Aceh Masa Depan

(Ramalan Keadaan di Aceh Sekitar Tahun 2030 M)


Motto:
(Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan, (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tentram, rizkinya datang kepadanya melimpahruah dari segala penjuru, tapi penduduknya mengingkari nikmat Allah, karena itu Allah memperasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” QS Annahlu, 112)

Akhir musim dingin Baltik tahun ke limabelas bermukim di sana, aku pulang ke Aceh. Pesawat tumpanganku mendarat di ujung gerimis, puisi langit untuk bumi Aceh. Kutumpang taksi bergambar lelaki dan perempuan telanjang keliling Banda Aceh. Gerimis menghilang bersama muncul kebingunganku di ujung utara Sumatra itu.

Deru-deru aneka kenderaan pelobang ozon menembus kaca taksi. Gedung-gedung ratusan lantai berdiri gelisah saling mencibir sepanjang jalan utama ibukota negeri. Tak tampak lagi gubuk-gubuk beratap rumbia berdinding papan bekas menggapai-gapai langit di pinggir kali. Entah kemana menghilang. Gedung-gedung modern milik investor luar negeri dikelilingi jalan-jalan bertindih setelah menendang cucu-cucu ulama masa lalu itu. Sebagian penduduk Aceh menjadi timbunan trotoar sepanjang rel kereta api elektrik milik perusahaan kapitalis barat.

Di halaman gedung-gedung gelisah itu, orang-orang berjalan berlawanan arah tanpa menyalami ala semut. Binatang pencinta gula itu lebih bersahabat dari penduduk Aceh Masa Depan. Lelaki memakai celana sepaha, perempuan bercelana sepaha berkaos tanpa lengan, sebagian hanya ber-BH dan celana dalam.

Negeri lahirku sejati telah merdeka, bahkan dari moral kemanusiaan, bukan Aceh yang sebelum kutinggalkan memimpikan syariat Islam, aturan manusiawi bermartabat, pembeda manusia Aceh dengan hewan tak mukallaf. Pedagang-pedagang kakilima, asongan, gerobak keliling telah disingkirkan ke pedalaman, tepi Kuta Malaka, tempat kakek mereka menyusun kekuatan baru menggempur bajingan Belanda yang barusan membakar Mesjid Raya.

Kuusap-usap mataku, kuharap tadi hanya halusinasi efek berlama-lama di angkasa. Kubuka mataku, kuusap-usaplagi. Orang-orang di halaman gedung-gedung dan trotoar itu masih setengah telanjang seperti keledai terlatih akan main sirkus.

“Bukankah ini negeri Islam?” Kutoleh supir taksiku. Lelaki asal Meulaboh itu menyeringai. “Kau baru turun dari langit, ya?”

“Aku baru pulang belajar kepemimpinan manusiawi dari kutub utara.”

“Kau terlalu kuno untuk pendatang dari kutub utara. Legenda yang kausebut hanya lelucon masa silam. Lihat! Kini kita merdeka. Teknologi-teknologi mutakhir kita gunakan. Pabrik menjadi rusuk negeri. Kita sudah merdeka. Kita, di timur sudah semaju barat. Terlalu kuno untuk mengenang mitos yang kausebut.”

“Aku bicara agama. Pada abad pertengahan kita dikenal dunia karena Islam. Jika tak Islam, kita tak berhak atas tanah warisan endatu ini. Mewarisi tanah senyawa keyakinannya,” aku menggeretakkan gerahang, ingin menggigit merih supir kulit coklat itu dan kuludah keluar jendela taksi.
“Itu tahayul!” Supir taksiku tertawa.

Kini ingin kupelintir kepala berambut keritingnya dan kulempar ke jalan.
“Kau terkutuk! Durhaka, kafir. Kita keturunan aulia di tanah pusakanya. Kafir tak berhak atas pusaka ini. Kenapa harus kufur. Kita bisa berteknologi tinggi sekaligus menjadi muslim sejati.”

“Aku memang durhaka. Tanah Aceh ini memang terkutuk. Dimamah perang sepanjang usianya, dimamah prahara. Dijajah bangsa monyet tujuh puluh tahun.” “Cukup! Antarkan aku ke Masjid Raya.” Aku lantang.
Lelaki berambut keriting itu tertawa, meneguk sisa minuman beralkohol buatan perusahaan Jepang di Takengon. Lalu ia mengerang, tendang gas, melesat, menyelip kenderaan depan, padahal takada yang mengejar. Aku tak dapat lagi memperhatikan kota, hanya terlihat tanah seisi kota telah dibeton.

Aku meresa terjebak di sarang setan. Kota lahirku yang kubayangkan seperti Bagdad ala Harun Alrasyid di zaman modern, kini dirasuk naluri hewani dasar. Dipimpin orang-orang yang dulu dibiayai pemerintah belajar ke negara-negara barat. Ketika kembali, mereka menduduki posisi penting dalam parlemen, menjadi pemimpin negeri. Mengkastakan ala rimba yang dipertahankan Kesultanan Aceh Darussalam, ulee balang, ampon, ulama, lamiet, sejenis kasta primitif barat moderen mengkultuskan barat nomor satu, Timur kedua, campuran timur-barat ketiga, timur tengah dan anjing piaraan barat keempat, Asia jauh dan Afrika kelima. Kemajuan tehnologi tak diimbangi kemanusiaan sejati.

Aku menyesal tak mengikuti perkembangan tanah rincong ini. Kuharap ini hanya mimpi buruk di negeri yang peradaban dan kebudayaannya telah diperkosa kapitalis dan liberalis, filosois yang seharusnya dicoba dulu pada binatang.

Di halaman Masjid Raya, aneka mainan manual dan elektrik berjajar, anak-anak bersorak. Panggung konser dan tarian desain artis Amerika melengkapi sudut halaman. Musik-musik mengalun dari sound system mesjid. Kubah-kubah Masjid Raya bergambar wajah Karl Mark, dinding luar bertengger gambar-gambar telanjang pelacur.

Dinding dalam bergantung gambar-gambar telanjang penyanyi, artis peran, bintang-bintang olahraga. Gadis-gadis berpakaian tipis menari ballet dan seudati di lantai marmar Masjid Raya. Aku menelan liur. Kutarik-tarik rambutku, sakit. Aku sedang sadar. Rak-rak buku bertengger samping mesjid.

Atas rak terbesar ditulis dengan warna merah: “Ketika Hindu datang, kita lupakan roh-roh ghaib, kita gulingkan batu keramat ke laut, kita bangun pura. Ketika Islam datang, kita hancurkan pura, kita bangun masjid. Ketika bajingan Belanda menyerang, mereka membakar mesjid, membunuh ulama, membunuh raja, menghancurkan istana, membakar kitab-kitab dan rumah kita. Ketika bangsa monyet menyerang, mereka menghancurkan identitas kita. Kita tak membakar mesjid, tapi kita lebih baik dari bajingan Belanda.”

Aku tak bisa bersuara, kerongkonganku dicekik rasa bingung. Gadis-gadis berpakaian tipis bergulig-guling di lantai marmar Masjid Raya, mengendurkan otot bebas penyakit mereka, yang sebelumnya telah bebas iman seperti tubuh anjing-anjing salju kutub utara. Tapi, gadis-gadis itu tak lebih buruk dari khatib-khatib dan dai-da’i yang berceloteh sampai liur berbusa di mimbar hanya untuk dapat honor di mesjid tempat wisata itu yang kini dibangun hasil pajak produk babi-babi masalalu.

Aku menuju kolam ikan halaman mesjid. Berwudhuk. Orang-orang setengah telanjang sekeliling mesjid mengerutkan dahi menatapku. Bertahun-tahun tak melihat orang berwudhuk. Agama dan moral najis di Aceh masa depan ini.

Aku masuk mesjid raya, salat tahyat mesjid. Para gadis berpakaian tipis berhenti menari dan mengelilingiku, memperhatikan gerakan shalatku seraya melantunkan lagu kebangsaaan.

“Tadi tarian apa?” Seorang gadis berambut cat merah, agar mirip blonde, si tuan kelas satu menurut orang primitif, gadis itu terbelalak menatapku. Aku menggigit gerahang. Kalau saja tak kulihat apa yang terjadi di Aceh Nasa Depan tadi, sudah kucekik leher mulus itu. Kupikir, pertanyaannnya tadi hinaaan, tapi nada suaranya bersungguh.

Kutengadah, kutatap langit-langit mesjid raya yang kini jadi tempat latihan tarian dan vocal itu. Kuterangkan tentang shalat.

“Kawan-kawan, kita kedatangan manusia zaman unta!” Bulek gadungan itu tertawa. Gadis lain pun terkikik. Cucu-cucu ulama yang dibantai pengusaha elektronik itu menari kembali, diiringi instrument orkestra yang dimainkan lelaki dan perempuan telanjang di ruangan yang dulu tempat mimbar. Seperti sebuah kursi pendeta di negeri eropa abad pertengahan, diduduki pelacur pembantai seraya bernyanyi setelah pendeta dipenggal oleh penyerang beragama sama tetapi lain mazhab.

Ratusan tahun setelahnya, akhir abad duapuluh, di timur tengah, Irak-Iran saling bantai atas nama Tuhan yang satu. Peyakin Tuhan bisa sesadis Kolombus pembantai penduduk asli Benua Baru, mengandalkan naluri hewani.

Setelah berdoa aku keluar. Gadis-gadis penari itu lebih baik dari ratu Isabella Spanyol yang membantai umat Islam sedang shalat jumat di mesjid Aya sofia.
Aku lunglai, menuju ruangan rak buku samping mesjid raya, mencari-cari sejarah Aceh setelah kutinggalkan limabelas tahun lalu. Orang-orang berprestasi di sekolah dan universitas dikirim belajar ke Negara-negara kapitalis barat.

Kemodernan, tehnologi harus mereka kuasai untuk membangun aceh masa depan, tanpa bimbingan iman memadai sehingga perlahan-lahan menjadi budak mesin-mesin seperti budak-budak Babylonia kuno membangun taman gantung untuk raja penindas. Infrastruktur kota dibangun moderen dilengkapi energi listrik penghancur bumi.

Orang-orang kelas ampon, uleebalang, tingggal di rel estate, orang-orang awam dan lamiet tersingkir ke pegunungan, nomaden. Perusahaaan-perusahaan pengelola kebun milik asing mendepak pewaris sah tanah Aceh itu. Investor-investor asing itu berdansa di aceh masa depan yang penduduknya mereka mitoskan kelas lima, setingkat lebih rendah dari anjing-anjing piaraan barat.

Kapitalis-kapitalis ateis bebas tanam modal tanpa pajak, asal mempekerjakan warga Aceh sebagai budak penghasil uang yang telah dirasuki mitos westernisasi, barat segala-galanya’. Siaran-siaran televisi diisi iklan-iklan, bulek-bulek gadungan merajai layer televisi, yang dipadati hiburan-hiburan amoral seperti televisi-televisi monyet masalalu, yang korban moralnya kini menjadi penguasa dengan hukum kapitalis komunis, kaku tak manusiawi.

Sekolah-sekolah sekuler didirikan. Aceh harus maju(si)! Dayah-dayah difasilitasi barat untuk melenyapkan roh religi penghuni lembaga pendidikan murni islam itu. Perlahan-lahan sekuler juga, bergabung dengan system sekolah-sekolah materialis, penjual pengetahuan.

Tokoh-tokoh agama dan guru mengajar hanya demi segenggam uang, buruh, bukan amalan baik sebagai ajaran nabi Muhamjmad Saw. Panutan jiwa lenyap. Orang-orang tak percayai lagi agama. Pelajaran agama dihilangkan di sekolah-sekolah. Syeh Hamzah fansuri As Singkili, Syeh Abdurrauf Syiah Kuala, Lakseumana

Po Cut Nyak Keumalahayati, Syeh Teungku Chik Saman Di Tiro menangis dalam kubur.
Jiwa-jiwa manusiawi keturunan bangsawan Parsi kuno ini telah menyingkir bersama asap-asap pabrik kapitalis, tak seperti di tanah asal endatunya, Iran, bertehnologi tinggi, tapi total menanentang barat. Ulama-ulama ikhlash dan warga percaya Tuhan harus menyingkir ke hutan-hutan, bergabung dengan orang tersingkir lain yang terusir di tanah kelahirannya sendiri. Yang tak menyingkir atau kebarat-baratan, segera dibantai.
Seperti kata Karl Mark, dedengkot atheis moderen, “Agama dan moral harus dibasmi dengan jijik.” Sepenuhnya telah berlaku di Aceh Masa Depan.

Remaja-remajanya berlomba menjadi penyanyi dan seni peran cengeng tak bermoral, meniru siaran televisi monyet masalalu, boneka produk komersial, tempat warga negeri berpedoman gaya hidup, kitab suci zaman moderen, pengganti mengaji alquran dan mengajar anak-anak setiap lepas magrib oleh ibu-ibu Aceh masa silam.

Aku keluar Mesjid Raya. Gontai. Merasa diriku hanya seonggok daging antara sapi perah perusahaan asing. Kuseret tubuhku. Takkan pernah kutemukan negeriku kembali seperti kenangan sejarah. Acehmasadepan lepas dari masa lalu, hilang sejatidiri, nilai-nilai tak lagi penting ketika hasrat dasar hewani dikedepankan.

“Di mana bisa kuterapkan ilmu manusiawi yang kupelajari belasan tahun?” Kudekati sebuah mobil kerangkeng berisi anjing-anjing.

“Mungkin pada kalian?” Kuelus-elus punggung anjing hitam. Binatang pelolong penuh curiga itu manggut-manggut, menggigit, sepotong roti lemak babi buatan perusahaan China di Singkil.
“Inikah impian pejuang-pejuang dulu? Aceh semaju Singapura dan Jepang fisiknya, tapi jiwanya sehampa domba-domba negeri barat.”

“Hei, kaubicara pada anjingku?” Seorang berteriak belakang stir mobil kerangkeng pengusung anjing, seperti prajurit mengusung raja masa lalu itu pun melesat ke pantai Lhoknga, pantai yang kapan dan siapapun bebas berjalan telanjang dan bersenggama tanpa nikah seperti anjing-anjing dalam mobil itu. Anjing-anjing impor dari negeri barat, warga kelas empat, setingkat lebih tinggi dari warga acehmasadepan.

Anjing-anjing terlatih dari negeri barat yang ilmuannya kini bimbang, masygul, menyadari negeri yang mereka puja akan segera menjadi sejarah, melengkapi kebodohan Alexander The Great, Napoleon Bonaporte, Adolf Hitler, pembantai-pembantai itu. Segera dilupakan penduduk bumi mendatang seperti dilupakan Sulthan Iskandar Muda dan Keumalahayati pernah memerintah seantero Sumatra dan beberapa negeri Semenanjung Asia Melayu.

Meraih, dicaci, dipuja dan mati menyatu tanah, sang ibu yang setiap detik dirusak asak-anaknya. Ilmuan-ilmuan gelisah itu kini berbondong-bondong ke Timur Tengah, mempelajari agama langit terakhir dan memeluknya sampai ajal. Keyakinan yang dulu mereka benci ternyata menyuguhkan ketenangan dan kekayaan jiwa yang selama ini hampa, takkan mereka tukari dengan teori-teori dan tehnologi perusak alam yang mereka pelajari dan sembah sepanjang usia.

Dalam sisa-sisa kebingungan hidupnya, ilmuan-ilmuan masygul itu berpikir, seandainya mereka dilahirkan, besar dan bekarya dalam negeri panganut agama langit terakhir, itu sudah tak sempat. Mati di sana pun sebuah anugrah langit. Dalam kesunyian jiwa di akhir hayat, setiap insani mengharapkan hidupnya abadi, menyadari segala yang dimiliki dipaksa kekuatan tak terdeteksi untuk meninggalkan. Membuat Stalin, si ateis sadis, pembantai ribuan ahli agama, memanggil pastor saat tergeletak tak berdaya di ranjang menjelang ajalnya, dan memohon pada orang yang amat dibenci dulu, suatu paling dipandang jijik di hari lalunya, berdo’a.

Kuterima pesan singkat profesorku dari tepi Laut Baltik,

“Pepatah kuno kalian, ‘mengharap pipit terbang, merpati di tangan dilepaskan.”
Sekularisme atheis diterapkan di Aceh ba’da prahara seperti Kamal Aththartuk mentalak Islam dalam sistem pemerintahan Turkey hanya agar diakui Eropa. Ulama-ulama tulus Aceh tak mengajak umat membuat revolusi seperti menjatuhkan Syah Iran dan mendirikan negara berusuk Islam.

Ulama-ulama pengecut itu berandil besar membuat Aceh Masa Depan menjadi atheis. Filosof bejat, Snouck Hurgronje dan monyet-monyet hambanya telah berhasil dan bisa menari ballet di liang kubur bersama malaikat buruk rupa diiringi tabuhan gamelan dan simphoni Beethophen.

“Aha! Aceh masa depan hanya dihuni para pecundang, para pewaris bangsa sejati telah syahid di medan juang!” Seorang perempuan bercadar keturunan Lakseumana Keumalahayati berteriak dari sebuah mobil polisi kerajaan yang melintas depanku.

Perempuan bercadar itu dituding mengganggu stabilitas nasional, barusan melarang anak-anak uleebalang istana menari bernyanyi dalam mesjid.

Kuikuti mobil polisi, budak sistem tak manusiawi, itu. Adakah penolong cucu Lakseumana Keumalahayati dari eksekusi di halaman mesjid raya esok pagi? Seperti Meurah Pupok dieksekusi Iskandarmuda. Sama-sama tewas demi keutuhan rajadiraja, yang satu korban perangkap pengintai tahta ayahanda, yang satu korban kepengecutan ulama ba’da prahara.wp
Juni 2008

Thayeb Loh Angen, aktvis kebudayaan, penulis novel Teuntra Atom
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki