Bulu Elang

PUISI karya: Thayeb Loh Angen

Bayi elang. Foto: kicauburung.net
Untuk Kekasihku Hayati

Kekasihku Hayati, ada sekawanan bayi elang mengajak akan aku untuk berkhayal tentang mengelilingi dunia ini disebabkan mereka telah bisa terbang di atasnya bagaikan elang dewasa.
Mereka mengajakku dengan kata yang membakar bagaikan lahar,
tetapi wahai kekasihku, Hayati, tahukah engkau bahawa sayap-sayap dan tubuh sekalian mereka tidaklah berbulu, dan bulu-bulu yang telah luruh itu tidak akan pernah tumbuh lagi karena kulit mereka telah pun diracuni.
Kutunjukkan itu akan mereka dan sekalian bayi elang pun murka seraya berkata lagi,
“Ketahuilah bahwa kami ini anak elang! Manakala kelak kami memiliki sekalian bulu bagaikan elang dewasa, niscaya sudahlah pasti bisa melakukannya.”
Wahai Hayati, kekasihku, sesungguhnya ayam atawa itik, apalagi merpati lebih mungkin untuk mendapatkan sebagaimana impian mereka disebabkan memiliki bulu walaupun sayapnya pendek.
Jikalau mereka mahu mengakui bahwa mereka tidak akan memiliki lagi bulu-bulu, niscaya engkau pun bisa memberikan akan mereka sekalian bulu palsu, namun keangkuhan adalah musuh terbesar manusia dalam mencapai kebijaksanaan.
Memang zadah, ternyata aku pun bagian daripada bayi elang tanpa bulu itu.
Bulu-bulu kami itu dicabut dan kulit kami diracuni tatkala pertengahan bulan ke delapan tahun kelima setelah ribu kedua lahirnya Al-Masih.
Kini wahai Hayati, kekasihku, bagaimanakah bisa kuberikan akan mereka sekalian bulu-bulu
sementara aku sendiri pun tidak memiliknya.

6 Aril 2014

Thayeb Loh Angen, Aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki