Ketua FPI Aceh: Korupsi Maksiat Terbesar

Ketua Front Pembela Islam (FPI) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh, Tgk Muslim Ath-Thahiri, memimpin pengajian KWPSI (Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam), Hari bulan, 5 Maret 2014, di kedai Rumoh Aceh, Jeulingke, Banda Aceh. Foto: Thayeb Loh Angen.
Banda Aceh – Korupsi merupakan kakek buyut (terbesar –red) daripada sekalian maksiat. Kemaksiatan yang dilakukan oleh penguasa lebih berbahaya daripada maksiat apabila dilakukan oleh rakyat biasa.

Demikian kata Ketua Front Pembela Islam (FPI) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh, Tgk Muslim Ath-Thahiri, dalam pengajian KWPSI (Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam), Hari bulan, 5 Maret 2014, di kedai Rumoh Aceh, Jeulingke, Banda Aceh.

“Korupsi adalah maksiat terparah karena dilakukan oleh penjabat. Mulai kini kami akan melakukan nahi mungar dengan pola tebang di batang atau akar, bukan di pucuknya. Kami akan mencegah maksiat yang dilakukan oleh penguasa,” kata lelaki yang juga pimpinan dayah Darul Mujahidin, Blang Mangat, Lhokseumawe ini.

Muslim meminta semua pihak melaksanakan ‘amar ma’ruf dan nahi munkar. Apabila ada data cukup, kata dia, pihaknya akan membawa perkara korupsi ke pengadilan, baik di Aceh atau ke luar Aceh. Kata dia, rakyat harus menghancurkan sumber masalah terparah di Aceh, yaitu korupsi yang dilakukan oleh sebagian penjabat.

“Contoh korupsi, ada uang bantuan aspirasi sebanyak seratus juta, penerima meneken seratus juta, tetapi jumlah yang diterimanya enam puluh juta, dan empat puluh juta lagi untuk penyalur. Walaupun itu untuk mesjid dan siapa saja penerimanya, tetap saja haram. Pemberi dan penerima berdausa,” kata Muslim.tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki