Bentuk Bendera Aceh Harga Mati?

Semua ini akan berlalu

-Filsuf Persia


Mengapa Aceh takut untuk mengubah bendera yang diusulkan sementara Republik Turki tidak menghiraukan sama sekali tatkala bendera yang dihadiahi oleh Ottoman setelah peristiwa Lada Sicupak (1560-an) untuk Kesultanan Aceh Darussalam ditambah garis hitam dan putih oleh Paduka Yang Mulia (PYM) Hasan Tiro.

Diubah atau tidaknya itu bendera, Aceh tidak kehilangan apa-apa. Apabila disebutkan Aceh kehilangan kesultanannya, dan tidak ingin kehilangan benderanya, maka ketahuilah bahwa bendera yang diusulkan untuk bendera Aceh (yang berstatus pemerintahan setingkat provinsi di dalam NKRI) adalah bendera yang dibuat sejak sekitar 1976 M dalam rangka membangkitkan negara Aceh di zaman modern.

Sebuah nama dan bentuk negara, lambang, bendera, dan sebagainya bisa saja berubah. Yang penting untuk dipahami adalah filosofinya. Apabila Aceh mahu mati-matian mempertahankan bentuk benderanya, mengapa tidak mati-matian pula membela yang sama pentingya?

Di samping itu, negara sebesar Indonesia yang memiliki banyak tentara, tidak perlu mengkhawatirkan tentang bendera Aceh. Berikan saja apa yang diminta oleh pemerintah Aceh, banyak hal lain yang harus diurus untuk kepentingan nasional.

Bagi kami rakyat, bendera Aceh itu merupakan harga diri dari keberadaan kami di zaman ini, perkara bentuk dan sebagainya dapat diterima menurut tuntutan zaman. Yang penting, cepat sahkan bendera kami!

Thayeb Loh Angen, juru propaganda kebudayaan

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki