka, Apa Maun yang sangat mencintai kampungnya, terpaksa menjadi geuchik.

Sehari setelah dilantik, ia berlagak seperti gubernur. Ke mana pun, ia pergi dengan pengawalan ketat diiringi sirine, walau itu hanya perjalanan makan siang. Tanda lampu persimpangan pun ia langgar.

Istrinya yang seorang perempuan ta’at beribadah selalu menasehati bahwa melanggar tanda lampu di persimpangan termasuk mengkorupsi hak pengguna jalan. Tapi Apa Maun bersikeras, ia hanya meniru rombongan gubernur, bupati, atau walikota.

Ini berbeda dengan Apa Main, sepupunya yang menjabat Keujruen Blang sejak sepuluh tahun lalu. Kalau tiba di persimpangan bertanda lampu penyebrangan, Apa Main menunggu warna hijau menyala sebelum melintas, walau tidak ada satu kenderaan pun yang melaju dari arah lain.

“Disiplin adalah kau melakukan hal benar walaupun saat ketika kau ada kesempatan dan berkuasa melakukan hal sebaliknya,” yakin Apa Main. Tentu, Apa Maun menertawakan sikap Apa Main.

Karena isterinya membujuk dengan santun dalam beberapa tahun, maka Apa Maun akhirnya mematuhi aturan. Bahkan ia mulai mencintai seni dan kebudayaan, yang dulu dianggapnya hal tidak berguna.

Pada bulan Muharram di tahun ketiga menjabat sebagai geuchik, Apa Maun berencana mengadakan rapai Uroh yang diikuti oleh perapai dari seluruh negeri. Acara itu akan dilaksanakan saat bulan Molod berakhir. Ia memerintahkan Keujruen Blang untuk mengumpulkan sebanyak seribu buah alat rapai.

Keujruen Blang menjalankan perintah. Setelah satu bulan, ia hanya dapat mengumpulkan lima ratus buah alat rapai. Ia menemui Apa Maun di kantornya. Geuchik itu sedang menabuh-nabuh rapai seraya melantunkan beberapa bait syair.

 “Baloh Tualang kulet jih himbee bek kapeumalee kee hai kayee rimba,
meunyoe han ka meusu ban yoh dilee, kupeh bak batee beukah dua.”
Apa Maun menyambut Apa Main.

“Harus ada seribu buah, cari sampai dapat. Berapa uang kauperlukan, semua kusediakan. Yang penting ada seribu rapai.”

“Ini sudah dari seluruh negeri. Untuk mencapai jumlah itu kita harus membuat rapai lain.”

“Buatlah itu. Kumpulkan seluruh pembuat rapai. Lima ratus buah alat rapai harus siap bulan depan. Sebelum 15 Ra’jab harus kita laksanakan rapai uroh ban sigom nanggroe,” kata Apa Maun.

Apa Main mengumpulkan para pembuat alat rapai. Hanya ada dua puluh satu orang dalam negeri itu. Semuanya sudah berusia di atas lima puluh tahun. Mereka menuju hutan-hutan.

Hari pertama dan kedua mereka ke hutan di seputaran gunung Seulawah. Hari ketiga dan keempat ke hutan seputaran gunung Geureudong, hari ke lima dan keenam mereka ke wilayah gunung Leuser. Hanya ada tiga batang pohon Tualang. Dan hanya satu akar yang bisa diambil.

Para pembuat rapai membaca pesan kepada pohon Tualang selaku sesama makhluk hidup:

Assalamualaikom bani Tualang,
Beuna ban nan meusu beuraya
lon koh bani phon lon peubreueh pade
Tujuh seuen bude lonjak tueng gata
Oh kuboh kulet ka meuniet bajee
Bek kapeumale kee di keue rakyat ba
E tualang manyang
Meusu meugrang-grang oh malam jua
Pawang tuha guree keuh dikah
Kutueng tuah kah kupeusa dua.

 “Itu hanya cukup untuk dua baloh rapai, tapi tidak bisa juga untuk rapai ulee. Kita butuh empat ratus sembilan puluh delapan buah alat rapai lagi,” kata pembuat rapai yang lain.

“Ambil pohon apa saja, yang penting jumlah rapai cukup,” Apa Main mengurut-urut kepala. Maka, para pembuat rapai mencari pohon-pohon yang cocok untuk dipotong saat air laut surut.
Tiga pekan berlalu, Apa Main dan pembuat rapai telah mendapatkan cukup kayu sebagai bahan baku baloh rapai.

“Apa menurutmu Apa Maun akan menerima ini?” tanya pembuat rapai.

“Kalau ia tidak terima, minta ia carikan sendiri pohon tualang ke rimba Tuhan,” Apa Main tertawa sinis.

“Kau Keujruen Blang yang kurang ajar,” kata pembuat rapai.

“Ini namanya kreatif, banyak ide. Kalau bicara seperti ini lagi, kupotong gajimu.”
Apa Main dan rombongan pulang. Para pembuat rapai masuk ke bengkelnya masing-masing setelah membagi kayu sama banyak untuk membuat alat musik rapai.

Setelah dua pekan berlalu, semua rapai sudah siap dan dikumpulkan ke kantor geuchik kampung tak bernama.

“Ini baloh rapai bukan dari kayu tualang, Apa Main, Keujruen Blang macam apa, kau!” Teriak Apa Maun seraya berkacak pinggang.

“Aku hanya membuat keinginanmu mengadakan acara seribu rapai tercapai. Tapi kalau aku bersikeras semua balohnya dari kayu tualang seperti katamu, maka kita harus mencari bibit pohon tualang, lalu menanam, merawat, dan menunggunya besar, sekitar lima puluh tahun lagi baru dapat kita potong untuk baloh rapai, setelahnya baru dapat membuat acara rapai sebesar rencana gilamu. Aku hanya memanfaatkan yang ada, supaya seribu rapai bukan hanya sekedar bermimpi,” kata Apa Main.

“Lalu, kena hilangnya Tualang?” Apa Maun mendesah.
Apa Main, para pembuat rapai, dan masyarakat yang sudah mengerumuni halaman kantor geuchik menggeleng-geleng.

“Keujruen Gle, tolong cari, ke mana hilangnya Tualang!” perintah Apa Maun pada seorang berpeci ala Yaman. Lelaki itu mengangguk.

“Bagaimana acara rapai urohnya, Teungku Peutua?” Tanya Keujruen Peukan atau Syah Bandar.

“Kita laksanakan pada purnama ini, tujuh hari tujuh malam. Kau yang atur semuanya.”
Apa Maun menemui kepala instansi semak belukar yang jauh dari kampungnya. Tidak ada jawaban tentang Tualang. Ia menuju bidang pemberi izin hak perusakan hutan. Tidak ada jawaban. Setelah keluar dari kantor itu, ia menuju sebuah kedai kopi dan memesan perasan ranup.
Ia mendengar percakapan pengunjung di sana.

“Pemerintah sekarang, dengan penjaga hutannya sangat mudah kita tipu. Dulu, aku pernah menipu orang yang menipu banyak cendekiawan di negara yang besar. Lihat saja hutan-hutan itu. Pohon-pohon tualang, meureuboe, dan meranti semua habis kubabat, itu mahal harganya,” kata lelaki itu.

“Bagaimana cara kautipu gubernur itu?”

“Mudah saja, gubernur mengelilingi hutan dengan helikopter. Aku suap pilotnya, dan sebagai tokoh masyarakat orang yang kenal hutan, aku ikut naik ke helikopter itu. Pilot hanya melintasi ke koordinat yang kukasih. Setelahnya si gubernur tidak percaya lagi laporan aktivis lingkungan atau pemberitaan media tentang penghancuran hutan,” lelaki itu tertawa.

“Kau sendirian yang membabat hutan di seluruh negeri ini?”

“Tidak, ada puluhan orang, cuma aku yang terbanyak karena dapat menipu siapa saja. Sekarang, bahkan ratusan orang yang tidak memiliki hak merusak hutan pun ikut menebang pohon-pohon belantara.”
Kuping Apa Maun memerah mendengar percakapan itu. Ia memesan minuman lagi. Padahal yang tadi belum habis. Segelas minuman panas dalam gelas besar.

Ketika pelayan hampir melewati pengunjung yang mengaku membabat hutan tualang, Apa Maun bangkit dan berpura terjatuh seraya sengaja menumpahkan air panas dalam gelas dari tabak si pelayan ke wajah si pembabat hutan. Lalu, ia berpura-pura minta maaf seraya tertawa dalam hati.

“Itu hanya segelas air yang tumpah ke atasmu, tidak sebanyak banjir yang dihadapi rakyat karena kayu-kayu telah kautebang,” kata Apa Maun.

Pengunjung yang kulit wajahnya memerah hampir terkelupas itu memaki-maki Apa Maun seraya mendekat ingin memukulnya. Para pengunjung memegang lelaki itu.

“Ini orang yang menghancurkan hutan sehingga negeri kita banjir,” Apa Maun mendekati dan meninju wajah lelaki yang masih mengumpat tapi terdengar seperti menangis tersebut.
Pengunjung yang tadi hanya memegang si penghancur hutan, meniru tingkah Apa Maun. Kontan saja, lelaki itu babak belur.

“Tunggu,” Apa Maun menghentikan keroyokan. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki yang terkulai dengan nafas tertahan-tahan itu.

“Di mana aku bisa dapat bibit tualang untuk membudidayakannya?” Apa Maun berkara lirih.

“Kau a, a, akan kut kurt kutuntut di pep, pep, pengadilan negara,” si pembabat hutan berusaha keras mengucapkan kata-kata.

“Setahuku kau kini berada di pengadilan adat karena membasmi pohon tualang sebagai bahan baku baloh rapai, kau melanggar hukum adat. Apa mahu lagi?” Apa Maun berkata lebih nyaring.

“Harus ada qanun tentang penyelamatan jenis kayu yang hal terkait dengan kebudayaan, misalnya pohon Tualang sebagai bahan baku baloh rapai, bahan pembuat seurune kale, dan sebagainya,” kata pengunjung yang dari tadi hanya menyaksikan yang terjadi.

“Tepat sekali, sekolahmu yang tinggi itu ternyata ada gunanya,” Apa Maun membayar minuman dan kerusakan kedai itu, lalu keluar. Dua mobil polisi muncul dengan suara sirine bising. Apa Maun menghilang ke balik kerumunan orang.*

Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT), penulis novel Teuntra Atom.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki