Di Balik Banda Aceh Heritage Awards

Menyikapi ‘Banda Aceh Heritage Awards’ dan ‘Kota Madani Awards’

(Dari kiri) Reza Fahlevi, Tarmizi A Hamid, Illiza Sa'aduddin Djamal, pada penerimaan penghargaan "Banda Aceh Heritage Awards" Banda Aceh, Sabtu (26/4/2014) malam. Foto: antarafoto.com
Banda Aceh Heritage Awards merupakan sebuah anugerah kebudayaan yang diberikan oleh ormas Pemerintah Kota Banda Aceh akan beberapa orang dan organisasi yang melestarikan kebudayaan dan warisan benda hasil peradaban di Aceh.

Anugerah yang diberikan pada Sabtu malam 26 April 2014 di Banda Aceh tersebut mengingatkan akan saya tentang beberapa saran terkait hal yang pernah saya sampaikan akan Walikota Banda Aceh, almarhum Mawardy Nurdin (allahumma’ghfirlahu), dan beberapa pejabat penting lainnya di kota ini.

Beberapa hari sebelum acaranya diperbuat, handai taulan dari dalam kantor pemerintahan kota memberitahukan akan anugerah tersebut. Si empunya cerita mengatakan bahwa Plh Walikota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, SE, mengajukan akan nama saya sebagai seorang daripada penerima anugerah tersebut namun ditolak oleh panitia pemeriksa.

Kabar tersebut mengejutkan akan saya dan mereka-reka bagaimanakah seharusnya saya menyikapi bila khabaran tersebut benarlah adanya. Lalu, saya menghubungi Plh Walikota Banda Aceh untuk mengucapkan rasa senang saya karena sekalian usul tentang penghargaan yang sudah saya cetuskan pada tahun sebelumnya telah pun dilaksanakan.

Dia menanyakan akan usulan tambahan untuk melengkapinya, saya pun memberikan akan usulan itu, dia pun mengamininya, namun karena beberapa penyebab yang mesti dimaklumkan, peristiwa sebagaimana usulan itu pun tidak terjadi. Saya tidak akan menanggapi pemberian anugerah tersebut sampai setelah acara.

Saya mengemukakan ini akan sekalian handai taulan bukan untuk mengasung-asung atawapun mencari kemasyhuran nama. Tidak perlu itu karena atas izin Allah Ta’ala saya sudah lebih dahulu memiliki hal tersebut jauh-jauh hari sebelum ini.

Sesungguhnya, saya sampaikan ini hanyalah untuk meluruskan sejarah diri saya sebagai seorang pejuang (aktivis) kebudayaan dan perjalanan perjuangan pelestarian kebudayaan di Banda Aceh.

Ini pula untuk meluruskan sekalian kesalahpahaman yang mungkin saja ditujukan akan saya oleh beberapa orang yang tidak mencuba memahami akan diri saya secara langsung, tetapi hanya mendengarkannya daripada mulut-mulut yang bernoda.

Dengan peristiwa tersebut –sekali lagi jika ianya benar- maka saya bisa memahami bagaimana fitnah atawa pembunuhan karakter di tempat yang lain akan orang lain itu dikembangkan secara terencana, dari mulut ke mulut tanpa berusaha mencarikan akan kebenaran terhadap sesuatu yang didengar.

Saya harus meluruskan ini karena memiliki organisasi, komunitas, dan media yang kesemuanya di sana ada orang lain. Dan, saya sering membela akan orang lain sehingga sekarang saya juga berhak membela akan diri saya sendiri.

Di sini saya tidak akan mempermasaalahkan siapa saja penerima anugerah itu karena sebagian besar penerima tersebut memang sekalian pejuang kebudayaan yang amat sangat berhak menerimanya, bahkan lebih daripada itu orang masih pun mesti diberikan. Saya juga tidak menggaduhkan akan siapa panitianya, yang sepengetahuan saya kurang patut akan hal tersebut.

Yang membuat saya sedikit masygul selama beberapa sa’at -jika kabar daripada si empunya cerita di kantor kota itu benar adanya- mengapa nama saya tidak diterima setelah diusulkan oleh Plh Walikota? Dan, jangankan dilibatkan sebagai panitia, bahkan mendapatkan undangan untuk menghadiri acara itu pun tidak.

Ini menghairankan karena saya yang membuat sebagian besar rancangan kebudayaan yang mengarah akan pelestarian warisan indatu, termasuk di dalam bidang seni di wilayah kota Banda Aceh. Sebagian besar usulan saya tersebut telah pun diperbuat, walau terkadang ada beberapa hal yang disesuaikan atawa dikembangkan oleh pelaksananya.

Dalam bidang seni, saya juga yang mengusulkan supaya pemerintah di bidang kebudayaan membuat akan pertemuan dengan sekalian seniman di Banda Aceh. Pertemuan itu pun diperbuat oleh Kadisbudpar Banda Aceh, saat itu, Reza Fahlevi.

Saya yang tatkala itu baru beberapa hari pulang ke Paloh Dayah, Lhokseumawe karena bulan puasa pun kembali ke Banda Aceh untuk mengikuti pertemuan tersebut. Kemudian diadakanlah Piasan Seni Banda Aceh (kali pertama pada 2012).

Tujuan saya supaya seniman mendapatkan akan tempat di mata pemerintah dan mereka bisa menyalurkan akan bakat untuk membangun kota tercinta ini. Tetapi, seperti anugerah Banda Aceh Heritage kemarin, dalam Piasan Seni 2012 pun, saya tidak dilibatkan sebagai panitia setelah itu mulai pun diperbuat, baru dilibatkan setelah saya tanyakan akan kawan-kawan pelaksananya.

Dan pada Piasan Seni 2013, saya tidak dilibatkan ke dalam panitia serta usul perbaikan akan acara itu sebelumnya pun tidak diindahkan. Maka, kini saya menyatakan bahawa Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki (PuKAT) tidak akan mengikuti lagi Piasan Seni Banda Aceh karena tidak sesuai sebagaimana yang direncanakan pada masa awal dan saya meminta akan Pemerintah Kota Banda Aceh supaya mengkaji ulang akan Piasan Seni Banda Aceh, apakah memang patut didukung lagi atawa tidak.

Dua hari lalu, saya juga mendengarkan akan kabar bahawa dalam waktu dekat (Mei 2014) segera diadakan pemberian anugerah dengan tema Kota Madani Award. Ini pun kabar tidak resmi yang saya terima.

Sementara, untuk mewujudkan Banda Aceh sebagai Model Kota Madani, pada tahun 2012, saya juga pernah mengusulkan beberapa hal, di antaranya adalah pembangunan gerbang di setiap gampong -ada 90 gampong- di seluruh wilayah Kota Banda Aceh. Dan, setelah beberapa waktu berselang, gerbang-gerbang itu pun dibangun.

Tujuan saya supaya setiap pengunjung tahu mereka tengah memasuki kampung apa tatkala berada di Banda Aceh, dan penduduknya pun bangga akan kampungnya sendiri karena setiap kampung di sini memiliki sejarahnya sendiri. Supaya Banda Aceh sebagai Model Kota Madani bisa dikenali dengan mudahnya.

Sebagai orang yang berasal daripada Kota Budaya Paloh Dayah yang sejak 2009 menjadi penduduk Banda Aceh dan kakek buyut atawa nenek moyang (indatu) saya adalah Tgk Chik Lampaseh dan Tu Praja Chik Yaman –yang merupakan penduduk Banda Aceh- saya harus membantu siapapun untuk melestarikan kebudayaan di kota tua ini. Banda Aceh adalah tempat indatu saya.

Cintai Banda Aceh. Itu adalah slogan yang saya siarkan berkali-kali pada koran Harian Aceh sejak tahun 2009, setelahnya pernah saya lihat dipasang di sebuah baliho milik Kota Banda Aceh di Simpang Lima pada tahun 2010, dan setelahnya saya melihat ianya telah pun dipakai di sisi beberapa baliho milik sebuah perusahaan periklanan ruang terbuka (advertising) di Banda Aceh, sampai kini pun ianya masihlah ada.

Slogan itu saya buat setelah diilhami oleh slogan-slogan di Malaysia seperti ‘Cintai Selangor.’ Saya berpikir, Malaysia yang beberapa negerinya kini pernah menjadi negeri yang berada di dalam perlindungan Kesultanan Aceh Darussalam kini ahli dalam membuat propaganda.

Maka saya pun membawanya pulang slogan itu ke kota kakek buyut saya ini menjadi ‘Cintai Banda Aceh’ dengan tujuan itu akan mendoktrin penduduk atau pengunjungnya untuk mencintai Banda Aceh.

Sebagai kota yang kakek buyut saya Tgk Chik Lampaseh dan Tu Praja Chik Yaman pernah membangunnya, saya bangga akan Banda Aceh dengan Model Kota Madani dan anugerah akan pejuang kebudayaannya. Saya akan melakukan apapun demi kebaikan kota ini, baik dihargai atawa tidak.

Dan ketahuilah bahawa kita tidak perlu membasahi muka dan seluruh tubuh dengan air supaya terlihat seakan-akan itu adalah keringat, sementara yang bermandi keringat dan  berlumuran lumpur yang sebenarnya adalah orang lain.

Maka tidak perlulah kiranya kita mencari kemasyhuran dengan tidak menghargai akan hal yang telah diperbuat oleh orang lain dengan suka rela, apalagi memburuk-burukkannya karena ketidaktahuan atawa alasan lainnya. Cintai Banda Aceh!

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT)
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki